Bermutasi, Virus Corona COVID-19 Makin Jinak?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 07 Mei 2020 11:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 07 481 2210459 bermutasi-virus-corona-covid-19-makin-jinak-dRBM0HVJ8p.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

PENELITI di Arizona State University (ASU), baru-baru ini menemukan mutasi virus corona COVID-19 menghapus DNA dalam sampel virus dari seorang pasien di Tempe, Arizona, Amerika Serikat. Mutasi yang terjadi pada COVID-19 ini mirip dengan virus Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) yang terjadi pada 2003.

Peneliti mengatakan virus ini sudah mulai melemah. Dalam studi ASU, peneliti menggunakan teknologi baru di Genomics Facility University yang dikenal sebagai sekuensing generasi. Fungsinya untuk menyaring genom SARS-CoV-2, yakni virus yang menyebabkan COVID-19.

corona

Rilis yang diterbitkan pada 6 Mei 2020 oleh ASU menjelaskan bahwa lebih dari 16.000 sekuens SARS-CoV-2 telah dikirimkan ke Jerman, Organisasi Ilmiah GISAID's EpiCoVTM Database.

Para peneliti menggunakan 382 sampel pengusapan hidung (swab) dari orang yang terindikasi COVID-19 di Arizona. Sampel ini diambil untuk mengidentifikasi mutasi SARS-CoV-2 baru yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Sebagaimana dilansir Sputnik News, Kamis (7/5/2020), dalam salah satu genom, yang dikenal sebagai AZ-ASU2923, 81 pasangan basa DNA dalam gen yang disebut ORF7a terhapus. Gen ORF7a menghasilkan protein aksesori yang membantu virus dalam menginfeksi dan mereplikasi di dalam tubuh manusia.

Protein ini dipercaya dapat membantu virus memintas sistem kekebalan tubuh dan memungkinkan virus untuk menggandakan dan membunuh sel sebelum menyebar ke orang lain.

"Protein virus dianggap membantu SARS-CoV-2 menghindari imunitas manusia, dan akhirnya membunuh sel. Kondisi ini membebaskan virus untuk menginfeksi sel-sel lain dalam reaksi berantai yang dapat dengan cepat menyebabkan virus membuat salinan dirinya sendiri di seluruh tubuh,” tulis rilis tersebut.

Penghapusan gen yang menghasilkan protein pada sampel COVID-19 menunjukkan bahwa virus mungkin melemah, mirip dengan yang penyakit yang menyebabkan SARS.

"Salah satu alasan mengapa mutasi ini menarik adalah karena itu mencerminkan penghapusan besar yang muncul dalam wabah SARS 2003," tutur Efrem Lim, seorang peneliti ASU dan penulis studi utama.

Selama pertengahan dan tahap akhir epidemi SARS, virus mengalami mutasi yang melemahkannya. Saat ini para peneliti ASU sedang melakukan percobaan tambahan untuk memahami konsekuensi fungsional dari mutasi virus tersebut.

Meski demikian, rekan penulis studi Matthew Scotch mengatakan kepada New York Post bahwa saat ini terlalu dini untuk menyatakan bahwa virus corona COVID-19 sudah berhasil melemah.

β€œYang perlu diingat adalah bahwa satu virus memiliki penghapusan besar yang menunjukkan bahwa virus dapat ditularkan tanpa memiliki bagian lengkap dari bahan genetiknya. Ini adalah satu virus dan kami tidak menyarankan bahwa ini berarti 'pelemahan' dalam bentuk apa pun," kata Scotch.

Scotch juga menegaskan bahwa tidak ada yang mengejutkan, tentang bagaimana virus telah bermutasi sejauh ini. Ia mencatat bahwa perbedaan dalam hasil klinis lebih tentang respon imun individu dan komorbiditas daripada perbedaan dalam genomik virus.

Studi terbaru muncul setelah laporan yang diterbitkan pada 30 April oleh para ilmuwan di Los Alamos National Laboratory (LANL), New Mexico menunjukkan jenis baru virus corona COVID-19 yang lebih dominan dan menular daripada varietas sebelumnya.

Menurut para peneliti, jenis baru ini muncul pertama kali pada Februari 2020 di Eropa dan kemudian bermigrasi ke Pantai Timur Amerika Serikat. Para pejabat mencatat bahwa strain tersebut, disebut sebagai mutasi D614G, dan telah menjadi strain COVID-19 yang dominan di dunia sejak pertengahan Maret 2020.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini