nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tak Selalu Berpikir Positif saat di Rumah, Psikolog: Itu Wajar dan Normal

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 07 April 2020 19:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 04 07 196 2195641 tak-selalu-berpikir-positif-saat-di-rumah-psikolog-itu-wajar-dan-normal-VZOnAIQ0r9.jpg Ilustrasi (Foto : Healthline)

Kurang lebih sudah tiga pekan sudah sebagian besar masyarakat Indonesia, menjalani isolasi mandiri dengan bekerja, belajar, dan beribadah di rumah masing-masing.

Imbauan untuk tetap di rumah aja, memang nyatanya mengubah ritme kehidupan dan aktivitas keseharian sebagian besar masyarakat.

Di pekan pertama, mungkin rata-rata orang bisa bernafas lega bisa bekerja dan beraktivitas yang lainnya di rumah. Bisa lebih sedikit agak santai, menghemat tenaga karena tak perlu bermacet-macetan di jalan, hingga merasa memiliki waktu berkualitas lebih banyak dengan keluarga daripada biasanya.

Tapi memasuki pekan kedua lalu lanjut pekan ketiga seperti saat ini, mulai timbul rasa bosan, jenuh, bingung, kesal, hingga marah. Entah itu terhadap keadaan, lingkungan, diri sendiri, ataupun orang lain.

Cemas

Kemudian jadi pertanyaan, apakah boleh untuk tidak harus selalu stay positif seperti yang banyak dianjurkan di tengah situasi seperti sekarang? Apakah wajar jika merasa bingung, cemas, bahkan emosi tinggi di kondisi saat sedang mengisolasi diri dengan di rumah seperti saat ini?

Bertanya kepada psikolog Silvany Dianita, M.Psi, psikolog muda yang biasa praktek di Rumah Sakit Gandaria, Jakarta Selatan ini menerangkan semua respon emosi seperti merasa kesal, jenuh, hingga marah adalah sesuatu yang wajar. Mengingat kondisi yang dihadapi sekarang adalah kondisi yang penuh dengan ketidakpastian.

“Reaksi awal kita merasa jenuh, kesal, marah itu adalah respon yang wajar. Boleh-boleh saja, kenapa boleh? Karena ini reaksi dalam kehidupan manusia yang enggak selalu sempurna. Dirasakan semua orang di dunia di semua lapis kalangan, semua profesi. Kebiasaan yang sebelumnya enggak seperti ini,” terang Silva, saat dihubungi Okezone baru-baru ini melalui sambungan telefon.

Senada dengan penjelasan Silva, psikolog dewasa, Zarra Dwi Monica, M.Psi juga sepakat bahwa reaksi-reaksi yang disebutkan di atas memang seringkali muncul pada banyak orang di saat situasi darurat seperti sekarang.

“Kondisi seperti sekarang, reaksi psikologis kayak cemas sama diri sendiri atau orang terdekat bisa tertular, bosan dikarantina, sedih, sampai berpikir negatif terhadap diri dan lingkungan itu memang seringkali muncul. Dianggap normal untuk kondisi saat ini, karena aktivitas kita berubah, kita diintai 'bahaya' yang tidak terlihat, ditambah masifnya pemberitaan mengenai COVID-19 ini,” ujar Zarra.

Meskipun rasa kesal, marah, bingung, takut dan cemas hingga sering marah dinilai sebagai reaksi yang wajar dialami orang-orang di situasi seperti sekarang. Bukan berarti reaksi ini boleh dibiarkan terus menerus terjadi dan berlarut-larut.

Justru, respon-respon tersebut harus dikelola dengan baik agar tidak berkembang menjadi “bola salju” yang semakin besar. Jangan salah, jika dibiarkan bisa berkembang menjadi pemicu depresi loh!

“Reaksi psikologis ini kalau tidak diatasi memang dapat mengakibatkan gangguan cemas, depresi, panik, bahkan sampai keinginan untuk menyakiti diri sendiri di kemudian hari,” tambah Zarra.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Silvany, setelah melewati tahapan merasakan respon atau reaksi-reaksi tersebut. Maka yang perlu dilakukan sekarang ialah memutar otak, untuk bagaimana caranya bisa bertahan di situasi yang tidak pasti seperti sekarang.

Silvany mencontohkan, ia pribadi menerapkan cara pembatasan informasi. Setelah merasa telah mendapatkan informasi valid yang dibutuhkan. Selanjutnya ialah menyerap lebih banyak pengetahuan yang lebih positif, ketimbang yang negatif baru kemudian dicari tahu apa solusi yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak negatif yang ada.

“Beri waktu diri sendiri untuk rehat dari informasi, sekarang tantangannya gimana untuk survive. Saya pribadi caranya, ngumpulin informasi yang benar, setelah semua informasi yang valid ada sisi positifnya kita kumpulin, lihat juga dampak negatifnya. Setelah itu, cari tahu apa solusinya. Ini yang perlu kita kelola, kenapa? Karena pandemi ini membuat stigma-stigma yang bikin kita ketakutan sendiri,” pungkasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini