Penyebab Orang Masih Menolak Pakai Masker

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 06 Mei 2020 14:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 06 481 2210063 penyebab-orang-masih-menolak-pakai-masker-7PLKjqTTpc.jpg Ilustrasi (Foto : Nbcnews)

Selama pandemi virus corona COVID-19, masyarakat dunia diimbau untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang belum sadar untuk menggunakan masker.

Psikolog dan Profesor Ilmu Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Northwestern University Feinberg School of Medicine, Jacqueline Gollan cara termudah untuk mengendalikan penyebaran COVID-19 adalah dengan mengenakan masker wajah.

“Mereka meremehkan ancaman itu (COVID-19). Itu tidak konkret, itu abstrak. Dan pencegahan adalah hal yang sulit untuk diukur,” terang Gollan, sebagaimana dilansir dari NBC News, Rabu (6/5/2020).

Setelah hampir dua bulan karantina, banyak orang menderita dan mengalami kelelahan mental. Orang akan terus-menerus menghitung keuntungan dan kerugian dari melakukan hal sehari-hari. Contohnya seperti pergi ke toko kelontong dan tidak mengenakan masker.

Masker

Penolakan untuk mengenakan masker telah terjadi di berbagai kota dan negara bagian. Diduga aksi tersebut terkait dengan kematian petugas keamanan keamanan, pria berusia 43 tahun bernama, Calvin Munerlyn ditembak mati setelah ia melarang masuk pelanggan di Flint, Michigan karena tidak mengenakan masker.

Kematian Munerlyn mendapatkan sorotan dari orang-orang yang tugasnya menegakkan peraturan yang dianggap salah bagi sebagian orang. Hal ini diungkapkan oleh Profesor Komunikasi di Michigan State University, Elizabeth Dorrance Hall.

"Secara umum, orang tidak suka diberitahu apa yang harus mereka lakukan. Reaksi mereka ketika diberi tahu apa yang harus dilakukan, berbeda-beda," kata Dorrance Hall.

Misalnya, jika seseorang diberitahu untuk tidak makan kue di pesta ulang tahun, mereka mungkin berusaha untuk mendapatkan kebebasan mereka secara langsung dengan melakukan tindakan terlarang.

Dorrance Hall mengatakan, banyak orang mungkin mengekspresikan kemarahan pada orang yang menyangkal mereka memakan kue atau berolahraga untuk mendapatkan kebebasan yang berbeda dengan makan sesuatu yang lain seperti keripik kentang.

Menurut Gollan, beberapa kelompok, seperti remaja, lebih rentan terhadap perilaku berisiko seperti pergi tanpa masker.

“Kadang-kadang masalah ingin mengendalikan perilaku sendiri dan ingin merasa seperti mereka yang memegang kendali mereka akan melakukan sesuatu seperti ini. Kadang orang-orang berpikir bahwa memakai masker tidak berguna, atau mereka tidak mempercayai ilmu pengetahuan,” lanjutanya.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump belum mengenakan masker saat berada di tempat-tempat umum. Gollan mengatakan tindakan tidak menggunakan masker tidaklah memberi jaminan keamanan.

Masker

Gollan merujuk kepada Wakil Presiden Mike Pence, yang menerima kritik keras setelah dia tidak mengenakan masker saat dalam kunjungan baru-baru ini ke Klinik Mayo. Akhirnya ia pun mengaku sangat menyesal dengan perbuatannya.

Asisten Profesor Riset Psikologi di University of Southern California, Jonas Kaplan, mengatakan para pendukung Trump akan lebih mungkin mengenakan masker jika presiden mampu memberikan contoh yang baik.

Ada beberapa penelitian baru menunjukkan bahwa pendukung Trump cenderung mengenakan masker dan mempraktikkan tindakan pencegahan lain seperti social Distancing.

"Kami mendapati bahwa ketika kepercayaan dibagikan oleh kelompok sosial dan merupakan bagian dari cara kami mengidentifikasi bahwa mereka sangat sulit untuk diubah, bahkan di hadapan bukti ilmiah," kata Kaplan.

Berbagi kepercayaan adalah salah satu cara menjalin ikatan dengan orang lain. Keinginan untuk menjalin ikatan dengan orang lain begitu kuat sehingga seringkali hal tersebut mendistorsi evaluasi objektif informasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini