Madagaskar Klaim Punya Obat Herbal untuk COVID-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 14 Mei 2020 08:54 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 14 481 2213801 madagaskar-klaim-punya-obat-herbal-untuk-covid-19-7v1cHscEN1.jpg Herbal dari Madagaskar (Foto : Eturbonews)

Madagaskar mengklaim telah menemukan obat untuk menyembuhkan virus corona COVID-19. Obat tersebut berasal dari bahan-bahan herbal dan kabarnya telah berhasil diuji.

Sebagaimana diketahui, Madagaskar yang memiliki 26 juta penduduk terkenal akan pariwisata dan jamu herbalnya. Saat pandemi COVID-19, Madagaskar hanya memiliki 85 kasus dan tidak memakan korban jiwa sama sekali.

Negara ini terletak di Samudra Hindia Selatan yang terkenal dengan alamnya yang menakjubkan, pantai, serta produk organiknya. Pada April 2020 Madagaskar telah mencabut status lockdown pada tiga kota utama di negara tersebut.

Kabarnya obat COVID-19 ini didasarkan pada studi dari Institut Penelitian Terapan Malagasi. Saat ini herbal tersebut didistribusikan di Madagaskar secara gratis.

Sebagaimana dilansir Eturbo News, Kamis (14/5/2020), menurut postingan akun sosial media Facebook dari Madagaskar pada 27 April 2020 nama ramuan itu adalah Umhlonyane (Zulu), Lengana (Sotho), dan Artemisia (Inggris) dan semua bahan-bahannya dapat ditemukan di halaman rumah.

Obat Herbal Corona

Tanaman Artemisia digunakan dalam obat-obatan tradisional. Pada 2012 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan obat yang mengandung daun kering dari tanaman artemisia dapat digunakan dalam terapi kombinasi.

Klaim Madagaskar yang berhasil menemukan obat untuk COVID-19 pun diungkapkan oleh Presiden Madagaskar, Andry Rajoelina. Dalam satu wawancara ia mengatakan herbal tersebut termasuk "COVID Organics" yang dikenal sebagai Malgache.

Pada kesempatan itu, ia pun mempresentasikan obat herbal yang diklaim menunjukkan hasil menggembirakan dalam memerangi virus corona COVID-19.

Presiden mengunggah foto dari presentasi dan gambar tentang "COVID Organics" di halaman Facebook-nya. Andry Rajoelina juga membantah kritik karena mempromosikan obat buatan sendiri untuk COVID-19. Ia bahkan menuduh bahwa negara Barat memiliki sikap merendahkan terhadap pengobatan tradisional Afrika.

WHO telah berulang kali memperingatkan bahwa obat tersebut belum diuji secara klinis. Namun, ada banyak yang menyatakan bahwa infeksi virus corona terasa lebih baik setelah 24 jam ketika diberi obat ini.

Menurut Andry obat herbal ini tidak beracun serta alami. Ia mengklaim pasien bisa sembuh dari COVID-19 dalam 7-10 hari. Gambia telah menerima pengiriman Covid-Organics Madagaskar (CVO) pada awal pekan ini yang dikirimkan langsung oleh presiden Madagaskar.

“Ilmuwan Afrika tidak boleh diremehkan. Saya pikir masalahnya adalah (minuman) berasal dari Afrika dan mereka tidak bisa mengakui bahwa negara seperti Madagaskar telah datang dengan formula ini untuk menyelamatkan dunia," kata Andry.

Kabarnya Equatorial Guinea, Guinea-Bissau, Niger, dan Tanzania telah menerima kiriman ramua ini pada bulan lalu. Oleh sebab itu Andry optimis tidak ada negara atau organisasi yang akan menghalangi negaranya untuk maju.

Andry juga menyebut obat COVID-19 dari Madagskar sebagai obat tradisional yang dikembangkan. “Madagaskar tidak melakukan uji klinis tetapi pengamatan klinis sesuai dengan pedoman WHO,” tutupnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini