Banyak Orang Berobat ke Luar Negeri Bukti Kurangnya Pembelajaran Humanisme Dokter

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 12 Mei 2020 00:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 11 612 2212555 banyak-orang-berobat-ke-luar-negeri-bukti-kurangnya-pembelajaran-humanisme-dokter-SqhDVsICm9.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SAMPAI saat ini, masyarakat Indonesia masih banyak yang memilih berobat ke luar negeri. Padahal, kemampuan dokter di tanah air tidak kalah dengan dokter di luar negeri.

Menteri Kesehatan periode 2014-2019 Nila F. Moeloek menyatakan, salah satu penyebabnya adalah kurangnya kemampuan komunikasi dalam melayani pasien-pasiennya. Sinyalemen serupa juga ditemukan di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa 47% pasien dan 42% dokter menyatakan pelayanan kesehatan tidak humanis.

Ketua Klaster Kolaborasi Pendidikan Kedokteran IMERI FKUI Dokter Rita Mustika, MEpid menyatakan pengembangan humanisme dalam pendidikan kedokteran di Indonesia saat ini sangat dibutuhkan.

Pembelajaran humanisme memang diperlukan untuk mencapai kompetensi profesionalitas seorang dokter. Dokter yang lebih humanis tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat.

dokter di rs

"Peningkatan persepsi mahasiswa terhadap iklim humanis berhubungan dengan peningkatan capaian kompetensi humanisme. Dengan demikian, pengembangan humanisme dokter harus diawali dengan membangun iklim pembelajaran yang humanis di lingkungan pembelajaran," kata dia dalam keterangan tertulisnya.

"Iklim ini lah yang memengaruhi perilaku mahasiswa, karena dengan berada dalam iklim pembelajaran tertentu mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap tertentu pula,” tambah dia.

Tapi, pembelajaran humanisme dalam pendidikan kedokteran seringkali terkalahkan oleh ilmu biomedik dan keterampilan klinis. Pengembangan humanisme dianggap dapat terjadi begitu saja tanpa perlu proses pengajaran, namun saat ini telah disadari pentingnya pengajaran humanisme untuk menjadikan dokter profesional.

“Pengertian iklim pembelajaran humanis, adalah lingkungan pembelajaran yang dipersepsi oleh mahasiswa sebagai suatu lingkungan yang memudahkan mereka untuk mengembangkan nilai-nilai humanis di dalam diri mereka," katanya.

"Nilai humanis yang dimaksud adalah kejujuran, integritas, respek, belas kasih (compassion) dan mementingkan kepentingan orang lain dibanding diri sendiri,” tambah dia.

Menurut dia, peningkatan persepsi mahasiswa terhadap iklim humanis berhubungan dengan peningkatan capaian kompetensi humanisme. Korelasi lemah kemungkinan disebabkan adanya faktor lain di luar iklim lingkungan pembelajaran yang memengaruhi capaian kompetensi humanisme.

"Pengembangan kompetensi humanisme memerlukan proses sosialisasi yang cukup panjang, dengan demikian durasi paparan iklim humanis suatu lingkungan pembelajaran juga dapat berpengaruh,” tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini