Karena PSBB, Konsep Co-Living Mulai Naik Daun

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 07 Mei 2020 15:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 07 196 2210547 karena-psbb-konsep-co-living-mulai-naik-daun-bgNj8qdTG0.jpg Ilustrasi. (Foto: Colivingflokq)

PANDEMI corona COVID-19 membuat jutaan orang untuk bekerja dari rumah, baik di Indonesia maupun penjuru dunia lainnya. Banyak orang merasakan perubahan kebiasaan baik saat bekerja atau melakukan aktivitas lain.

Menurut Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta, per 1 April 2020, sebanyak 1.043.773 pekerja formal telah didorong untuk bekerja dari rumah. Angka tersebut makin melonjak seiring dengan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku sejak 10 April 2020.

co living

Dengan lebih dari tiga juta pekerja formal, atau hampir 70% dari total keseluruhan tenaga kerja di Jakarta, fenomena peningkatan kerja jarak jauh di Ibukota baru memasuki tahap awal perkembangannya.

Jumlah orang yang mempraktikkan kerja jarak jauh bisa dibilang memang meningkat akibat terjadinya pandemi. Namun metode kerja seperti ini sebetulnya bukanlah fenomena baru.

Dengan perkembangan teknologi internet yang semakin pesat, bekerja dari rumah, baik paruh maupun penuh waktu, menjadi sesuatu yang makin lazim di kalangan pekerja formal.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Owl Labs pada tahun 2019, Amerika Serikat yang 80% populasinya merupakan pekerja formal, sebanyak 62% di antaranya yang berusia antara 22-65 melakukan pekerjaan secara jarak jauh dengan tingkatan yang berbeda-beda; angka tersebut diprediksi akan terus bertambah.

Masih dalam survei yang sama, untuk 5 tahun ke depan, 42% pekerja jarak jauh juga diketahui berencana untuk lebih sering melakukan pekerjaannya di luar kantor. Sedangkan, 51% pekerja kantoran berkeinginan untuk melakukan pekerjaanya dari jarak jauh.

co living

Sementara itu, dalam beberapa tahun terakhir, bekerja jarak jauh telah terakomodir dengan menjamurnya co-working space. Para pekerja merasakan manfaat dari co-working space tersebut melalui komunitas, serta fasilitas yang disediakan oleh operator co-working.Namun, akibat pandemi corona COVID-19, para pekerja tidak lagi bisa keluar rumah dan nyaman bekerja di co-working. Namun rupanya saat ini muncul tren co-living, konsep hunian yang nyaman untuk bekerja sekaligus beristirahat seperti di rumah.

Co-living menjadi alternatif hunian yang kerap dipilih generasi milenial berkonsep apartemen dengan biaya sewa murah. Bedanya dengan apartemen, di dalam co-living biasanya tersedia fasilitas dapur bersama, ruang kerja bersama, hingga ruang untuk bersosialisasi. 
Co-living menjadi alternatif hunian yang kerap dipilih generasi milenial berkonsep apartemen dengan biaya sewa murah. Bedanya dengan apartemen, di dalam co-living biasanya tersedia fasilitas dapur bersama, ruang kerja bersama, hingga ruang untuk bersosialisasi. 

Sebagai pekerja digital media lepas di Jakarta, Fati (24) memiliki kebebasan untuk memilih tempat kerjanya. Namun, ia memutuskan untuk menyewa ruang co-working di Jakarta. Pilihan tersebut didasari oleh adanya kemungkinan untuk melakukan networking, hingga tersedianya acara mingguan, hingga fasilitas macam WiFi berkecepatan tinggi.

Sebelum pemerintah membuat aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Fati biasa menghabiskan 15 menit waktu perjalanan ke tempat kerja dari co-living Flokq. Selama pandemi, Fati melakukan seluruh pekerjaan dari ruang co-livingnya. Ia pun sama sekali tidak kehilangan segala kelebihan, yang juga biasa dirasakan di tempat kerjanya.

“Beberapa waktu terakhir, aku meluangkan lebih banyak waktu di apartemenku. Aku juga merasa mudah melakukan pekerjaan dengan rasa nyaman," terang Fati, kepada Okezone.

Sementara itu Garry (32), entrepreneur startup di Jakarta juga punya pengalaman sama tinggal di co-living. Selama pandemi corona, Garry tetap menjaga koordinasi dengan timnya, selagi Garry sendiri dapat membangun network dengan penghuni co-living lainnya.

“Pembatasan sosial umumnya akan mengurangi terjadinya pertemuan ataupun acara-acara lain. Tapi bagi saya risiko tersebut tidak begitu berpengaruh, karena saya tetap dapat bertemu dan membangun network dengan orang-orang yang berada di lingkungan co-living,” jelas Garry.

Bagi Garry pandemi corona ini menjadi masa-masa sulit untuk melanjutkan bisnisnya. Namun ia juga mempertimbangkan keselamatan diri dan timnya dalam bekerja.

“Ini merupakan masa-masa yang sulit, bukan hanya bagi usaha saya, namun juga orang lain," ungkapnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini