Terjadi Lonjakan 500 Lebih Kasus Baru, PB IDI: Ada Peningkatan Kemampuan Pemeriksaan COVID-19

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 10 Mei 2020 14:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 10 481 2211846 terjadi-lonjakan-500-lebih-kasus-baru-pb-idi-ada-peningkatan-kemampuan-pemeriksaan-covid-19-3EQwvPdilm.jpg Pandemi COVID-19 (Foto: Okezone)

Juru Bicara Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto melaporkan perkembangan data harian terbaru tentang kasus positif COVID-19 di Indonesia.

Kemarin Yuri menyebutkan, per Sabtu 9 Mei 2020 tercatat ada tambahan lebih dari 500 kasus baru, tepatnya sebanyak 533 kasus positif COVID-19. Rupanya angka ini menjadi catatan angka terbanyak sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pasien positif pertama COVID-19.

Sudah berlangsung kurang lebih dua bulan, pemerintah sudah membentuk tim percepatan penanganan melalui tim gugus tugas dan menerapkan sederet aturan. Mulai dari pembatasan sosial berskala besar (PSBB), wajib pakai masker jika terpaksa keluar rumah, hingga larangan mudik. Tak hanya dari pemerintah, upaya penanganan juga disokong masyarakat yang sebagian besar telah menjalankan karantina mandiri di rumah dengan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah.

 PSBB

Namun pada kenyataannya, jumlah tambahan kasus masih besar. Apa sebetulnya yang terjadi? Apa masyarakat yang masih susah diatur atau pemerintah yang masih kurang tegas dalam menangani pandemi virus corona COVID-19 ini?

Dr. Abdul Halik Malik, selaku Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesi sekaligus humas PB IDI menjelaskan, pemerintah melalui Presiden Joko Widodo langsung memfokuskan upaya memutus rantai penularan COVID-19 di masyarakat sebagai strategi kunci.

“Presiden sudah menekankan pentingnya memutus penularan virus corona di masyarakat dengan testing, tracing, treating, dan isolating sebagai strategi utama dalam penanggulangan pandemi COVID-19 di Indonesia. Itulah strategi kunci yang dilakukan di banyak negara lainnya yang berhasil mengatasi pandemi ini,” ujar Halik, saat dihubungi Okezone, Minggu (10/5/2020).

PSBB menurutnya, bukan hanya sekedar dikeluarkan. Tapi butuh untuk diterapkan secara tegas dan terus-menerus sehingga hasil yang diharapkan bisa nyata, dan harus didukung penuh kedisplinan oleh setiap orang.

“Ada PSBB dan pembatasan mobilitas penduduk antar daerah, nah kebijakan tersebut perlu dijalankan secara tegas dan konsisten hingga betul-betul efektif dan berdampak dan menekan laju penularan virus corona. Masyarakat juga jadi garda terdepan dalam upaya melawan wabah ini dengan mematuhi maklumat pemerintah dan anjuran para ahli untuk disiplin menjalani protokol kesehatan,” tambahnya.

Melihat kenaikan angka kasus positif yang langsung menyentuh angka 500, Halik sendiri melihat sebetulnya situasi ini adalah sesuatu yang wajar. Menurutnya, hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan dalam segi pemeriksaan.

“Tambahan lebih dari 500 kasus baru dalam sehari ini adalah hal yang wajar karena menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pemeriksaan. Selain itu, juga membuktikan bahwa kasus positif masih relatif tinggi sehingga kebijakan yang ada perlu tetap dijalankan secara ketat dan konsisten,” tambahnya.

Meski menilai tambahan kasus positif hingga 500 kasus ini sebagai sesuatu yang wajar, tapi Halik menegaskan di satu sisi, tambahan angka kasus ini menjadi cerminan bahwa sebetulnya kapasitas Indonesia dalam melakukan tes masih kurang.

“Data harian yang disampaikan baru, mencerminkan kapasitas testing kita sejauh ini yang masih jauh tertinggal, sehingga perlu hati-hati untuk melihatnya apakah sudah layak dikatakan naik atau turun, apakah sudah cukup besar kasus yang terperiksa untuk menggambarkan situasi wabah yang sesungguhnya,” ucap Halik.

Oleh karena itu, Halik menekankan, kapasitas laboratorium untuk melakukan pemeriksaan sampel idealnya memang masih perlu ditingkatnya hingga mencapai 10 ribu tes per harinya.

“Iya memang betul kapasitas laboratorium kita masih perlu ditingkatkan, setidaknya 10 ribu tes per hari. Kita ketahui saat ini baru 5 sampai 6 ribu per hari, kesiapan lab dan logistik sampai dengan 6 Mei 2020 itu yang sudah terdaftar dalam jejaring lab COVID ada sebanyak 75 laboratorium dan 47 laboratorium di antaranya sudah melaporkan hasil,” tuturnya.

Terlepas dari catatan soal kapasitas laboratorium yang masih perlu ditingkatkan, ketegasan sederet strategi kunci, hingga harus meningkatnya tingkat kedisplinan masyarakat untuk mengatasi pandemi COVID-19 ini harus dilakukan. Halik sebagai salah satu tenaga medis, mengapresiasi sederet upaya yang telah dilakukan tim Gugus Tugas.

“PB IDI sangat apresiasi dan mendukung langkah Gugas dalam mempercepat pemeriksaan PCR untuk mengendalikan infeksi,” pungkas Halik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini