Benarkah Makin Banyak Orang Julid Gara-Gara PSBB?

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 13 April 2020 20:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 13 196 2198596 benarkah-makin-banyak-orang-julid-gara-gara-psbb-MQ8RhcIVt1.jpg Ilustrasi. (Foto: Econsultancy)

ATURAN Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran corona COVID-19 membuat banyak orang menghabiskan waktu di rumah saja. Tentu semakin banyak dampak kesehatan mental yang dialami masyarakat, termasuk kebiasaan julid. Apa benar begitu?

Ya, DKI Jakarta sudah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak Jumat 10 April 2020 lalu. Kini, Provinsi Jawa Barat pada Rabu 15 April 2020 mendatang juga bersiap menerapkan PSBB.

wfh

Dengan aturan PSBB yang ditetapkan, gerak-gerik masyarakat umum semakin dibatasi. Aktivitas yang tidak perlu ditiadakan, masyarakat hanya bisa keluar rumah dalam keadaan darurat. Misalnya hanya ke supermarket, apotek, atau para pegawai yang bekerja di bidang industri yang masuk dalam daftar sektor industri pengecualian di PSBB.

Ini artinya semakin banyak orang menghabiskan waktunya dengan berada di rumah. Nah, apakah dengan semakin banyaknya waktu luang yang dihabiskan di rumah, bisa memicu membuat netizen semakin sering menuliskan komentar negatif alias julid di media sosial ya? Karena tak jarang orang punya banyak waktu luang memegang ponsel dan berselancar di media sosial.

Menjawab pertanyaan di atas, Psikolog Zarra Dwi Monica, MPsi menyebutkan, sebetulnya korelasi langsung antara dengan banyak waktu di rumah bisa picu orang jadi berkomentar negatif di media sosial, tidak bisa dipastikan langsung. Tapi psikolog muda tersebut tak menampik bahwa peluang terjadinya hal tersebut, memang ada.

“Sebenarnya korelasinya enggak bisa dipastikan dan enggak bersifat langsung gitu. Bukan berarti karena lagi PSBB sama dengan orang makin julid, karena balik lagi tergantung orangnya yang pasti. Sifatnya enggak langsung, bisa dikatakan tapi tidak menutup kemungkinan memang bisa terjadi,” terang Zarra, saat dihubungi Okezone, Senin (13/4/2020).

Pandemi corona COVID-19 yang belum bisa dipastikan kapan akan berakhir, juga menempatkan semua orang di situasi penuh ketidakpastian. Situasi seperti ini juga memaksa semua orang mengalami perubahan aktivitas. Sehingga kondisi ini membuat orang jadi lebih rentan merasa stres.

Namun adanya perubahan ritme hidup, perubahan aktivitas, dan kondisi wabah yang belum berakhir, bukan menjadi alasan setiap orang tidak bisa mengendalikan rasa stres dan emosinya.

“Kita perlu memahami, PSBB sudah pasti banyak perubahan aktivitas. orang secara umum jadi lebih banyak waktu di rumah. Enggak sedikit yang jadinya lebih banyak main hp saja," tambah Zarra.

"Perubahan ditambah kondisi wabah yang belum berakhir ini, memang orang jadi lebih rentan stres. Tapi balik lagi, tergantung tiap orang melepaskan stresnya. Mau cara positif dan negatif yang bisa merugikan orang lain,” katanya lagi,

Daripada berkomentar negatif atau julid kepada orang lain, yang dampaknya tidak pernah diketahui secara, Zarra menyarankan, lebih baik menyalurkan emosi negatif yang dimiliki dengan menuliskannya di jurnal pribadi. Dengan cara ini, emosi negatif yang ada bisa dikeluarkan namun tetap tanpa perlu menyakiti perasaan orang lain.

“Daripada julid atau marah-marah, kita bisa tulis di jurnal emosi negatif yang kita miliki, bisa juga loh kita remas-remas kertas sampai perasaannya agak reda," terangnya.

Di kondisi wabah yang sudah berat, kata dia, jangan ditambah lagi dengan komentar julid. "Sekarang tentu lebih baik kalau saling mendukung ya daripada julid-menjulid,” tegas Zarra.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini