nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Zizah Kesulitan Beli Masker di Tengah Pandemi COVID-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 06 April 2020 07:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 04 06 612 2194650 kisah-zizah-kesulitan-beli-masker-di-tengah-pandemi-covid-19-EbpA3NQaqG.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Pandemi virus corona COVID-19 membuat masker menjadi barang yang sangat langka. Salah satu sekian banyak orang yang kesulitan mencari masker medis adalah Zizah.

Zizah yang bekerja sebagai salah satu karyawan swasta kala itu masih belum menerapkan sistem work from home (WFH). Alhasil masker adalah salah satu alat yang bisa menjaganya agar tidak terinfeksi COVID-19.

Sayangnya kelangkaan masker membuat Zizah kesulitan dalam mencari barang tersebut. Terlebih Zizah sedang dalam kondisi yang tidak sehat yakni terserang flu dan batuk. Tanpa masker, Zizah bisa mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat.

“Kan karena sakit, makanya harus pakai masker. Posisinya udah nyari masker di apotek, minimarket, sampai keliling-keliling di sekitar rumah tapi tetap nggak ada,” ujar Zizah kepada Okezone.

Masker

Sebenarnya Zizah bisa saja mendapatkan masker dengan alternatif lain yakni dari penjual eceran. Tapi Zizah tidak mau melakukannya karena masker tersebut terlihat tidak higienis karena telah dipegang-pegang oleh sang penjualnya.

“Akhirnya cari di toko online. Tapi beberapa marketplace udah pada habis. Setelah cari-cari akhirnya ada salah satu website yang menjual. Sayangnya website tersebut ada pembatasan satu customer satu pak masker,” lanjutnya.

Zizah mengatakan selain adanya pembatasan pembelian. Website tersebut juga memberlakukan pembatasan minimun pembelanjaan. Minimum pembelanjaan yang ditetapkan adalah Rp75 ribu supaya bisa mendapatkan gratis ongkos kirim.

“Kalau tidak sampai Rp75 ribu, harga masker dan ongkos kirimnya mahal. Jadi sambil beli sabun-sabunan, perlatan mandi, pembalut, viramin biar pas Rp75 ribu,” sambungnya.

Zizah mengatakan beberapa situs jual beli online menjual harga masker dengan harga yang sudah naik berkali-kali lipat dari harga aslinya. Ia mengatakan kenaikan harga masker bisa naik secara signifikan hingga lima kali lipat.

“Waktu beli secara online, nunggu maskernya datang sampai seminggu. Awalnya dikira sehari dua hari sudah sampai, karena hanya mengirim barang kecil berupa masker,” cetusnya.

Kelangkaan masker rupanya juga dirasakan Zizah sampai ke tahap rumah sakit. Ia mengaku sempat berobat menuju rumah sakit. Karena batuk, gadis berhijab ini pun memutuskan untuk membeli masker di apotek. Tapi sayang sang penjaga pun menolak untuk menjualnya.

“Awalnya tidak boleh. Tapi setelah tahu sakit batuk, jadi dibolehkan membeli masker. Tapi itu pun hanya dua lembar dengan harga Rp1 ribu per lembarnya. Tapi pasien lain yang hendak membeli masker tetap tidak diperbolehkan,” tuntas Zizah.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini