Kenali Bahaya Kelelahan, Diduga Penyebab Kematian Didi Kempot

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 05 Mei 2020 15:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 05 481 2209532 kenali-bahaya-kelelahan-diduga-penyebab-kematian-didi-kempot-JiADYTXdos.jpg Didi Kempot. (Foto: Okezone)

PENYANYI campursari, Didi Kempot mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa (5/5/2020), pukul 07.45 WIB di Rumah Sakit Kasih Ibu, Surakarta. Penyanyi legendaris ini meninggal dunia pada usia 53 tahun.

Hingga saat ini belum ada kepastian yang jelas mengenai penyebab kematian Didi Kempot. Namun Humas RS Kasih Ibu Surakarta dr Davin Fernandes mengatakan, saat Didi Kempot masuk ke IGD, Didi Kempot mendapat tindakan resusitasi.

didi

Tindakan ini sendiri merupakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas, juga henti jantung, karena sebab tertentu.

"Untuk diagnosa saat masuk itu cardiac arrase, henti jantung," kata dr Davin.

Namun sang kakak, Lilik menduga seniman berjuluk Godfather or Broken Heart ini meninggal akibat kelelahan, karena kegiatannya yang padat.

Meski terlihat sederhana, namun kelelahan bisa memiliki dampak berbahaya bagi tubuh manusia. Terlebih jika terus menerus dibiarkan, kondisi ini bahkan bisa menimbulkan kematian.

Melansir dari Time, Selasa (5/5/2020), tingkat stres yang tinggi dan kelelahan, dapat membuat jantung bekerja lebih keras daripada biasanya. Para peneliti mengatakan dalam beberapa kasus, kondisi ini berpotensi menyebabkan kematian.

Inilah sebabnya banyak kematian terjadi akibat terlalu banyak bekerja. Direktur Medis di Standord Cardiovascular Health, dr. Alan Yeung mengatakan stres dapat memengaruhi setiap orang secara berbeda.

“Dua jenis stres emosional dapat berdampak pada kesehatan jantung. Stres akut biasanya terjadi secara tiba-tiba setelah kejadian traumatis, seperti kecelakaan mobil atau gempa bumi, sementara stres kronis akan menumpuk seiring berjalannya waktu,” ucap Yeung.

Yeung mengatakan perilaku tidak sehat, seperti makan yang buruk atau tidak berolahraga, juga terkait dengan stres kronis akibat bekerja berjam-jam. Kebiasaan ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah atau kolesterol.

“Ketika seseorang menghadapi tingkat yang tinggi dari kedua jenis stres ini, maka detak jantung dan tekanan darah mereka dapat meningkat. Tingginya tingkat kedua jenis stres ini dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan gagal jantung” tambahnya.

Menurut Amerifan Heart Association, gagal jantung terjadi ketika jantung tidak memompa sebagaimana mestinya untuk memberikan jumlah darah beroksigen ke sel-sel tubuh. Lebih dari 6 juta orang Amerika mengalami gagal jantung.

Gejalanya dapat berupa sesak napas, batuk kronis, kelelahan, mual, kebingungan atau kurang nafsu makan. Lebih dari 900.000 kasus baru didiagnosis setiap tahun.

Siapa saja dapat mengalami gagal jantung, tetapi menjadi lebih umum seiring bertambahnya usia. Kebanyakan orang yang memilikinya cenderung memiliki masalah jantung lain terlebih dahulu. Tanpa intervensi, kondisi ini bisa berakibat fatal.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini