Sudah 14 Kali Mutasi, Virus Corona di Amerika Beda dengan China

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 06 Mei 2020 08:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 06 481 2209857 sudah-14-kali-mutasi-virus-corona-di-amerika-beda-dengan-china-YiG4c3qfCa.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

VIRUS corona yang muncul di Wuhan, China, telah bermutasi dan jenis baru yang menyebar luas di Amerika ini dikatakan lebih mudah menular dibanding sebelumnya. Studi terkait ini dilaporkan peneliti di Los Alamos National Laboratory.

Virus corona mulai menyebar di dataran Eropa dan Amerika dimulai pada Februari 2020. Kemudian, virus ini diketahui bermutasi dengan mudah dan menjadi ancaman baru mulai dari Maret 2020. Bahkan, peneliti mengatakan, jika tak segera dimusnahkan, virus ini akan terus bermutasi dan membatasi efektivitas vaksin virus corona yang tengah dikembangkan para peneliti di seluruh dunia.

corona

Menyiasati adanya risiko ini, beberapa peneliti vaksin telah menggunakan urutan genetik virus yang diisolasi oleh otoritas kesehatan di awal wabah. "Ini adalah sesuatu yang buruk," kata Bette Korber, seorang ahli biologi komputasi di Los Alamos, menurut laporan CNBC.

"Tapi tolong jangan berkecil hati dengan itu," lanjutnya. "Tim kami di LANL dapat mendokumentasikan mutasi ini dan dampaknya pada penularan hanya karena upaya global yang besar dari pihak-pihak klinis dan kelompok eksperimen, yang membuat urutan baru virus (SARS-CoV-2) di komunitas lokal mereka secepat mungkin," tambahnya.

Studi ini belum ditinjau oleh rekan sejawat, tetapi para peneliti mencatat bahwa berita mutasi adalah "keprihatinan mendesak" mengingat lebih dari 100 vaksin dalam proses pengembangan untuk mencegah COVID-19.

Pada awal Maret, para peneliti di China mengatakan mereka menemukan ada dua jenis virus corona yang dapat menyebabkan infeksi di seluruh dunia.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada 3 Maret, para ilmuwan di School of Life Sciences Universitas Peking dan Institut Pasteur Shanghai menemukan, jenis yang lebih agresif dari virus corona baru telah menyumbang sekitar 70% dari strain yang dianalisis, sementara 30% telah dikaitkan dengan tipe kurang agresif.

Jenis yang lebih agresif dan mematikan ditemukan kebanyakan pada tahap awal wabah di Wuhan, China, di mana virus pertama kali muncul.

Di sisi lain, para peneliti Los Alamos, dengan bantuan para ilmuwan di Universitas Duke dan Universitas Sheffield Inggris, mampu menganalisis ribuan rangkaian virus korona yang dikumpulkan oleh Global Initiative for Sharing All Influenza, sebuah organisasi yang mempromosikan pembagian data secara cepat dari semua virus influenza dan virus corona.

corona

Hingga saat ini, para peneliti telah mengidentifikasi 14 mutasi. Menjadi penekanan dalam studi ini ialah mutasi virus corona ini berdampak pada protein yang melonjak, mekanisme multifungsi yang memungkinkan virus masuk ke inang. Penelitian ini didukung oleh Dewan Penelitian Medis, Institut Nasional Penelitian Kesehatan, dan Genome Research Limited.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini