Cemas Dampak Pandemi Corona terhadap Perkembangan Mental Anak? Simak Penjelasan Para Pakar Ini

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 23 April 2020 13:38 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 23 481 2203660 cemas-dampak-pandemi-corona-terhadap-perkembangan-mental-anak-simak-penjelasan-para-pakar-ini-X65oPDy88U.jpg Belajar bersama anak di tengah WFH (Foto: New York Post)

Pandemi virus corona (COVID-19) yang berkepanjangan memberi dampak bagi anak-anak dan remaja. Mereka mulai bosan berada dalam rumah dan merindukan teman-teman sebayanya.

Hal ini juga dirasakan oleh Ella Canady seorang remaja berusia 15 tahun asal Phoenix, Amerika Serikat (AS). Biasanya gadis ini pandai menyembunyikan perasaannya dari sang ibu, Tamar Canady. Tapi saat ini ia mengaku rindu dengan sekolahnya di tengah pandemi virus corona yang memaksanya physical distancing.

Ia rindu berada di sekolah dan duduk di meja belajarnya. Sekolah yang sesungguhnya, bukan hanya menghabiskan waktu lima jam sehari di depan komputer di rumahnya karena belajar via daring. Tapi sayang semua aktivitas tersebut tidak bisa dilakukan selama pandemi virus corona.

 anak di tengan WFH

"Aku tahu kamu tidak menginginkan ini,” ucap Tamar kepada putrinya Ella sebagaimana dilansir dari USA Today, Senin (23/4/2020).

Tidak ada yang tahu kapan kehidupan ini akan kembali normal setelah pandemi virus corona. Namun ketika minggu-minggu tinggal di rumah, sementara sekolah ditutup secara nasional, para orangtua mulai mempertanyakan efektifitas ini.

Mereka khawatir langkah isolasi dan physical distancing dapat menganggu perkembangan emosional dan mental anak-anak mereka.

Apakah anak-anak di era pandemi virus corona akan merasa takut memegang atau berdiri terlalu dekat dengan orang lain? Apakah anak-anak akan mengetahui cara berteman atau berinteraksi dalam sebuah kelompok? Dan bagaimana semua itu akan berpengaruh pada nilai akademis mereka dan prospek kerja mereka?

Saat ini psikolog dan ekonom masih mengumpulkan data. Tapi berdasarkan konsesus jangka pendek, sebagian besar anak-anak akan baik-baik saja.

Para pakar melihat, anak-anak yang lebih kecil akan lebih mudah untuk bangkit kembali daripada orang dewasa dan remaja. Orang dewasa dan remaja justru menghadapi beberapa stres. Namun secara umum, kemampuan dan ketahanan anak-anak tergantung pada stabilitas dan keamanan keluarga mereka.

Oleh karena itu, anak-anak yang berasal dari keluarga yang rentan, seperti keluarga yang tak mampu secara ekonomi, keluarga yang menghadapi kehilangan pekerjaan, kekurangan makanan, tak ada stabilitas tempat tinggal, keluarga broken home, anak-anaknya paling rentan dan sangat membutuhkan bantuan.

Tanpa dukungan emosional yang solid dan kondisi keuangan yang baik, anak-anak itu lebih rentan menghadapi masalah di ranah sosial, psikologi, dan akademik.

Orang dalam kategori seperti ini akan membutuhkan banyak bantuan. Tanpa dukungan emosional dan finansial yang kuat, anak-anak ini kemungkinan akan menghadapi pukulan terbesar terhadap perkembangan sosial, psikologis dan akademik.

"Kami benar-benar menghadapi dua krisis. Kami menghadapi krisis ekonomi sekaligus krisis sekolah yang akan berdampak tidak merata, tergantung pada pendapatan keluarga,” kata seorang Psikolog Perkembangan di Universitas Chicago dan Direktur Pusat Potensi Manusia dan Kebijakan Publik, Ariel Kalil.

Secara umum, keluarga berpenghasilan tinggi akan memiliki sarana dan bisa mengatasi dampak dari penutupan sekolah-sekolah. Tetapi keluarga berpenghasilan rendah akan menghadapi lebih banyak stres dan memiliki lebih sedikit sumber kepada akses yang dibutuhkan anak-anak saat belajar di rumah.

"Keluarga kurang mampu memiliki lebih sedikit fasilitas untuk anak-anak belajar dari rumah, menggantikan belajar dari sekolah," kata Kalil.

Situasi saat ini mungkin terlihat aneh. Tetapi banyak anak akan membangun ketahanan mental melalui masa ini. Meski demikian tidak ada literatur penelitian untuk dampak kolektif semacam ini.

Tetapi dampak sosial dan emosional untuk anak-anak akan sangat tergantung pada seberapa dekat mereka dengan stres dan berapa lama itu berlangsung. Psikolog mengatakan stabilitas sumber daya di sekitar mereka dan adanya hubungan yang membantu mengurangi stres.

Profesor Psikologi di Universitas Wisconsin-Madison sekaligus Direktur Child Emotion Lab, Seth Pollak mengatakan, ia pikir dampak pandemi virus corona tak punya efek selamanya pada anak-anak. "Anak-anak kebanyakan akan keluar dari masalah ini dan mungkin malah akan menuliskan esai untuk masuk kuliah mengenai pandemi virus corona."

Meski demikian, kondisi saat ini justru memberikan dampak positif bagi para balita, kehidupan selama pandemi COVID-19 memberikan sesuatu apa yang mereka dambakan, yakni anak-anak balita bisa lebih dekat dengan orangtua mereka.

Seorang Profesor Psikologi di Universitas William Paterson New Jersey, Amy Learmonth mengatakan, situasi seperti saat ini memberikan kesempatan bagi balita untuk lebih melekat kepada orangtuanya di rumah

"Saya tidak akan khawatir tentang anak-anak kecil, meskipun mereka membuat orangtua mereka merasa gila. Pada fase bayi dan balita, adalah kesempatan anak untuk memiliki sosok keterikatan yang sangat dekat dengan orangtuanya,” terang Learmont.

Learmonth mengatakan dia lebih khawatir tentang anak pada usia 12 tahun. Di mana usia tersebut adalah peralihan dari dari anggota keluarga menuju interaksi sosial. Mereka akan menempatkan teman sebaya dalam peran tersebut. Remaja akan mencari tahu cara berteman dengan orang-orang karena memiliki kesamaan, bukan hanya kedekatan.

"Mereka adalah orang-orang yang mungkin paling menderita dalam jangka pendek. Apa yang mereka pelajari di lorong-lorong sekolah menengah jauh berbeda dari apa yang mereka pelajari untuk dilakukan dalam obrolan kelompok virtual dengan teman-teman,” kata Learmont.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini