COVID-19 Bisa Sebabkan Pembekuan Darah, 4 Hal Ini Harus Anda Ketahui

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 01 Mei 2020 08:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 01 481 2207634 covid-19-bisa-sebabkan-pembekuan-darah-4-hal-ini-harus-anda-ketahui-XMSQ8Hjr9u.jpg Ilustrasi (Foto : Metro.co.uk)

Kebanyakan orang menghubungkan infeksi COVID-19 hanya dengan gejala sakit pernapasan, seperti demam, batuk, atau kelelahan.

Tetapi sekarang banyak pasien yang tertular virus corona mengalami gejala neurologis seperti sakit kepala dan pusing, serta masalah jantung, komplikasi ginjal. Terbaru pembekuan darah atau penggumpalan darah.

Pasien dengan kasus ringan, gumpalan darah terlihat seperti tersebar di seluruh tubuh. Hal tersebut mengakibatkan ruam atau bengkak, jari kaki memerah. Sedangkan pada kasus yang lebih parah, gumpalan darah dapat menyumbat arteri dan memicu serangan jantung atau stroke.

Sejauh ini belum jelas kenapa banyak pasien COVID-19 di rumah sakit yang mengalami pembekuan darah ini. Satu studi bahkan menemukan, hampir sepertiga dari pasien COVID-19 dalam perawatan intensif mengalami pembekuan darah (clotting).

Melihat situasi ini, para dokter kemudian memiliki beberapa teori tentang hubungan COVID-19 penyebab terjadinya gumpalan darah di dalam tubuh. Seperti dilansir Huffingtonpost, berikut ulasan singkat empat hal yang harus diketahui tentang COVID-19 dan pembekuan darah.

1. Ukuran kecil dan tersebar

Corona

Temuan yang tak lazim pada pasien COVID-19 yang mengalami pembekuan darah, gumpalan darahnya berukuran kecil dan tersebar di banyak tempat. Para dokter melihat banyak gumpalan kecil terbentuk sebagian besar di paru-paru tetapi ada juga di kaki, telapak kaki dan tepat di bawah permukaan kulit.

Dokter Matthew Heinz, ahli penyakit dalam di Tucson Medical Center mengatakan, tampaknya pembekuan darah pada pasien COVID-19 terjadi apa yang disebut dengan efek mikro-trombotik (pembekuan kecil). Meski ukurannya kecil, tapi justru gumpalan darah kecil tersebut sebenarnya bisa menjadi indikasi bahwa penyakit yang jauh lebih parah sedang terjadi. Bahkan bisa jadi menyebabkan terjadinya pembekuan kecil di arteri koroner, sehingga memicu serangan jantung. Sedangkan pembekuan darah di arteri kecil otak, bisa mengakibatkan stroke.

2. Virus corona lain terkait dengan pembekuan darah

Dijelaskan ahli penyakit jantung Yale Medicine, dokter Hyung Chun, jenis virus corona lain contohnya corona penyebab SARS juga terkait dengan pembekuan darah. Virus corona SARS merusak lapisan dalam arteri dan vena ( endotelium vaskular) yang mencegah darah bisa mencapai paru-paru. Pada beberapa pasien, hal tersebut bisa memicu infark paru, yakni matinya jaringan paru-paru.

Analisis lain dari SARS, ditemukan sekira 49 persen pasien mengembangkan trombositosis, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan gumpalan darah muncul secara spontan. Lain lagi dengan penyakit MERS, diperkirakan sekira 36 persen pasien mengalami gangguan pembekuan darah.

Selain itu, pasien MERS yang parah, mengalami komplikasi yang disebut koagulasi intravaskular diseminata. Kondisi gumpalan darah kecil terbentuk di seluruh aliran darah dan menghalangi aliran pembuluh darah kecil. Mengingat kesamaan antara virus yang menyebabkan SARS, MERS dan COVID-19, para peneliti memperkirakan adanya komplikasi pembekuan darah yang serupa.

3. Cedera pembuluh arah

Hal ketiga ialah tentang gumpalan darah terjadi karena peradangan atau cedera pembuluh darah. Meski data yang ada masih terbatas, satu teori utama tentang gumpalan darah ini dipicu oleh gelombang peradangan pemicu penyakit COVID-19. Mungkin kita pernah dengar, tentang “cytokine storm” atau badai sitokin yang dialami beberapa pasien COVID-19.

Tes Corona

Badai sitokin diketahui terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan, alih-alih melawan virus, sel-sel malah mulai bunuh diri. Dokter Matthew mengungkapkan ini adalah respon inflamasi sistemik mendalam di seluruh tubuh karena ada infeksi virus. Dalam kondisi yang sangat terinfeksi dan meradang, lanjut bisa menjadi hiperkoagulabel yakni peluang lebih mungkin terjadinya bentuk gumpalan darah di mana-mana.

Teori lainnya menyebutkan virus corona secara langsung melukai pembuluh darah. Jika iya, virus corona telah menginfeksi sel-sel di pembuluh darah. Kemudian oleh tubuh infeksi itu dianggap sebagai cedera dan menyebabkan darah menggumpal di sekitarnya.

4. Pasien bedrest punya risiko

Pasien yang sakit parah karena COVID-19 biasanya stuck hanya di tempat tidur. Aslinya pasien COVID-19 tipe ini sudah berisiko tinggi, kemudian risiko bertambah lagi karena kondisi pasien yang hanya berbaring di tempat tidur membuat bisa terjadinya darah menggenang di tubuh.

Asher Marks, ahli hematologi pediatrik Yale Medicine, mengatakan pasien COVID-19 di ICU mungkin mengalami stasis, atau kekurangan aliran darah yang sering dialami oleh para pasien yang hanya di tempat tidur. Plus, sebagian besar orang yang sakit parah akibat COVID-19 sudah memiliki faktor risiko yang meningkatkan peluang si pasien tersebut bisa mengalami pembekuan darah. Contohnya tekanan darah tinggi, diabetes dan penyakit jantung saja sudah merobek pembuluh darah, lalu terkena COVID-19 yang bisa memperburuk keadaan.

Sejauh ini para dokter disebutkan belum mengetahui semua detail tentang siapa yang berisiko lebih tinggi untuk mengalami pembekuan darah. Para dokter hanya melihat situasi ini sering terjadi pada pasien yang sakit kritis akibat COVID-19. Dengan banyak yang terjadi di dalam tubuh, peradangan, cedera pembuluh darah dan stuck hanya berbaring di tempat tidur, ketiga hal ini sama-sama jadi kondisi sempurna terjadinya pembekuan darah.

Meski terlihat saling berhubungan satu sama lain, para peneliti sepakat bahwa butuh lebih banyak data untuk menghubungkan banyak hal menentukan bagaimana dan mengapa virus corona menyebabkan masalah pembekuan darah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini