Remdesivir Bisa Sembuhkan Pasien Virus Corona dalam Sepekan?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 18 April 2020 10:28 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 18 481 2201168 remdesivir-bisa-sembuhkan-pasien-virus-corona-dalam-sepekan-oSQkaFeDpa.jpg Ilustrasi. Foto: Shutterstock

PASIEN virus corona (COVID-19) yang mendapatkan obat eksperimen remdesivir dikabarkan berhasil pulih secara cepat. Sebagian besar pulang dari rumah sakit beberapa hari ke depan.

Para pasien yang mengambil bagian dalam uji klinis obat remdesivir semuanya memiliki gejala pernapasan dan demam yang parah. Namun semua pasien dapat meninggalkan rumah sakit setelah kurang dari satu minggu perawatan.

Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Menular di University of Chichago yang memimpin uji coba, dr. Kathleen Mullane. "Berita terbaiknya adalah sebagian besar pasien sudah keluar dan ini luar biasa. Kami hanya memiliki dua pasien yang meninggal," ujar dr. Kathleen

Meski demikian, University of Chicago menyatakan penyataan Mullane merupakan informasi parsial. Oleh sebab itu, tidak seharusnya ia mudah memberikan komentar kepada awak media.

"Sebagian data dari uji klinis yang sedang berlangsung, secara definisi tidak lengkap dan tidak boleh digunakan untuk menarik kesimpulan tentang keamanan atau keefektifan pengobatan potensial yang sedang diselidiki."

Dalam hal ini, informasi dari forum internal untuk rekan-rekan peneliti tentang pekerjaan yang sedang berjalan, dirilis tanpa izin. Menarik kesimpulan soal apa pun pada saat ini terlalu cepat dan secara ilmiah tidak sehat.

Sekarang tidak ada terapi yang disetujui untuk COVID-19, yang dapat menyebabkan pneumonia berat dan sindrom gangguan pernapasan akut pada beberapa pasien.

Tapi National Institutes of Health menyelenggarakan uji coba beberapa obat dan perawatan lain, di antaranya adalah remdesivir.

Melansir dari CNN, Sabtu (18/4/2020), obat yang dibuat oleh Gilead Sciences ini diuji terhadap Ebola dengan sedikit keberhasilan. Tetapi beberapa penelitian pada hewan menunjukkan obat itu dapat mencegah dan mengobati virus corona.

Beberapa penyakit pernapasan lainnya seperti SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) juga dikaitkan dengan obat tersebut.

Pada Februari, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan remdesivir menunjukkan potensi terhadap COVID-19. Media lokal mengatakan mereka memperoleh dan melihat salinan diskusi video yang dilakukan Mullane pekan lalu dengan rekan-rekan penelitinya.

"Sebagian besar pasien kami dalam kondisi parah dan sebagian besar dari mereka akan pergi meninggalkan rumah sakit enam hari kemudian. Sehingga ini memberi tahu kami durasi terapi tidak harus 10 hari," kutip media loka STAT.

Tapi, uji coba ini tidak memasukkan apa yang dikenal sebagai kelompok kontrol. Sehingga akan sulit untuk mengatakan apakah obat tersebut benar-benar dapat membantu pasien pulih lebih baik.

Dengan kelompok kontrol, beberapa pasien tidak menerima obat yang sedang diuji sehingga dokter dapat menentukan apakah obat itu benar-benar mempengaruhi kondisi mereka. Uji coba obat juga sedang berlangsung di puluhan pusat klinis lainnya.

Gilead mensponsori tes obat pada 2.400 pasien dengan gejala COVID-19 yang parah di 152 lokasi percobaan di seluruh dunia. Mereka juga menguji obat pada 1.600 pasien dengan gejala sedang di 169 rumah sakit dan klinik di seluruh dunia.

Gilead mengharapkan hasil dari penelitian pada akhir April 2020. "Kami memahami kebutuhan mendesak untuk pengobatan COVID-19," demikian pernyataan resmi Gilead.

Meski demikian dikatakan beberapa cerita tentang pasien hanyalah cerita. Totalitas data perlu dianalisis untuk menarik kesimpulan dari uji coba.

โ€œLaporan anekdotal, tidak memberikan kekuatan statistik yang diperlukan untuk menentukan profil keamanan dan keefektifan remdesivir sebagai pengobatan untuk Covid-19,โ€ tutup Gilead.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini