nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Apa Benar Sinar UVA dan UVB Bisa Bunuh Virus Corona COVID-19?

Jum'at 03 April 2020 06:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 04 02 481 2193268 apa-benar-sinar-uva-dan-uvb-bisa-bunuh-virus-corona-covid-19-3d30dztCG6.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JIKA sinar ultraviolet C (UVC) disebut dapat mematikan virus corona, lalu bagaimana dengan peran sinar utraviolet A (UVA) dan ultraviolet B (UVB)? Aoakah memiliki fungsi yang sama?

Selama ini sinar UVC kerap digunakan sebagai disinfektan benda-benda yang rentan terpapar virus corona. Misalnya saja uang hingga kendaraan seperti bus, seperti di China.

Dilansir Okezone dari BBC Indonesia, sinar UV sendiri ada pada matahari, yang mana seseorang disarankan untuk berjemur setiap pagi. Tahukah Anda? Di negara berkembang, sinar matahari sudah digunakan untuk mensterilkan air, bahkan direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

berjemur

Teknik ini dilakukan dengan menuangkan air ke gelas atau botol plastik bening, dan membiarkannya di bawah sinar matahari selama 6 jam. Cara itu diperkirakan bekerja dengan baik, karena UVA di bawah sinar matahari bereaksi dengan oksigen larut, demi menghasilkan molekul tidak stabil, seperti hidrogen peroksida. Yakni bahan aktif dalam banyak disinfektan rumah tangga, yang dapat merusak patogen.

Tanpa air, sinar matahari masih akan tetap membantu membersihkan permukaan. Tetapi mungkin butuh waktu lebih lama dari yang Anda kira.

Masalahnya adalah kita tidak tahu berapa lama, karena penelitian terkait virus corona baru masih terlalu dini.

Sementara untuk penelitian tentang SARS menemukan bahwa mengekspos virus ke UVA selama 15 menit, tidak berdampak kemampuan virus itu untuk menginfeksi. Namun, penelitian ini tidak melihat paparan yang lebih lama, atau UVB, yang diketahui dapat lebih merusak materi genetik.

Sebaliknya, virus lain mungkin memberikan beberapa petunjuk. Di Brasil, peneliti menemukan bahwa jumlah kasus flu cenderung meningkat selama musim pembakaran. Ketika ada lebih banyak asap di atmosfer dari kebakaran hutan, sinar UV akan terganggu.

Studi lain menemukan bahwa semakin lama partikel flu terpapar sinar matahari, pasti akan semakin terkonsentrasi dan semakin kecil kemungkinannya untuk tetap menular. Sayangnya, penelitian itu mengamati flu yang melayang di udara, bukannya yang sudah mengering pada benda.

Tidak ada yang tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menonaktifkan COVID-19 dengan sinar matahari, atau kekuatan apa yang dibutuhkan.

Selain itu, jumlah UV di bawah sinar matahari bervariasi tergantung pada waktu, cuaca, musim, dan di bagian belahan bumi mana Anda tinggal. Jadi, tidak akan menjadi cara yang dapat diandalkan untuk membunuh virus.

Akhirnya, tak perlu dijelaskan lagi bahwa UV akan menyebabkan kerusakan kulit Anda dan meningkatkan risiko kanker kulit. Begitu virus ada di dalam tubuh Anda, jumlah UV yang Anda dapatkan, tidak akan berdampak pada kondisi tubuh Anda.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini