Curhat Orangtua, Harus Jadi "Satpam" saat Dampingi Anak Belajar Online

Pradita Ananda, Jurnalis · Sabtu 02 Mei 2020 13:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 02 196 2208132 curhat-orangtua-harus-jadi-satpam-saat-dampingi-anak-belajar-online-XImV5X1rU9.jpg Ilustrasi. Foto: Pixabay

Pemberlakuan kegiatan belajar mengajar secara online di rumah diterapkan karena sedang masa pandemi COVID-19. Ini bukan hanya jadi tantangan baru bagi para siswa, namun pastinya juga bagi para orangtua.

Mengingat biasanya anak belajar di sekolah bersama para guru, kini dilakukan secara online dari rumah masing-masing dengan turut didampingi orangtua. Banyak cerita dari situasi belajar online saat pandemi COVID-19.

Seperti penuturan Silvi tentang dirinya berbagi tugas dengan sang suami untuk mendampingi sang putra, Aga, belajar online. Aga sendiri baru berusia 10 tahun dan duduk di kelas 4 SD.

Meski sudah membagi tugas dengan sang suami, Silvi mengaku sebagai full-time mom dan housewife masih lebih dominan untuk urusan sekolah anak. “Bagi tugas sama ayahnya, tetap saya sebagai ibu yang dominan,” ujarnya kepada Okezone, Sabtu (2/5/2020).

“Kebetulan suami juga masih harus ngantor 2-3 hari gitu dalam seminggu. Otomatis saya yang di rumah, jadi lebih mantau kapan anak ulangan, kapan ada tes. Pelajaran selain agama dan yang sifatnya deskriptif seperti PPKN gitu ayahnya yang handle. Kayak science, Bahasa Inggris, atau hitung-hitungan itu saya,” tambahnya.

Perihal mendampingi anak sekolah secara online setiap harinya, sedikit berbeda dengan kebanyakan orangtua lainnya yang mungkin lebih dipusingkan soal tugas sekolah. Silvi mengungkapkan stres yang ia alami malah bukan soal tugas sekolah sang anak. Melainkan lebih kepada harus menjadi ‘satpam’ yang menjaga anak bisa berkomunikasi secara online secara lancar dan baik.

Ia tidak boleh lengah memeriksa room chat sekolah sang anak demi memastikan si buah hati tidak asal dalam berkomunikasi dengan teman-teman sekolahnya. Apalagi mengobrol bersama teman-teman sekolah secara online ini dinilai Silvi, belum terlalu biasa dilakukan oleh anak sekolah seusia putranya.

“Ada itu jadwal sekolahnya tetap, dari jam 8 pagi sampai 3 sore belajar tiga mata pelajaran. Minggu pertama itu saya stres bukan masalah tugas, karena uniknya sekolah anak tidak kasih target tugas yang misalnya harus dikumpulkan per minggu,” ucap Silvi.

“Guru-gurunya bukan hanya kasih tugas lalu selesai gitu, enggak. Tapi yang membebani lebih ke harus sering-sering cek room chat. Anak-anak terkadang kita dengar ngobrolnya kurang sopan, sementara di situ ada guru-gurunya kan,” tambahnya.

“Yang bikin stres ya itu memantau anak gimana harus punya cara komunikasi online yang benar. Misalnya pas nyapa, tidak pakai kata sapaan ‘weii weii’ atau ala Youtubers gitu. Sampai akhirnya waktu itu guru-gurunya tegas, room chat dikunci murid, ditegur lalu dikasih kartu kedisplinan,” sambung Silvi.

Tak hanya itu, tantangan lain yang dirasakan Silvi setiap hari saat sang putra belajar online dari pagi hingga sore hari adalah menjaga sang anak tetap bisa konsentrasi menatap layar komputer dan tetap fokus belajar.

“Tugas sih enggak terlalu membebani, sejauh ini pusingnya itu di memonitor, anak stay menatap layar laptop dan dengerin diskusi dari gurunya. Bikin anak tetap fokus dalam suasana belajar padahal lokasi di rumah. Saya menerapkan aturan anak harus tetap di meja belajar sesuai jam sekolah, jam 8 sampai 3 sore, kecuali break time, jadi posisi tubuhnya tuh memang siap untuk belajar,” terangnya.

Di saat yang bersamaan, Silvi mengaku dengan belajar atau sekolah online ia sebagai orang tua otomatis harus menjadi ‘satpam’ untuk mengawasi sang anak agar tidak terganggu fokusnya selama jam sekolah online berlangsung.

“Pantau anak enggak ngobrol sama teman-temannya di room chat yang lain, yang bisa bikin dia enggak fokus perhatiin gurunya kan. Otomatis orangtua jadi satpamlah istilahnya,” pungkas Silvi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini