Kunjungan Orangtua Berujung Maut, Marcia Kehilangan Ayah dan Suaminya karena Covid-19

Minggu 26 April 2020 06:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 25 612 2204863 kunjungan-orangtua-berujung-maut-marcia-kehilangan-ayah-dan-suaminya-karena-covid-19-JmkAdtddqG.jpg Marcia (kanan), suami dan ayah ibu (Foto: BBC)

Memang tak ada yang mampu memprediksi masa depan manusia. Seperti kisah hidup Marcia Cristina dos Santos, seorang mantan perawat yang berubah total sejak tanggal 12 Maret sesudah kunjungan dari orangtuanya.

Orangtua Marcia, Adalgiza Gonçalves, 80 tahun, dan Benedito dos Santos, 84 tahun, yang tinggal di negara bagian Parana di selatan Brasil, mengunjungi putri mereka dan suaminya di Brasilia, Ibu Kota Brasil.

Kunjungan sudah direncanakan berbulan-bulan sebelumnya, dan mereka berniat tinggal beberapa minggu di sana.

Selama ini Marcia memang mengikuti berita tentang virus corona tanpa rasa khawatir. Ada 77 kasus terkonfirmasi di Brasil, dan belum ada kasus meninggal dunia dan tak ada aturan tinggal di rumah.

Marcia dan suami

“Sampai hari itu, rasanya virus ini jauh sekali, jauh dari kehidupan saya. Bahkan saya pikir wabah akan segera berakhir,” ungkap Marcia.

Tak lama, Brasil mencatat pengingkatan eksponensial pertumbuhan infeksi virus corona. Hari Kamis 23 April, sudah lebih dari 49.000 kasus terkonfirmasi dan 3.300 kematian di Brasil, menurut hitungan Johns Hopkins University, Amerika Serikat.

Suami Márcia, seorang sersan polisi militer bernama José Romildo Pereira, lebih khawatir terhadap virus corona. Ia bekerja di jalanan dan khawatir seandainya membawa pulang virus tersebut.

Sejak kasus positif pertama di Brasil, ia sudah mulai mencuci tangan, dan tidak kontak dengan istrinya sebelum mandi sesudah pulang dari tugas.

Pasangan Márcia and José sudah bersama selama 10 tahun, dan baru selesai membangun rumah. Mereka berencana berlibur bulan April hingga Juni.

Empat hari sesudah tiba di Brasilia, ayah Marcia, Benedito, mengalami gangguan syaraf, gejala yang sering dikaitkan dengan virus corona.

“Ayah mulai tak mengenali hari dan waktu. Ia tak pernah begitu sebelumnya. Bahkan tak mengenali saya dan ibu,” kata Márcia.

Di waktu yang sama, Jose juga mulai demam dan cepat capek. Apalagi ia punya masalah diabetes dan paru-paru. Mereka pikir Benedito dan Jose kena flu biasa saja.

Namun hari berlalu dan gejala memburuk. Tanggal 22 Maret Márcia membawa suaminya ke rumah sakit. “Ia didiagnosa mengalami flu alergi,” kata Márcia.

Namun orang-orang mulai memakai masker, dan virus corona mulai dianggap ancaman nyata. Tanggal 26 Maret, gejala Jose terus memburuk. Ia mulai sesak napas, nyeri di paru-paru dan batuk kering. "Saya bawa ke gawat darurat dan oksigen di paru-parunya rendah sekali,” kata Marcia.

Jose segera dibawa ke unit rawat intensif (ICU) dan mengalami pneumonia, gejala yang serupa dengan Covid-19. Marcia meninggalkan suaminya di rumah sakit, dan kembali ke rumah, menemukan kondisi ayahnya memburuk.

“Kami panggil ambulans dan saya temani dia ke rumah sakit,” kata Márcia.

Hasil CT scan memperlihatkan paru-paru Benedito memburuk, dan pernapasannya bermasalah. Ia juga diduga menderita Covid-19.

Marcia mengaku ia menangis terus ketika di rumah, mengingat suami dan ayahnya di rumah sakit.

Mulai 27 Maret, ia tinggal di rumah saja. Apalagi ia juga mengalami gejala kecapekan, batuk-batuk dan tersengal-sengal. Ia mencari tahu, dan segera menganggap diri sebagai pasien Covid-19, lalu mengisolasi diri.

Seperti dilansir BBC, di rumah, Marcia mengurung diri di kamar, menghindar kontak dengan ibunya.

Marcia, Jose dan Benedito dites dengan hasil positif Covid-19, sementara ibu Marcia negatif.

 “Kami tak tahu siapa yang tertular pertama kali. Bisa saja ayah ketika dalam perjalanan, atau suami saya ketika kerja. Atau mungkin saya ketika meniggalkan rumah. Sulit dipastikan,” kata Marcia.

Kehilangan ayah dan suami

Sendirian di kamar yang biasa ia tempati bersama suaminya, Marcia menjalani hari penuh tekanan menanti kabar orang-orang yang disayanginya.

Tanggal 2 April, ia kaget menerima pesan turut berduka cita di media sosial. “Saya melihat di TV, mereka memastikan seorang sersan yang meninggal di rumah sakit. Itu suami saya. Mereka terlebih dulu memberi tahu media,” katanya.

Selama di rumah sakit, Jose mengalami pendarahan, serangan jantung dan gagal organ. Ia menekan kemarahannya dan berdiam diri ketika tahu suaminya meninggal dunia. “Saya tak bisa menangis di depan ibu saya. Saya tak mau ia tahu,” katanya.

Marcia lalu ke kamar mandi dan menyalakan shower, lalu lama menangisi kematian suaminya di situ. “Saya menangis diam-diam. Sulit sekali menahan rasa sakit ini,” katanya.

Dua hari kemudian, satu kabar buruk datang lagi, ayahnya meninggal karena gagal jantung. Kali ini ia tak bisa menahan diri.

“Saya ke kamar mandi lagi dan menangis. Di titik itu, saya merasa giliran berikutnya adalah saya.”

Sekalipun Marcia merasa sakit, sesak napas dan demam, ia tak mau dirawat di rumah sakit. “Saya tak mau meninggalkan ibu saya sendirian.”

Jose dan Benedito dimakamkan beberapa hari sesudah meninggal dunia dengan pemakaman singkat dan protocol Covid-19.

Salah satu anak Marcia dari perkawinannya terdahulu, dan seorang anggota keluarga lain membantu mengurus pemakaman.

Sesudah 15 hari mengisolasi diri, Marcia dianggap sembuh. Ia keluar kamar tanggal 13 April, sesudah tak ada lagi gejala.

Saat pandemi berakhir, Marcia berencana membawa kembali ibunya ke Parana. "Sekarang ia tinggal di isolasi bersama saya," katanya.

Sesudah kehilangan ayah dan suaminya, Marcia meminta agar orang sadar akan pentingnya soal virus ini.

“Ini lebih serius daripada yang kita duga. Kita harus mencuci tangan dan memakai masker. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada tubuh kita ketika terinfeksi. Tidak hanya untuk diri kita, tapi juga orang yang kita cintai,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini