nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Derita Jomblo saat Pandemi COVID-19, Kesepian dan Gampang Lapar

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 07 April 2020 21:26 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 04 07 196 2195730 derita-jomblo-saat-pandemi-covid-19-kesepian-dan-gampang-lapar-yVHq7fupIP.jpg Ilustrasi (Foto : Medicalnewstoday)

Efek pandemi COVID-19, sebagian dari kita mesti di rumah aja. Isolasi diri selama penularan virus corona COVID-19 masih terus bergerak menjadi solusi yang dianggap efektif bagi pemerintah.

Tapi, isolasi diri atau di rumah aja bagi para jomblo, khususnya mereka yang hidup sendiri jauh dari keluarga, ternyata memberi dampak lain. Kontak sosial secara langsung yang terbatas menciptakan kondisi yang disebut dengan 'hungry brain'.

Lantas, apa kondisi tersebut dan berbahayakah untuk kesehatan mental para jomblo?

Menurut laporan New York Post, peneliti Nationwide menjelaskan, sebanyak 53 persen masyarakat Amerika yang diisolasi adalah kelompok masyarakat hidup sendiri pun keluarga tanpa anak. Kelompok ini dianggap rentan mengalami masalah gangguan kesehatan mental.

Sementara itu, penelitian baru yang dilakukan para ahli dari Massachusetts Institute of Technology yang disponsori BioRxiv menunjukan bahwa kesepian dan kelaparan selama isolasi sendiri memicu pusat otak memunculkan perasaan hasrat dan keinginan dasar mereka.

Masker

"Penelitian ini melihat bahwa kesepian akan hubungan sosial dengan masyarakat serupa dengan kelaparan untuk makan," kata peneliti.

Di lain sisi, Ahli Saraf Livia Tomova, Rebecca Saxe, dan tim melakukan uji coba demi membuktikan penelitian sebelumnya tersebut. Kesepian diciptakan dengan mengurung koresponden selama 10 jam tanpa interaksi sosial, termasuk di dalamnya tanpa ponsel, tanpa buku.

Setelah penelitian dilakukan 10 jam, korespon dicek kesehatan otaknya dengan indikator tertentu. Hasilnya diketahui bahwa kesepian yang dialami koresponden taki bisa hanya diatasi dengan hiburan yang tersedia. Mereka butuh interaksi sosial.

Terkait dengan perasan lapar untuk makan, ini terjadi korelasi yang sejalan. Jadi, setelah 'pengurungan', koresponden merindukan makan juga. "Kontak sosial manusia itu adalah kebutuhan mendasar yang ternyata tak bisa dihilangkan," kata peneliti.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini