Jadi Orang Pertama yang Uji Coba Vaksin COVID-19, Dokter Ini Malah Kena Hoax

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 07 Mei 2020 17:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 07 481 2210575 jadi-orang-pertama-yang-uji-coba-vaksin-covid-19-dokter-ini-malah-kena-hoax-lLPOVBc1HS.jpg Dr Elisa Granato. (Foto: Oxfordstudent)

BANYAK berita bohong alias hoax terus beredar terutama terkait dengan virus corona COVID-19. Baru-baru ini, ada berita hoax kembali beredar terkait dengan peneliti vaksin virus corona.

Salah satu peneliti mikrobiologi, yang bekerja di Universitas departemen Zoologi, dr Elisa Granato dikabarkan meninggal dalam uji coba pertama vaksin COVID-19 pada manusia yang dikenal sebagai "ChAdOx1 nCoV-19.

Dokter Granato, lewat media sosial Twitternya pun meminta orang berhenti membagikan cerita bohong tersebut. Sebagaimana dilansir Oxford Student, Kamis (7/5/2020), dr Granato adalah peneliti mikrobiologi, yang bekerja di Universitas departemen Zoologi. Ia adalah orang pertama yang divaksinasi dalam uji coba dan setuju untuk berbicara secara eksklusif dengan The Oxford Student tentang pengalamannya.

granoto

“Berpartisipasi dalam uji coba vaksin Oxford sejauh ini merupakan pengalaman yang menyenangkan. Saya terutama berpikir bahwa ini akan sangat menarik, terutama sebagai ilmuwan, untuk melihat 'sisi lain' dari uji klinis. Untuk melihat bagaimana rasanya menjadi peserta dalam satu, dan tidak hanya membaca tentang data di koran suatu hari nanti,” terang dr Granato.

Peneliti Universitas Oxford memulai pengujian pertama di Inggris untuk vaksin COVID-19 pada manusia mulai 23 April 2020. Para peneliti mengumpulkan hingga 1.102 peserta. Setengah dari mereka menerima vaksin ChAdOx1 nCoV-19, sementara kelompok lainnya menerima vaksin meningitis yang didistribusikan secara luas (MenACWY).

Semua peserta yang ikut serta dalam percobaan ini harus berusia 18-55 tahun. Selain itu mereka juga harus dalam kondisi sehat, dan dinyatakan negatif terinfeksi COVID-19.

"Saya mendapat banyak perhatian dari media, email yang tak terhitung jumlahnya dari seluruh dunia, dan sayangnya beberapa serangan online yang cukup ganas oleh individu dan kelompok yang menentang vaksin,” terang dr Granato.

Dokter Granato menjelaskan untuk membuat segalanya lebih rumit, ia secara acak dipilih untuk menjadi orang pertama yang divaksinasi. Ini mendadak mendapatkan banyak perhatian dari seluruh dunia.

Uji coba vaksin COVID-19 telah menjadi perhatian utama di media Inggris dan telah dihujani oleh berbagai tanggapan. Dokter dan profesor yang memimpin penelitian Oxford telah menerima kritik di media sosial dari komunitas anti-vaxz.

Banyak di antara mereka yang memprotes penggunaan vaksinasi dengan alasan agama atau moral. Sementara yang lain menyangkal gagasan pengujian terhadap sel janin yang gugur.

Dokter Granato mengatakan kepada masyarakat, bahwa seluruh pengalaman sejauh ini benar-benar bermanfaat dan memberikan wawasan luas. Hal ini pula yang membuatnya sangat sadar tentang apa yang harus dilakukan oleh para peneliti vaksin dan profesional medis lainnya setiap hari.

"Sebagian besar vaksin yang diuji dalam uji klinis tidak bekerja. Di sisi lain dari dana yang diterima, banyak orang menginvestasikan harapan dalam vaksin, dan berspekulasi tentang berapa lama vaksin ditemukan sebelum distribusi,” tambahnya.

Peneliti Oxford tetap percaya diri dalam membuat vaksin. Mereka bermitra dengan perusahaan biofarmasi global AstraZeneca dalam persiapan untuk produksi massal. Tahun lalu, Jenner Institute berhasil menguji vaksin untuk virus corona.

Sementara Profesor Oxford, Sarah Gilbert pernah bekerja untuk membuat vaksin untuk melawan virus corona MERS. Tapi, Universitas telah memperingatkan bahwa sebagian besar vaksin yang ditemukan tidak menjanjikan bahkan sebelum uji klinis dilakukan.

“Selain itu, sebagian besar vaksin yang diuji dalam uji klinis tidak bekerja. Mengenai pencarian vaksin yang efektif, akan butuh berbulan-bulan sebelum kita mengetahui hasilnya, ada uji coba vaksin lain yang dilakukan secara paralel di negara lain,” tutup dr Granato.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini