nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Cara Mengelola THR saat Pandemi Corona ala Financial Planner

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 15 Mei 2020 17:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 05 15 196 2214658 ini-cara-mengelola-thr-saat-pandemi-corona-ala-financial-planner-zbXcieZkP4.jpg Uang THR (Foto: Freepik)

Lebaran sudah semakin dekat, banyak masyarakat yang telah mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) dari tempatnya bekerja. Tentunya THR ini harus dikelola dengan sangat bijaksana, terlebih saat pandemi virus corona.

Pada umumnya mengelola THR hampir sama dengan gaji bulanan. Masyarakat harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan di tengah krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia.

Financial Planner dan CEO Zapfinance, Prita Ghozie mengatakan, bijak dalam menggunakan uang (THR) adalah kunci utama di tengah pandemi corona.

THR

Dalam sesi wawancara eksklusif dengan Okezone beberapa waktu lalu, Prita pun menjelaskan bahwa terdapat tiga cara yang bisa dilakukan masyarakat supaya bisa mengatur keuangan, khususnya bagi mereka yang baru mendapatkan THR selama pandemi virus corona.

1. Membuka mata dan melihat fakta sampai dengan Desember 2020. Berapa jumlah pemasukan yang akan diterima.

2. Harus membiasakan diri melakukan penyesuaian gaya hidup dan cara hidup sehari-hari. Yakni mengubah cashflow dengan membenahi anggaran rumah tangga.

3. Perbanyak dana darurat. Dana darurat itu penting sekali. Ada baiknya memegang dana tunai yang bisa ditarik sewaktu-waktu hingga Desember 2020.

Prita juga menyarankan masyarakat untuk menyusun anggaran pengeluaran bulanan. Pasalnya ini adalah salah satu cara mudah yang bisa dilakukan semua orang. Hal yang paling penting adalah memiliki motivasi, yaitu pemasukan lebih besar daripada pengeluaran.

“Apabila pengeluaran lebih besar dari pemasukan maka seseorang akan ngutang. Cara mengelola cahsflownya dengan menyesuaikan dengan gaji kita,” terang Prita.

Misalkan, seseorang yang penghasilannya masih di bawah Rp5 juta maka bisa menggunakan metode yang paling gampang. Yakni dengan membagi dua penghasilannya. Sebanyak 75 persen untuk biaya hidup sementara 25 persennya untuk tabungan dan investasi.

Sedangkan kalau penghasilan seseorang berkisar Rp5 juta hingga Rp15 juta bisa dibagi tiga yang biasa disebut living, saving, playing. Biaya hidup yang tidak bisa dinegosiasi itu disebut living, sedangkan untuk kesenangan atau hiburan adalah playing dan dana darurat, tabungan dan investasi adalah saving.

“Jadi bagi saja. Livingnya 50 persen, savingnya 30 persen, playingnya 20 persen. Ini untuk mereka yang penghasilannya Rp5 juta - Rp15 juta. Kalau udah di atas Rp15 juta itu bisa kita tambahkan lagi komponen-komponen lain. Misalkan tabungannya dipilah-pilah,” terang Prita.

Pada kesempatan ini, Prita juga menjelaskan akan pentingnya dana darurat yang harus dipersiapkan hingga Desember 2020 untuk mengamankan pengeluaran di tengah pandemi virus corona.

“Dana darurat disiapkan hingga Desember, meskipun kita tidak mendoakan krisis lebih lanjut. Kadang-kadang bahasa dana darurat itu artinya lembaran uang itu disimpan, tapi dana darurat ini bisa ditarik sewaktu-waktu,” tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini