Kehilangan Fungsi Indra Penciuman Jadi Gejala Awal COVID-19?

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 15 April 2020 07:54 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 15 481 2199340 kehilangan-fungsi-indra-penciuman-jadi-gejala-awal-covid-19-Qa7JkMlsLM.jpg Ilustrasi (Foto : Metro.co.uk)

Kebanyakan orang merasa kehilangan indra penciumannya saat sedang flu. Namun, kali ini kehilangan indra penciuman bisa menjadi gejala penyakit lain.

Claire Hopkins, profesor rhinologi di King's College London dan sekaligus konsultan ahli bedah telinga, hidung dan tenggorokan, mengatakan ada bukti yang berkembang bahwa kehilangan fungsi indera penciuman atau anosmia merupakan salah satu gejala COVID-19.

Biasanya, orang yang sakit flu mengalami anosmia karena hidung yang tersumbat dan pengap. Tapi Claire menjelaskan gejala ini dia perhatikan terjadi pada empat orang pasien COVID-19 yang masih muda dan sehat, serta tanpa mengalami gejala lainnya.

Keyakinan Claire bertambah dengan adanya angka kejadian tinggi anosmia di lingkup para dokter garda terdepan yang bertugas di Italia. Dari sinilah muncul spekulasi, ketika hidung terasa tak bisa lagi mencium bau atau aroma, mungkin merupakan tanda infeksi COVID-19 asimtomatik (tidak memberikan gejala klinis).

Flu

Menurut Claire jika kehilangan fungsi indra penciuman dimasukkan sebagai salah satu gejala COVID-19, mungkin bisa mengurangi risiko penularan yang lebih meluas.

"Saya pikir, jika kita dapat memasukkan hilangnya indra penciuman sebagai salah satu gejala, maka itu bisa jadi alasan orang untuk mengisolasi diri. Kita mungkin benar-benar mengurangi risiko penularan selanjutnya," ujar Claire, seperti dikutip Menshealth, Rabu (15/4/2020).

Karena itu, para peneliti di Kings College London telah berhasil mengembangkan sebuah aplikasi yang disebut COVID-19 Symptom Tracker. Aplikasi ini digunakan warga negara Inggris untuk mendokumentasikan pengalaman tentang virus corona.

Claire mengatakan tujuan dari adanya aplikasi ini supaya bisa mempelajari lebih lanjut tentang timbulnya infeksi COVID-19. Selain itu, tujuan adanya aplikasi ini untuk mengidentifikasi gejala mana yang terjadi pada tahap penyakit.

Setelah melakukan penelitian, pekan ini tim aplikasi merilis pernyataan resmi bahwa kehilangan fungsi indra penciuman adalah gejala terkuat untuk bisa memprediksi apakah orang tersebut terinfeksi virus corona.

Tim Kings College London menemukan sekira 60 persen pasien yang dites positif telah kehilangan indra penciumannya. Sementara pada orang yang hasil tesnya negatif, hanya 18 persen yang memiliki gejala anosmia.

Karena itu, Claire menyimpulkan siapapun yang mengalami kehilangan indra penciuman, maka harus mengisolasi diri dan segera melakukan tes COVID-19. Sayangnya, belum ditemukan timeline waktu yang tepat dan pasti anosmia bisa terjadi.

Di satu pasien bisa terjadi duluan sebelum disusul oleh gejala lainnya. Sedangkan pada pasien lainnya bisa terjadi di sekira waktu yang sama dengan gejala lainnya. Begitu juga di beberapa pasien, kehilangan indera penciuman dialami setelah gejala COVID-19 lainnya muncul.

Kehilangan kemampuan mencium aroma yang terjadi saat sakit flu biasa ini berbeda, sebagian besar pasien COVID-19 disebutkan tidak mengalami penyumbatan. Tetapi pada pasien COVID-19, bagian resepstor jadi salah satu bagian tubuh yang dirusak oleh virus.

"Virus corona dapat merusak saraf dan kemudian berjalan di sepanjang saraf penciuman lalu ke bagian olfactory bulb. Sekarang untungnya, saraf penciuman memiliki kemampuan untuk pulih. Itulah sebabnya mereka digunakan dalam penelitian untuk cedera tulang belakang, sehingga dapat beregenerasi dan indra penciuman bisa kembali," pungkas Claire.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini