Bukan Plastik, Ini Kantong Belanja Ramah Lingkungan dari Ubi dan Singkong

Minggu 10 Mei 2020 11:28 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 10 612 2211774 bukan-plastik-ini-kantong-belanja-ramah-lingkungan-dari-ubi-dan-singkong-TexXYzTIYc.jpg Sampah plastik (Foto: Phys)

Masalah sampah plastik sudah menjadi masalah serius di berbagai belahan dunia. Apalagi sampah plastik ini menumpuk di mana-mana, bahkan di lautan dan membuat hewan-hewan laut seperti paus dan kura-kura mati karena makan plastik.

Shradha Rungta sangat prihatin akan penumpukan sampah plastik di mana-mana. Namun, ia juga menyaksikan kenyataan pahit bahwa kehidupan sehari-hari tidak bisa lepas dari plastik.

Ingin menyelamatkan lingkungan, Rungta mulai melakukan serangkaian inovasi dan percobaan mengganti plastik dengan hal lain yang ramah lingkungan. Setelah menang kompetisi ‘Hack the Challenge’ pada November 2019 yang diselenggarakan Impact Hub Jakarta, perempuan keturunan India itu meluncurkan SainBag atau imnotplasticbag.

 sainbag

Sebuah kantong belanja ramah lingkungan dengan bahan baku alami yang 100 % terbuat dari umbi kayu yaitu ubi dan singkong.

Dalam perjuangannya membuat SainBag, Rungta menggandeng Husain Baomar sebagai mitra untuk usaha yang sejak berupa embrio bertujuan menghasilkan produk yang alami. Ini wujud kepeduliannya pada lingkungan.

Seperti dilansir dari Voa Indonesia, Minggu (10/5/2020), Rungta menjelaskan, SainBag tidak meninggalkan residu sehingga aman bagi tanah, bahkan aman bila termakan hewan. SainBag juga tidak akan bertumpuk menjadi sampah yang mencemari lautan dan membuat dangkal perairan.

“Masalah plastik mungkin ada solusinya tetapi hampir tidak mungkin menghabiskan semua ‘plastik sekali pakai’ seperti kantong plastik yang biasa digunakan sebagai tas kantong belanja. Kita bisa mengurangi produksi dan pemakaian kantong plastik tersebut,” jelas Rungta.

Bahan baku SainBag cepat tumbuh, mudah ditanam, relatif murah dan melimpah di Indonesia. Kantong belanja ramah lingkungan itu berasal dari campuran zat tepung dua umbi kayu sehingga mudah terurai, bahkan hancur bila diseduh air panas dan terurai secara alami di dalam tanah.

Pengguna SainBag, seorang pengelola Restoran Kampung Laut, Aisa Wibowo mengatakan, ia mendapat banyak pujian dari konsumennya ketika mereka mendapat SainBag.

“Teksturnya berbeda. Mereka langsung melihat waktu ambil kantong itu sambil bertanya-tanya. Dari keterangan, mereka bisa baca di bawah bahwa itu adalah ‘plastik’ organik, biodegradable, ramah lingkungan. Mereka takjub karena teknologi SainBag ada di Semarang, tidak hanya di kota-kota besar lainnya,” kata Aisa.

Sejak diluncurkan pada Januari 2018, Rungta setiap bulan memproduksi sekitar 1,5 juta lembar untuk setiap jenis produk SainBag. Itu artinya menghabiskan 12-15 ton campuran zat tepung ubi dan singkong.

Konsumen SainBag adalah toko, restoran, rumah sakit dan klinik, selain masyarakat konsumen di Indonesia. Di luar itu, kantong ramah lingkungan itu juga diekspor ke beberapa negara di Timur Tengah, Eropa bahkan Amerika Serikat.

Mengingat teknologi yang digunakan, produk ramah lingkungan yang dapat terurai secara alami, harga SainBag tidaklah sama dengan kantong plastik biasa yang selama ini beredar.

Dengan harga berkisar Rp1.000 hingga Rp3.000 per kantong, Aisa mengakui harga tersebut jauh lebih mahal dibandingkan kantong plastik yang selama ini ia gunakan. Namun ia memilihnya karena peduli terhadap nasib lingkungan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini