nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Takut COVID-19, Banyak Orang Pensiun Merokok

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 06 Mei 2020 11:04 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 05 06 481 2209913 takut-covid-19-banyak-orang-pensiun-merokok-KqbRrY8V7p.jpg Ilustrasi (Foto : Mirror)

Lebih dari 300.000 orang di Inggris memutuskan untuk berhenti merokok karena khawatir akan meningkatkan risiko terserang COVID-19 yang parah. Data ini semakin diperkuat dengan survei yang dikakukan oleh YouGov.

Lebih dari 1.000 orang Inggris disurvei oleh YouGov bekerja sama dengan Action on Smoking Health (ASH). ASH telah tempat konsultasi untuk membantu orang berhenti merokok. Penelitian baru menunjukkan, saat ini sekarang makin banyak orang yang memilih gaya hidup yang lebih sehat.

Sebagaimana dilansir The Sun, Rabu (6/5/2020), COVID-19 adalah penyakit yang menyerang paru-paru, oleh sebab itu kondisi ini dapat membuat perokok lebih mungkin untuk menderita komplikasi jika mereka terinfeksi virus.

Penelitian menemukan bahwa dua persen perokok telah berhasil berhenti sejak awal pandemi. Delapan persen sedang mencoba untuk berhenti, sementara 36 persen mengatakan mereka telah mengurangi.

Berhenti Merokok

Terlepas dari upaya yang dilakukan oleh orang Inggris untuk berhenti merokok, banyak penelitian menemukan bahwa hanya ada hubungan kecil antara merokok dan gejala serta komplikasi virus corona yang parah.

University College London memulai penelitian dan menemukan bahwa proporsi perokok di antara pasien rumah sakit lebih rendah dari yang diharapkan. Satu studi menyebut bahwa proporsi perokok Inggris di antara pasien virus hanya sekira lima persen.

Selain itu dikatakan juga bahwa perokok tidak selalu membutuhkan perawatan intensif apabila tertular COVID-19 daripada pasien lainnya. Data dari Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa hanya 1,3 persen dari 7.000 orang yang dites positif terinfeksi virus adalah seorang perokok.

Para ilmuwan telah mengakui bahwa tidak ada penjelasan mengapa beberapa perokok tidak berisiko lebih besar terkena COVID-19. Tetapi beberapa menyatakan bahwa faktor gaya hidup lain membuat beberapa perokok tidak mengalami komplikasi parah.

Untuk lebih memahami hubungan antara merokok dan virus corona, para peneliti di Perancis menguji coba patch nikotin sebagai pengobatan untuk beberapa pasien COVID-19.

“Merokok merusak paru-paru Anda dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan risiko mengembangkan komplikasi yang mengancam jiwa dari COVID 19. Perokok juga lebih mungkin membutuhkan perawatan untuk kondisi serius lainnya seperti serangan jantung, stroke, diabetes, kanker, dan emfisema,” tulis ASH.

Selain itu ASH juga mengatakan bahwa beberapa kondisi di atas bisa disebabkan melalui rokok dalam bentuk apa pun. Misalnya shisha, ganja, atau zat lain juga meningkatkan risiko pada manusia.

Pada Maret 2020, Sekretaris Kesehatan Matt Hancock mengatakan bahwa kebiasaan merokok akan semakin memperburuk kondisi pasien apabila terinfeksi. Kepala petugas medis, Chris Whitty sebelumnya mengatakan hal yang sama dan ini menjadi waktu yang tepat untuk berhenti merokok.

Dalam pernyataan, Ketua ASH, Nick Hopkinson mengatakan merokok dapat merusak sistem kekebalan tubuh dan kemampuan seseorang untuk melawan infeksi.

“Semakin banyak bukti bahwa merokok dikaitkan dengan hasil yang lebih buruk pada mereka yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19. Berhenti merokok juga dengan cepat mengurangi risiko orang terhadap masalah kesehatan lain seperti serangan jantung dan stroke,” tuntasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini