nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

WHO Sebut Corona COVID-19 Bisa Menular Airborne, Asal..

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 31 Maret 2020 16:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 03 31 612 2191911 who-sebut-corona-covid-19-bisa-menular-airborne-asal-h3dQSPBGbk.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BANYAK fakta-fakta yang salah beredar terkait dengan virus corona COVID-19, seperti makan bawang putih dapat mencegah ataupun obat-obat lainnya yang dapat menyembuhkan. Salah satu berita yang juga dianggap salah ada virus corona COVID-19 menyebar lewat udara alias airborne.

Tapi apakah benar virus corona dapat menyebar lewat udara? Penyakit infeksi COVID-19 adalah penyakit infeksi yang menyerang saluran pernafasan, seperti tertera dalam situs resmi WHO, selaku Badan Kesehatan Dunia, WHO menerangkan bahwa infeksi saluran pernafasan ini dapat ditularkan melalui tetesan atau biasa disebut droplets dalam berbagai ukuran.

Misalnya ketika partikel tetesan berdiameter 5-10 micrometer (μm) yang disebut sebagai droplet pernapasan, dan yang berukuran berdiameter kurang dari 5 μm, disebut sebagai nuklei droplet. Sejauh ini, bukti menunjukkan bahwa penyakit virus COVID-19 ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui droplet pernafasan (respiratory droplets) dan jalur kontak.

Penularan droplet terjadi ketika seseorang berada dalam kontak dekat, dalam jarak kurang lebih 1 meter dengan seseorang yang sakit, yakni memiliki gejala pernapasan misalnya, batuk atau bersin.

Penularan juga dapat terjadi melalui fomites atau objek yang kemungkinan jadi pembawa infeksi, di lingkungan sekitar orang yang terinfeksi. Inilah mengapa penularan virus COVID-19 dapat terjadi melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi, dan juga bisa melalui kontak tidak langsung dengan permukaan di lingkungan terdekat atau dengan benda yang digunakan orang terinfeksi, misalnya stetoskop atau termometer.

virus corona

WHO pun menyebut dalam konteks COVID-19, penularan melalui udara memang memungkinkan terjadi, namun dengan catatan dalam situasi atau pengaturan khusus. Situasi atau pengaturan khusus yang dimaksud adalah, ketika melakukan prosedur atau perawatan pendukung yang menghasilkan aerosol.

Contohnya apa saja? Yakni mulai dari prosedur medis seperti intubasi endotrakeal, bronkoskopi, penyedotan terbuka, pemberian pengobatan nebulisasi, ventilasi manual sebelum intubasi, mengubah pasien ke posisi tengkurap, memutus hubungan ventilator pada, ventilasi tekanan positif non-invasif, trakeostomi, dan resusitasi kardiopulmoner.

WHO menyebutkan, dalam New England Journal of Medicine yang dipublikasikan ke publik baru-baru ini, telah dicoba evaluasi dari persistensi virus dari virus COVID-19.

Dalam penelitian eksperimental ini dikatakan, aerosol dihasilkan menggunakan nebulizer tiga jet Collison dan dimasukkan ke dalam drum Goldberg dalam kondisi laboratorium yang terkontrol. Ini adalah mesin berdaya tinggi yang tidak mencerminkan kondisi batuk normal pada manusia.

Penemuan virus COVID-19 dalam partikel aerosol hingga 3 jam, diketahui tidak semata-mata mencerminkan pengaturan klinis di prosedur penghasil aerosol dilakukan yaitu adalah prosedur penghasil aerosol yang diinduksi secara eksperimental.

Dengan bukti yang ada, termasuk publikasi terbaru yang disebutkan di atas. Kesimpulannya ialah, WHO sendiri terus merekomendasikan tindakan pencegahan penularan melalui droplet dan kontak, kepada orang-orang yang merawat pasien COVID-19.

virus corona

WHO juga merekomendasikan untuk terus dilakukannya upaya tindakan pencegahan penularan melalui udara, untuk dalam keadaan dan pengaturan di mana prosedur penghasil aerosol dan perawatan dukungan dilakukan contohnya seperti tindakan yang banyak dilakukan oleh para tenaga medis di rumah sakit.

Pada saat yang sama, negara dan organisasi lain, termasuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa, merekomendasikan tindakan pencegahan melalui udara untuk situasi apapun yang memang melibatkan perawatan pasien COVID-19, dan mempertimbangkan penggunaan masker medis sebagai tindakan yang bisa diterima jika kekurangan respirator seperti N95, FFP2 atau FFP3.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini