Share

Waspada, COVID-19 Bisa Menginfeksi Anak Tanpa Gejala

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 24 April 2020 20:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 24 481 2204498 waspada-covid-19-bisa-menginfeksi-anak-tanpa-gejala-HRsRAmMESQ.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Virus corona COVID-19 ternyata tidak hanya menyerang masyarakat golongan tua. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa COVID-19 juga menunjukkan dampak besar bagi anak-anak.

Penelitian terbaru oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) pada 6 April 2020 mengatakan bahaa anak-anak muda yang sehat, terutama bayi, bisa menjadi sangat sakit akibat virus corona.

Dalam 2.572 kasus dari total 150.000 kasus yang dikonfirmasi telah dianalisis oleh CDC. Setidaknya tiga kematian dilaporkan terjadi antara 12 Februari dan 2 April 2020. Menurut CDC, usia rata-rata orang yang terinfeksi COVID-19 di bawah 11 tahun.

Dokter mengatakan 80 persen anak-anak yang sakit kemungkinan besar terinfeksi COVID-19. Seorang Dokter Anak Gramercy Pediatrics New York City, Dyan Hes, percaya bahwa data tidak menunjukkan ruang lingkup sebenarnya dari wabah karena kurangnya pengujian secara luas.

anak sakit

"Saya tidak bermaksud kasar, tetapi jumlahnya (data) benar-benar salah. 80 persen anak-anak kota dapat memiliki virus corona,” terang Hes, melansir dari Asia One, Jumat (24/4/2020).

Dokter Hes percaya sebagian besar dari anak-anak yakni 80 hingga 90 persen mungkin tidak menunjukkan gejala COVID-19. Ini berarti bahwa anak-anak tidak memiliki gejala khas seperti demam dan batuk, bahkan jika mereka terkena infeksi.

“Bahaya yang lebih besar karena anak-anak yang terinfeksi yang tidak menunjukkan gejala dapat berpotensi menginfeksi orang lain yang berisiko lebih tinggi,” ujarnya.

Dia juga membandingkan COVID-19 dengan flu yang dikatakan kurang begitu parah tetapi telah menyebabkan ribuan kematian per tahun pada anak-anak.

"Saya pikir angka kematiannya jauh, kurang dari 0,5 persen untuk anak-anak yang mengalaminya karena sangat lazim,” lanjut dr. Hes.

Laporan CDC juga mengakui peran yang mungkin dimainkan oleh anak-anak dengan gejala ringan atau tanpa gejala dalam penyebaran COVID-19 di masyarakat. Orangtua diimbau lebih waspada pada anak-anak dan remaja karena kurangnya tes.

Hes mengatakan keluarga harus berasumsi bahwa anak-anak terinfeksi COVID-19 jika mereka mulai menunjukkan gejala yang konsisten dengan virus tersebut.

Menurut CDC, demam, batuk, dan dalam jumlah yang lebih kecil, sesak napas adalah gejala yang paling umum dilaporkan pada pasien anak.

"Meskipun sebagian besar kasus yang dilaporkan di antara anak-anak sampai saat ini belum parah, dokter harus mempertahankan indeks kecurigaan yang tinggi terhadap infeksi COVID-19 pada anak-anak,” tulis laporan tesebut.

Selain itu pemantauan perkembangan penyakit, terutama di antara bayi dan anak-anak dengan kondisi yang mendasarinya juga sangat diperlukan.

Lebih lanjut dr. Hes mengatakan bahwa bayi termasuk dalam kelompok yang lebih rentan. Ia menyebutkan bahwa beberapa orang dewasa akan beralih ke pemberian ASI pada bayi mereka dengan harapan dapat meningkatkan kekebalan tubuh.

Anak Waspada COVID-19

Tapi, ia mengatakan bahwa tidak ada bukti pasti bahwa ASI dapat melindungi bayi terhadap infeksi COVID-19. Beberapa orang juga akan memilih untuk membeli ASI secara online.

Jika terjadi penjualan ASI maka akan menimbulkan komplikasi penyakit apabila sumbernya tidak diuji dengan baik. Untuk membantu mencegah penyebaran COVID-19 pada anak-anak, CDC menyarankan orang tua untuk sering membersihkan tangan anak mereka dengan sabun dan air.

Mendisinfeksi permukaan yang sering disentuh setiap hari serta barang-barang seperti mainan mewah yang bisa dicuci juga bisa menjadi langkah pencegahan preventif yang bisa diambil.

Singapura memiliki beberapa kasus virus korona yang melibatkan anak-anak. Terdapat sekiranya sembilan anak-anak yang berusia 1 hingga 13 tahun telah dilaporkan sejak 16 April 2020.

Lima anak, berusia antara 1 hingga 12 tahun terjangkit COVID-19 dan baru dikonfirmasi di Singapura dan dilaporkan pada Minggu 19 April 2020. Pada Sabtu malam 18 April 2020, dua anak berusia 2 dan 8 menjadi korbab lainnya

Dua anak sisanya berusia tujuh dan 13 tahun, juga dinyatakan positif COVID-19 sejak dua hari sebelumnya. Semua kasus yang melibatkan anak-anak yang dilaporkan baru-baru ini adalah kasus terkait anggota keluarga.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini