Wasiat Pasien COVID-19 Ini Bikin Perawat Menangis

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 13 April 2020 09:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 13 612 2198215 wasiat-pasien-covid-19-ini-bikin-perawat-menangis-x02IxlwXfN.jpg Perawat Derrick Smith (Foto: CNN)

Momen tak akan pernah terlupakan bagi tenaga medis adalah menemani pasien di ujung napasnya. Ia bakal melihat bagaimana proses tubuh mulai tak berfungsi dan akhirnya meninggal dunia.

Itu juga yang baru dialami Derrick Smith, perawat anestesi di salah satu rumah sakit Amerika Serikat. Ia bertugas menangani pasien COVID-19 di ruang ventilator dan belum lama ini dia mendapatkan pengalaman yang luar biasa.

Menurut laporan CNN, Smith menjaga seorang pasien COVID-19 berjenis kelamin laki-laki dan berada di sampingnya sesaat sebelum meninggal. Di momen itu, ia mendapat semacam kalimat wasiat yang diucapkan pasien tersebut.

"Siapa yang bakal membayar semua perawatan ini?" ungkap si pasien. Smith yang mendengar perkataan itu hanya bisa terdiam. Ia tak bisa menjawab apa-apa dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan sampai akhirnya si pasien benar-benar tak bernyawa di sampingnya.

Kisah Perawat

Smith menjelaskan, kalimat wasiat pasien COVID-19 tersebut merupakan fakta miris yang banyak dialami pasien lain. Mereka dihadapkan pada pembiayaan yang sangat malah dan beberapa di antara mereka tak mampu membayarnya.

"Itu adalah kata-kata terakhir yang tidak akan pernah saya lupakan," kata Smith kepada CNN.

Smith menyebut pengalaman ini sebagai hal terburuk yang ia alami selama menjadi dokter anestesi 12 tahun lamanya. Pasien kritis tetap memikirkan biaya perawatan dirinya, bukan tenang dan fokus ke kesembuhan dirinya.

"Aku sangat sedih dan jujur, sedikit ngeri. Ini menunjukkan bahwa kita memiliki kegagalan besar ketika kita harus khawatir tentang keuangan mereka ketika mereka sedang berhadapan dengan masalah yang jauh lebih besar yang berkaitan dengan hidup atau mati," lirih Smith.

Jadi, dapat dikatakan, pasien COVID-19 tidak hanya mendapat cobaan dari penyakit yang dia alami, tetapi mereka juga harus menghadapi masalah keuangan yang tak bisa mereka elakkan.

Bicara mengenai detial kejadian, dalam kesulitan pernafasan yang parah dan kesulitan berbicara, tutur Smith, pasien ini dipaksa untuk memikirkan pembiayaan rumah sakit selama perawatan COVID-19 yang dia dapatkan.

Mengetahui bahwa pasien kemungkinan besar tidak akan pulih setelah dia diintubasi, Smith dan rekan-rekannya memanggil istri pria itu untuk memberi kesempatan pada sang istri untuk mengucapkan selamat tinggal.

Perlu diketahui, kebanyakan pasien COVID-19 akan meninggal setelah ditempatkan di ventilator, dengan tingkat kematian mencapai hingga 80% pada pasien coronavirus yang diintubasi.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini