nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhat dr Handoko Gunawan Sempat Tak Gunakan APD saat Rawat Pasien Diduga COVID-19

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 02 April 2020 12:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 04 02 481 2192851 curhat-dr-gunawan-sempat-tak-gunakan-apd-saat-rawat-pasien-diduga-covid-19-ATd8z2LFWS.JPG dr Handoko Gunawan (Foto : kitabisacom/Instagram)

Dokter Handoko Gunawan sempat jadi perbincangan publik. Dokter spesialis Paru berusia 79 tahun ini menjadi dokter senior yang merawat pasien COVID-19.

Tapi, tahukah Anda kalau dirinya ternyata pernah merawat pasien diduga COVID-19 tanpa mengenakan alat pelindung diri (APD). Hal ini bukan suatu kecerobohan, melainkan minimnya informasi di awal kasus COVID-19 di Indonesia.

Dalam laporan media Riyadh Daily, ia menangani pasien yang mengeluhkan adanya masalah paru. Hasil rontgen pun menjelaskan adanya ketidakberesan di paru pasien dan ia curiga jika pasien ini terinfeksi COVID-19.

Gambar X-ray menunjukkan apa yang dia gambarkan sebagai bayangan infiltrasi dengan ground-glass opacity di kedua paru-paru, dan pasien juga ternyata berjuang melawan demam tinggi, batuk kering, jumlah sel darah rendah, dan jumlah limfosit rendah.

Namun, rumah sakit tempat Dr Gunawan bekerja bukanlah rumah sakit rujukan COVID-19, jadi dia tidak bisa melakukan tes swab pada pasien. Hingga awal Maret, tes hanya dapat dilakukan di satu laboratorium di Jakarta se-Indonesia.

dr Handoko

(Foto : kitabisacom/Instagram)

Spesialis paru-paru berusia 79 tahun itu mengatakan kepada pasien untuk melakukan tes di tempat lain, tetapi pasien kembali mengatakan bahwa dua rumah sakit rujukan di Jakarta pada saat itu penuh dan bahwa ia hanya diklasifikasikan sebagai seseorang yang "dimonitor" untuk COVID- 19.

Dokter Gunawan terus merawat pasien tanpa alat pelindung diri (APD). "Saya seorang spesialis paru-paru. Itu pekerjaan saya," katanya kepada CNA.

"Saya terus merawat pasien sebanyak yang saya bisa. Tindakan bodoh dan ceroboh jika Anda memikirkannya - itu menular. Tapi dia pasien dan saya terus mengobatinya," katanya.

Beberapa hari kemudian, pasien diketahui meninggal dunia dan dr Gunawan tidak pernah dapat membuktikan bahwa pasien memang tertular virus corona COVID-19 karena tidak dilakukannya tes swab COVID-19 pada si pasien.

Dia kemudian menangani beberapa pasien dengan gejala yang sama. Dia curiga mereka juga terinfeksi tetapi tidak dapat diuji COVID-19 karena kurangnya sumber daya.

Perlu diketahui, pasien COVID-19 tidak diberikan tanda atau cap COVID-19 di tubuhnya sehingga dokter harus tetap menangani pasien, dan setelah beberapa tes, kami menyadari bahwa ini kemungkinan besar COVID. "Tapi mungkin sudah terlambat, kita bisa terinfeksi," katanya.

dr Handoko

Dokter Gunawan sangat menyayangkan, di awal kasus COVID-19 di Indonesia, rumah sakit tidak menyadari bahwa semua pasien harus diperiksa COVID-19 pada saat kedatangan di ruang gawat darurat, oleh karena itu paramedis tidak dilengkapi dengan APD lengkap.

"Pada waktu itu sulit bagi rumah sakit untuk membayangkan bahwa paramedis perlu mengenakan jas hazmat 1 juta rupiah hanya untuk sekali penggunaan," keluhnya.

Ia menambahkan, prosedur yang harusnya diterapkan sekarang adalah untuk setiap penyedia layanan kesehatan di ruang gawat darurat, gunakan APD lengkap!

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini