Alasan Mengapa Anda Tidak Perlu Mudik di Tahun Ini

Wilda Fajriah, Jurnalis · Kamis 30 April 2020 09:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 30 196 2207052 alasan-mengapa-anda-tidak-perlu-mudik-di-tahun-ini-ose1yrJu8I.jpg Foto: Kredivo

TIDAK terasa kita sudah memasuki bulan Ramadan. Bagi umat muslim yang menjalankan, bulan Ramadan adalah momen yang paling ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Sayangnya, salah satu momen yang paling ditunggu ini tidak bisa dinikmati oleh umat muslim dikarenakan virus Covid-19 yang sudah masuk ke Indonesia pada awal bulan Maret kemarin adalah mudik.

Namun, karena wabah Covid-19 yang kian meningkat setiap harinya, budaya mudik menjadi berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Sebab, selama perjalanan mudik Anda memiliki posibilitas tinggi tertular corona Covid-19 dan menularkannya ke orang lain di kampung halaman.

Bahkan, Pemerintah RI pun sampai mengeluarkan himbauan khusus agar semua masyarakat tidak mudik dan memberikan sanksi berupa kurungan penjara paling lama satu tahun dan atau denda maksimal Rp100 juta.

Walaupun sudah ada sanksi berat dan pemberitaan serta informasi tentang penyebaran virus Covid-19 sejak bulan Maret kemarin, tetapi masih ada banyak alasan beberapa orang yang tetap mudik. Alasan yang dipakai sangat beragam, ada yang tidak tahan di rumah, kangen keluarga dan lain sebagainya.

Bila Anda atau ada teman Anda yang masih kukuh ingin tetap mudik, sebaiknya simak alasan berikut yang menjelaskan lebih dalam lagi, mengapa Anda tidak perlu mudik tahun ini.

1. Rawan risiko penularan

Alasan utama mengapa mudik sangat dilarang adalah setiap pemudik rawan menularkan Covid-19. Menurut World Health Organization (WHO), Covid-19 merupakan jenis virus yang mudah ditularkan dari manusia ke manusia lain. Virus ini dapat menyebar melalui kontak langsung dan dapat bertahan hidup dalam waktu berjam-jam di permukaan suatu benda.

Oleh karena itu, mudik sangatlah rentan terhadap risiko penularan karena kegiatan ini dilakukan diluar rumah dan memakan waktu perjalanan yang cukup lama. Dalam kurun waktu tersebut, besar kemungkinan para pemudik bertemu orang yang terinfeksi atau menyentuh sesuatu yang sudah terkontaminasi virus.

Ditambah lagi, Covid-19 tidak pandang bulu ketika menular kepada seseorang. Bisa siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Karena pemerintah sudah melarang kegiatan ini, maka bila ada yang masing kukuh ingin mudik, tidak ada satupun yang dapat menjamin fasilitas umum bersih dari kontaminasi virus.

Baca Juga: Pulih dari Covid-19 Belum Tentu Terlindungi dari Infeksi Ulang

2. Minimnya fasilitas kesehatan di daerah

Selanjutnya adalah minimnya fasilitas kesehatan di daerah terutama di pedesaan atau perkampungan. Di daerah kota saja, masih ada rumah sakit yang kekurangan alat pelindung diri, masker dan berbagai kebutuhan medis lainnya. Apalagi di pedesaan?

Bila fasilitas kesehatan daerah tidak siap, alhasil bukannya bisa menangani pasien dengan cepat malah penyebarannya bisa besar di daerah tersebut.

3. Tidak bisa physical distancing

Ketika wabah corona sudah masuk ke Indonesia, pemerintah langsung mencanangkan physical distancing guna mencegah penyebaran virus. Namun, ini tidak berlaku bila Anda tetap menjalankan kegiatan mudik. Kebanyakan warga memanfaatkan transportasi umum untuk pulang ke kampung halaman, pemudik akan kesulitan menjaga jarak fisik satu sama lain saat dalam kendaraan sehingga tidak bisa menekan penularan Covid-19.

4. Setiap pemudik adalah ODP

Beberapa daerah di Indonesia seperti seperti Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Barat menetapkan setiap pemudik yang berasal dari luar kota terdampak Covid-19 sebagai ODP.

Status tersebut tidak asal diberikan kepada pemudik, cara ini adalah cara yang terbaik dilakukan oleh pemerintah setempat untuk terus menekan arus penyebaran virus. Jadi, setiap pemudik yang datang ke daerah tersebut akan diwajibkan untuk mengisolasi diri selama 14 hari setibanya di kampung halaman. Berarti, pemudik tidak bisa menghabiskan waktu bersama keluarga secara leluasa saat Lebaran karena harus menjalani karantina.

Pun bila isolasi tersebut tidak dilakukan, pemudik bisa diseret ke jalur hukum seperti yang diterapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Jadi, jangan mudik dulu, alokasikan dana untuk keperluan lain

Meski momen satu tahun sekali seperti mudik ini amat ditunggu-tunggu tidak bisa dilakukan, tetapi kita semua harus melihat sisi positifnya, seperti penghematan ongkos pulang kampung serta tidak harus menyediakan uang saku untuk keponakan atau anak-anak kerabat yang ditemui di kampung halaman.

Namun, bila Anda biasanya pinjam dana untuk mudik ke lembaga keuangan seperti Kredivo yang bisa digunakan untuk membeli tiket kereta atau pesawat dengan bunga hanya 2,95% dan limit tinggi hingga Rp30 juta, lebih baik alihkan untuk keperluan yang lebih produktif, Misalnya bisnis makanan ketika bulan Ramadan.

Lembaga keuangan digital seperti Kredivo juga menyediakan pinjaman dana tunai untuk modal usaha kecil-kecilan dengan tenor 1 bulan, 3 bulan hingga 3 bulan. Bila dana yang Anda alokasikan digunakan untuk kepentingan bisnis, bisa jadi orang tua senang karena Anda mengirimkan uang lebih banyak dari biasanya karena cuan dari bisnis yang Anda jalankan.

Jadi, bila melihat bahaya mudik dan kegiatan yang menguntungkan bila Anda tidak mudik tahun ini, lebih baik lebaran di rumah saja ya. (cm)

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini