4 Reaksi yang Dialami Tubuh saat Patah Hati

Sabtu 09 Mei 2020 01:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 08 196 2211278 4-reaksi-yang-dialami-tubuh-saat-patah-hati-eOLFvvukLu.jpg Ilustrasi (Foto : Thesun)

Putus cinta dapat membuat seseorang patah hati. Susah move on dari mantan hingga akhirnya patah hati menjadi berlarut-larut.

Hal penting perlu dicatat bahwa patah hati yang berlarut-larut dapat berdampak pada kesehatan lho. Tidak percaya? Ada berbagai reaksi yang dialami tubuh ketika Anda mengalami patah hari. Berikut penjelasannya yang dikutip dari Solopos.com :

1. Otak mengirimkan sinyal rasa sakit

Galau

Galau dan kangen ternyata tidak hanya sebatas gombalan. Seperti dilansir hellosehat, studi pada 2010 yang dimuat dalam Journal of Neurophysiology menyatakan, saat seseorang dipaksa untuk berpisah dengan orang yang dicintai, otak akan mengirimkan sinyal rasa sakit ke sekujur tubuh dan menimbulkan berbagai gejala serius. Penelitian tersebut mengharuskan 15 orang yang baru saja putus cinta untuk memandangi foto mantan pacar dan kemudian memecahkan soal matematika.

Hasil pindai otak dari para partisipan menunjukkan area tertentu dalam otak yang bisa memicu rasa sakit tampak teraktivasi saat melihat foto mantan mereka. Sakit itu bisa berwujud, sakit kepala, tidak nafsu makan, hingga susah tidur. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar dopamine dan oxytocin, senyawa kimiawi yang membuat bahagia, tergantikan oleh kadar kortisol (hormon stress) yang melejit. Persis dengan gejala fisik akibat putus obat yang dialami oleh pengguna kokain.

2. Tubuh membangun respons fight or flight

Patah Hati

Respon fight or flight merujuk pada reaksi fisiologis yang timbul akibat suatu pemicu stres, baik secara mental maupun fisik. Sebagai respons stres, sistem saraf simpatetik dalam otak akan diaktifkan akibat pelepasan sejumlah hormon secara tiba-tiba. Jika saat patah hati Anda merasa nafsu makan sangat jauh berkurang, ini adalah akibat dari produksi kortisol dalam tubuh yang meningkat.

Kortisol yang diproduksi saat stres akan menghambat aliran darah masuk ke dalam saluran pencernaan. Akibatnya, produksi asam lambung pun meningkat dan memberikan rasa tidak nyaman dalam perut. Makanan yang masuk ke dalam tubuh pun terasa hambar dan tidak menggugah selera, membuat Anda makin ogah makan.

3. Jerawatan

Jerawat

Sebuah studi pada 2007 yang dimuat dalam The New York Post berhasil mengesampingkan faktor-faktor penyebab umum jerawat (seperti polusi, dengan memelajari penduduk Singapura di mana perubahan iklim amat jarang terjadi) dan memastikan bahwa stres benar-benar dapat mengakibatkan peradangan jerawat. Peneliti mengatakan, sebesar 23% kasus peradangan jerawat muncul saat orang-orang berada di bawah tekanan stress yang sangat tinggi, seperti saat sedang patah hati.

4. Sindrom patah hati

Patah Hati

American Heart Association menjelaskan bahwa ketika di bawah stres berat (seperti saat patah hati), terkadang sebagian jantung Anda akan membesar sementara dan tidak dapat memompa darah dengan baik. Sementara fungsi bagian jantung lainnya bekerja dengan sangat baik, bahkan bisa berkontraksi dengan sangat kuat.

Kondisi ini bisa menyebabkan gagal otot jantung jangka pendek yang parah. Teknisnya, kondisi ini disebut sebagai kardiomiopati induksi stres, namun labih sering disebut sebagai “sindrom patah hati”.

Kabar baiknya, sindrom patah hati termasuk kondisi medis yang sangat jarang, tapi mudah untuk diobati. Sebuah studi di jepang tahun 2014 memperkirakan hanya ada sebesar 2% kasus sindrom patah hati di dunia yang diikuti oleh masalah koroner akut. Namun, studi yang sama menemukan ahwa sindrom patah hati lebih cenderung memengaruhi wanita, dengan laporan kasus mencapai 80 persen hingga saat penelitian dilakukan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini