Penelitian Terbaru Ungkap Diare Jadi Gejala Awal COVID-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 03 April 2020 10:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 03 481 2193416 penelitian-terbaru-ungkap-diare-jadi-gejala-awal-covid-19-AJx6xzzYwx.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Tim menyoroti ukuran sampel mereka relatif kecil, sedangkan studi yang lebih besar perlu dilakukan untuk mengeksplorasi gejala pencernaan pada pasien COVID-19 ringan lebih lanjut.

"Studi ini tidak secara langsung mengkonfirmasi bahwa partikel virus dalam tinja adalah infeksius dan mampu menularkan penyakit. Tetapi hasil dari kami menawarkan lebih banyak bukti bahwa COVID-19 dapat hadir dengan gejala pencernaan,” tulis para peneliti.

Selain itu virus COVID-19 juga ditemukan dalam tinja pasien dengan diare. Dan tidak menutup kemungkinan mereka bisa menularkan virus tersebut dalam bentuk tinja. Penelitian lebih lanjut sangat penting untuk menentukan apakah COVID-19 dapat menyebar melalui rute tinja-oral.

Batuk

Menurut CDC, gejala COVID-19 umumnya seperti demam, batuk, dan sesak napas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan risiko COVID-19 dari kotoran orang yang terinfeksi tampaknya rendah.

Sementara penyelidikan awal menunjukkan virus mungkin ada dalam kotoran dalam beberapa kasus. Tapi penyebaran melalui tinja ini bukanlah cara utama dari pandemi COVID-19.

"WHO sedang menilai penelitian yang sedang berlangsung tentang cara COVID-19 menyebar dan akan terus berbagi temuan baru. Tapi karena ini adalah risiko, ini adalah alasan lain untuk membersihkan tangan secara teratur, setelah menggunakan kamar mandi dan sebelum makan,” tulis para peneliti.

Penulis studi lainnya yang melakukan riset pada sembilan pasien COVID-19 di Munich, tidak menemukan bentuk replikasi virus dalam sampel tinja. Hal tersebut terjadi meskipun mereka mengidentifikasi tingkat viral load yang tinggi.

"Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut harus membahas apakah SARS-CoV-2 yang tercecer dalam tinja dibuat tidak menular melalui kontak dengan lingkungan usus," tulis mereka.

Profesor Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat di Cedars-Sinai, Brennan Spiegel mengatakan bahwa gejala utama COVID-19 bukan hanya batuk.

"Jelas kami fokus pada batuk dan gejala pernapasan karena hal itu bisa serius, itu bisa menyebabkan kematian. Jadi wajar jika fokus awal kami adalah pada pasien yang tiba di rumah sakit dengan sesak napas, batuk dan radang paru-paru,” ucapnya.

Sakit Perut

Spiegel mengatakan gejala tersebut adalah manifestasi utama dari penyakit ini. Tapi para dokter mulai belajar dari rekan-rekan mereka di China dan di seluruh dunia. Bahwa ada sekelompok besar orang yang mungkin tidak pernah melaporkan COVID-19 atau berada di rumah dengan gejala pencernaan - diare, mual, muntah, sakit perut.

Ada pula orang yang memiliki nafsu makan rendah dan berjuang untuk menentukan apakah mereka memiliki COVID-19 atau tidak. Spiegel menekankan orang harus, mencoba untuk menjadi higienis. Utamanya saat mereka menggunakan kamar mandi untuk mencegah penyebaran penyakit.

Caranya dengan menutup tutup toilet ketika pembilasan untuk menghentikan partikel yang dikeluarkan ke udara. Profesor Patogenesis Mikroba di London School of Hygiene dan Tropical Medicine, Brendan Wren mengatakan.

"Ada banyak sumber potensial gejala gastrointestinal yang mungkin tidak terkait dengan COVID-19. Memang, faktanya bahwa pasien COVID-19 mungkin menunjukkan kebersihan yang buruk dan koinfeksi dengan patogen gastrointestinal lainnya,” ucap Wren.

Yang paling menarik dalam penelitian ini adalah demonstrasi pelepasan langsung virus SARS-Cov-2 dari kotoran pasien. Cara tersebut dinilai bisa menimbulkan penularan COVID-19 selain dari transfer pernapasan.

Profesor Genomik Virus di Universitas Edinburgh di Skotlandia, dr. Jurgen Haas mengatakan bahwa ia dan rekan-rekannya telah meninjau penelitian ilmiah itu dan memberikan kesimpulan.

"Implikasinya cukup mengejutkan, kami pikir ini adalah penelitian yang penting. Diketahui bahwa persentase tertentu dari pasien COVID-19 mengalami gejala diare dan gastrointestinal, selain gejala pernapasan. Kami juga mengetahui hal ini dari beberapa coronavirus flu biasa lainnya dan misalnya dari Influenza,” ucapnya.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini