BKKBN Khawatirkan Ledakan Penduduk Pasca-Pandemi COVID-19

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 07 Mei 2020 12:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 07 612 2210486 bkkbn-khawatirkan-ledakan-penduduk-pasca-pandemi-covid-19-EqYi65cJxG.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI virus corona COVID-19 memang membuat beberapa daerah memutuskan untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Memang, pembatasan ini terbukti efektif mengurangi persebaran virus corona.

Tapi, seiring dengan penurunan jumlah kasus tersebut, ada aspek lain yang bertambah loh. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), mencatat imbas penyebaran wabah COVID-19 terdapat penurunan peserta Keluarga Berencana KB pada Maret 2020.

Apabila dibandingkan dengan bulan Februari 2020, pemakaian IUD pada Februari 2020 sejumlah 36.155 turun menjadi 23.383. Sedangkan implan dari 81.062 menjadi 51.536, suntik dari 524.989 menjadi 341.109, pil 251.619 menjadi 146.767, kondom dari 31.502 menjadi 19.583, MOP dari 2.283 menjadi 1.196, dan MOW dari 13.571 menjadi 8.093.

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menjelaskan bahwa COVID-19 sangat berdampak pada pelayanan KB. Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada peningkatan angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan stunting.

"Penundaan Pendataan Keluarga 2020 yang berpengaruh juga terhadap evaluasi program KB," kata dia dalam seperti dilansir dari situs BKKBN.

Selain itu, dia menyatakan BKKBN harus melakukan penyesuaian Alokasi Anggaran dalam Skema Refocusing untuk Penanganan COVID-19 sebesar Rp408,6 miliar.

Dengan turunya para peserta KB tersebut, maka ada potensi terjadi baby boom di masa yang akan datang. Hal ini bukan tanpa alasan, pasalnya banyak para akseptor KB yang merasa takut ketika hendak mengakses pelayanan KB di masa pandemi COVID-19 ini.

“Pelayanan KB yang sangat berdampak akibat wabah COVID-19 ini dikarenakan KB sendiri pelayanannya yang ada sekarang (existing) adalah dengan Baksos, sosialisasi oleh Penyuluh Keluarga Berencana, dan juga kader-kader. Jadi sangat full kontak atau people to people contact atau person to person," jelasnya.

"Sehingga ketika ada physical distancing atau social distancing maka jelas akan menurun pelayanan itu,” tambah dia.

Hasto pun berharap besar kepada para provider kesehatan seperti para bidan dan dokter untuk terus memberikan masukan dan kritik atas kebijakan-kebijakan yang telah BKKBN buat selama pandemi COVID-19. Hal ini, untuk mengantisipasi gelombang baby boom baru di masa yang akan datang, serta permasalahan-permasalahan kependudukan lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini