nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penelitian Terbaru Ungkap Diare Jadi Gejala Awal COVID-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 03 April 2020 10:21 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 04 03 481 2193416 penelitian-terbaru-ungkap-diare-jadi-gejala-awal-covid-19-AJx6xzzYwx.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Diare bisa menjadi gejala pertama seseorang yang terpapar virus corona COVID-19. Penelitian yang diterbitkan dalam The American Journal of Gastroenterology mengatakan gejala diare dialami oleh beberapa pasien COVID-19.

Penelitian tersebut melibatkan 206 pasien di Union Hospital, Tongji Medical College, di Wuhan, China. Di mana virus tersebut pertama kali muncul. Para pasien digolongkan memiliki kasus COVID-19 ringan karena mereka tidak memiliki sesak napas atau gangguan pernapasan.

Selain itu para pasien juga memiliki tingkat saturasi oksigen darah yang relatif tinggi. Para pasien dikirim ke fasilitas kesehatan meskipun gejala penyakit mereka ringan. Alhasil mereka dapat dipantau dan dikarantina selama puncak wabah yang terjadi di Wuhan.

Sebagaimana dirangkum News Week, Jumat (3/4/2020), 48 orang yang terinfeksi COVID-19 ini hanya memiliki gejala pencernaan seperti diare. 69 orang lainnya dengan gejala pencernaan dan pernapasan, sementara 89 lainnya hanya dengan gejala pernapasan.

Sakit Perut

Rata-rata, para pasien, yang tinggal di Wuhan, berusia 62 tahun, dan 55,8 persen adalah perempuan. Di antara 67 orang yang mengalami diare, 19,4 persen menganggapnya sebagai gejala pertama COVID-19.

Sementara pasien lainnya baru muncul diare dalam 10 hari pertama setelah gejala pernapasan. Diare berlangsung antara satu hingga 14 hari. Sebesar 52,2 persen pasien mengatakan tinja mereka berair.

Sementara yang lain mengatakan tinja mereka lunak namun tidak berair. Sakit perut pun juga jarang terjadi dalam kondisi ini. Sekira 62,4 persen pasien dengan gejala pencernaan juga mengalami demam.

Sedangkan 73,1 persen pasien lainnya mengalami diare dan demam secara bersamaan. Dari jumlah tersebut 20,4 persen pasien mengalami gangguan perut sebelum demam. Sebesar 10,2 persen pasien setelah demam, dan yang lainnya merasakan gangguan perut dan demam secara bersamaan.

demam

Mereka yang juga merasa sakit dan merasa mual karena mengalami demam. Kondisi tersebut lebih parah ketimbang pasien yang hanya memiliki gejala pencernaan yang lebih rendah.

Tim peneliti menemukan bahwa pasien yang memiliki gejala pencernaan mungkin akan mencari perawatan lebih lambat daripada mereka yang memiliki masalah pernapasan. Periode antara awal gejala dan tubuh pasien terbebas dari virus juga cenderung lebih lama.

Para pasien juga umumnya lebih banyak yang memiliki virus pada kotoran mereka yakni hingga sebesar 73 persen. Dibandingkan dengan 14,3 persen pasien yang memiliki masalah pernapasan. Para peneliti menguji tinja dari 22 pasien COVID-19.

Hasilnya mereka menemukan RNA, atau materi genetik, dari virus corona baru dalam 12 sampel. Beberapa pasien COVID-19 mungkin mengalami masalah seperti diare karena reseptor yang diikat oleh virus diekspresikan pada tingkat yang hampir 100 kali lipat lebih tinggi.

Masalah tersebut terjadi pada saluran pencernaan bagian atas dan bawah ketimbang pada organ pernapasan. Menurut Universitas Johns Hopkins, hampir 1 juta kasus COVID-19 telah dikonfirmasi di seluruh dunia. Sebanyak 47.522 orang telah meninggal, dan setidaknya 195.929 orang telah pulih.

Sebagian besar studi telah berfokus pada pasien yang sakit parah. Tapi karena 80 persen pasien mengalami penyakit ringan, sangat penting untuk menunjukkan gejala mereka. Alhasil mereka yang sakit ringan dapat dirawat di rumah dan dikarantina sendiri.

Pasien dengan gejala ringan tanpa disadari dapat menyebarkan virus. Pasien dengan gejala ringan ini menjadi pendorong utama pandemi COVID-19.

“Perjalanan penyakit yang lebih lama pada pasien dengan gejala pencernaan mungkin mencerminkan viral load yang lebih tinggi pada pasien ini dibandingkan dengan mereka yang hanya memiliki gejala pernapasan," tulis para penulis.

Tim menyoroti ukuran sampel mereka relatif kecil, sedangkan studi yang lebih besar perlu dilakukan untuk mengeksplorasi gejala pencernaan pada pasien COVID-19 ringan lebih lanjut.

"Studi ini tidak secara langsung mengkonfirmasi bahwa partikel virus dalam tinja adalah infeksius dan mampu menularkan penyakit. Tetapi hasil dari kami menawarkan lebih banyak bukti bahwa COVID-19 dapat hadir dengan gejala pencernaan,” tulis para peneliti.

Selain itu virus COVID-19 juga ditemukan dalam tinja pasien dengan diare. Dan tidak menutup kemungkinan mereka bisa menularkan virus tersebut dalam bentuk tinja. Penelitian lebih lanjut sangat penting untuk menentukan apakah COVID-19 dapat menyebar melalui rute tinja-oral.

Batuk

Menurut CDC, gejala COVID-19 umumnya seperti demam, batuk, dan sesak napas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan risiko COVID-19 dari kotoran orang yang terinfeksi tampaknya rendah.

Sementara penyelidikan awal menunjukkan virus mungkin ada dalam kotoran dalam beberapa kasus. Tapi penyebaran melalui tinja ini bukanlah cara utama dari pandemi COVID-19.

"WHO sedang menilai penelitian yang sedang berlangsung tentang cara COVID-19 menyebar dan akan terus berbagi temuan baru. Tapi karena ini adalah risiko, ini adalah alasan lain untuk membersihkan tangan secara teratur, setelah menggunakan kamar mandi dan sebelum makan,” tulis para peneliti.

Penulis studi lainnya yang melakukan riset pada sembilan pasien COVID-19 di Munich, tidak menemukan bentuk replikasi virus dalam sampel tinja. Hal tersebut terjadi meskipun mereka mengidentifikasi tingkat viral load yang tinggi.

"Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut harus membahas apakah SARS-CoV-2 yang tercecer dalam tinja dibuat tidak menular melalui kontak dengan lingkungan usus," tulis mereka.

Profesor Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat di Cedars-Sinai, Brennan Spiegel mengatakan bahwa gejala utama COVID-19 bukan hanya batuk.

"Jelas kami fokus pada batuk dan gejala pernapasan karena hal itu bisa serius, itu bisa menyebabkan kematian. Jadi wajar jika fokus awal kami adalah pada pasien yang tiba di rumah sakit dengan sesak napas, batuk dan radang paru-paru,” ucapnya.

Sakit Perut

Spiegel mengatakan gejala tersebut adalah manifestasi utama dari penyakit ini. Tapi para dokter mulai belajar dari rekan-rekan mereka di China dan di seluruh dunia. Bahwa ada sekelompok besar orang yang mungkin tidak pernah melaporkan COVID-19 atau berada di rumah dengan gejala pencernaan - diare, mual, muntah, sakit perut.

Ada pula orang yang memiliki nafsu makan rendah dan berjuang untuk menentukan apakah mereka memiliki COVID-19 atau tidak. Spiegel menekankan orang harus, mencoba untuk menjadi higienis. Utamanya saat mereka menggunakan kamar mandi untuk mencegah penyebaran penyakit.

Caranya dengan menutup tutup toilet ketika pembilasan untuk menghentikan partikel yang dikeluarkan ke udara. Profesor Patogenesis Mikroba di London School of Hygiene dan Tropical Medicine, Brendan Wren mengatakan.

"Ada banyak sumber potensial gejala gastrointestinal yang mungkin tidak terkait dengan COVID-19. Memang, faktanya bahwa pasien COVID-19 mungkin menunjukkan kebersihan yang buruk dan koinfeksi dengan patogen gastrointestinal lainnya,” ucap Wren.

Yang paling menarik dalam penelitian ini adalah demonstrasi pelepasan langsung virus SARS-Cov-2 dari kotoran pasien. Cara tersebut dinilai bisa menimbulkan penularan COVID-19 selain dari transfer pernapasan.

Profesor Genomik Virus di Universitas Edinburgh di Skotlandia, dr. Jurgen Haas mengatakan bahwa ia dan rekan-rekannya telah meninjau penelitian ilmiah itu dan memberikan kesimpulan.

"Implikasinya cukup mengejutkan, kami pikir ini adalah penelitian yang penting. Diketahui bahwa persentase tertentu dari pasien COVID-19 mengalami gejala diare dan gastrointestinal, selain gejala pernapasan. Kami juga mengetahui hal ini dari beberapa coronavirus flu biasa lainnya dan misalnya dari Influenza,” ucapnya.

Hal yang baru adalah subkelompok pasien COVID-19 tanpa gejala pernapasan atau tidak parah memiliki kemungkinan tinggi untuk mengalami positif virus SARS-CoV2 dalam tinja. Orang yang terinfeksi viru dapat menyebarkannya melalui transmisi fecal-oral.

Subkelompok ini memiliki awal penyakit, tetapi mereka mengandung dan menyebarkan virus untuk jangka waktu yang lebih lama. Infeksi saluran cerna dan penyebaran fecal-oral jauh lebih penting pada COVID-19 daripada yang diduga sebelumnya.

Haas mengatakan dia dan rekan epidemiolognya yang juga meninjau penelitian mengatakan ada kelemahan kecil seperti ketidakseimbangan dalam variabel. Misalnya dalam jenis kelamin, usia, dan gejala yang mungkin bias dalam beberapa temuan.

Jangan Sentuh Wajah

Haas rekomendasikan untuk sering mencuci tangan, menggunakan pembersih tangan dan tidak menyentuh wajah dengan tangan yang kotor. Ada beberapa virus lain (seperti Noro, Rota- dan Adenoviruses) yang dapat menyebabkan diare.

Sementara SARS -CoV-2 hanya salah satu dari banyak virus tersebut dan kemungkinan besar kemunculannya tidak sesering yang lain.

"Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa orang dengan diare atau tanpa sistem pernapasan yang telah melakukan kontak dengan pasien COVID-19, sudah pasti harus dites,” tuntas Haas.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini