Klarifikasi Arnold Putra Setelah Tas Tulang Manusia Karyanya Dikecam

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 16 April 2020 11:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 16 194 2199978 klarifikasi-arnold-putra-setelah-tas-tulang-manusia-karyanya-dikecam-oLctIq9tRS.jpg Tas tulang manusia karya Arnold Putra (Foto : Insider)

Publik dikejutkan dengan munculnya tas tangan dari tulang manusia dan lidah buaya. Tas tersebut merupakan hasil karya cipta desainer Indonesia bernama Arnold Putra.

Tas yang terbuat dari tulang manusia itu dijual dengan harga $5000 atau sekitar Rp78,6 juta. Hanya ada satu barang di seluruh dunia, sehingga barang ini biasa disebut dengan barang 'one-off piece by designer'. Barang ini dijual pada 2016.

Kemunculan kembali kabar ini langsung memicu kemarahan luar biasa. Di Instagram @byarnoldputra, dijelaskan bahwa tas tangan itu terbuat dari tulang belakang seorang anak yang mengalami penyakit osteoporosis. Tidak hanya terbuat dari tulang manusia, tas tangan tersebut dibuat dari lidah buaya.

"Alligator tongue basket bag. Handle made of an entire child's spine who had osteoporosis. Collection: Amitayus, Made in Los Angeles," tulis Arnold Putra di unggahan foto yang dibagikan pada 26 September 2016.

Pada Insider, Arnold Putra menjelaskan bahwa dirinya tidak sepenuhnya mencipta karya tersebut, ia hanya berkontribusi dalam pembuatan tas yang terbuat dari tulang manusia tersebut.

Di sisi lain, ahli osteopati anak membenarkan bahwa itu memang tulang belakang, namun tak bisa menjamin apakah itu memang tulang seorang anak atau bukan.

Netizen pun murka dengan perbuatan Arnold ini. "Bagaimana bisa, apakah ini pola pikir yang benar dengan menggunakan tulang punggung anak untuk dijadikan sebuah tas?" ungkap seorang netizen.

Menurut laporan New York Post, Arnold mendapati tulang tersebut dari sumber medis yang terpercaya di Kanada. Ia menjamin mendapatkan tulang manusia tersebut dari sumber yang benar, di mana sumber itu memang menerima spesimen manusia yang disumbangkan untuk sains dan kadang menjualnya sebagai surplus.

Sementara itu, laporan National Geographic memberi kabar bahwa penjualan organ tubuh manusia itu legal di beberapa negara bagian Amerika Serikat, termasuk di Kanada.

Menangapi kritik yang kini tengah menghujani dirinya, Arnold Putra memandang wajar kritik tersebut. Menurutnya, kritik adalah bagian dari proses belajar.

"Ini bagian dari proses kreatif yang melibatkan sisi 'oposisi'. Kalau karya hanya begitu-begitu saja, itu bakal jadi karya yang berulang," tegasnya pada Insider.

Arnold pun menambahkan, dirinya tak akan berubah pikiran dan bakal terus mencari ide-ide lain. "Saya akan terus mengamini ide yang saya miliki yang sering berubah dalam hal subjektivitasnya," tambah Arnold Putra.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini