Ahli Virologi Ini Duga Tertular COVID-19 lewat Mata saat Terbang

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 15 Mei 2020 15:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 15 481 2214617 ahli-virologi-ini-duga-tertular-covid-19-lewat-mata-saat-terbang-kuigGzP4F1.jpg Joseph Far. (Foto: Twitter/@curefinder)

AHLI Virologi dan Epidemiologi, Joseph Fair, dirawat di rumah sakit karena terinfeksi virus corona COVID-19. Ia mengaku terinfeksi COVID-19 akibat virus yang masuk ke dalam matanya, saat mengikuti penerbangan dengan jumlah penumpang yang padat

Fair yang berusia 42 tahun jatuh sakit, tiga hari hari setelah melakukan penerbangan menuju rumahnya di New Orleans. Ia mengaku selama penerbangan tersebut, dirinya telah dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) lengkap sesuai dengan prosedur yang berlaku.

joseph

“Saya menggunakan masker, saya menggunakan sarung tangan dan melakukan rutinitas dengan normal. Tapi jelas, Anda masih bisa mendapatkannya (virus corona) melalui mata. Tentu saja saya tidak memakai kacamata dalam penerbangan,” terang Fair, sebagaimana dilansir NBC News, Jumat (15/5/2020).

Lebih lanjut Fair mengatakan bahwa mata adalah salah satu rute penyebaran virus yang jarang diperhatikan oleh masyarakat. Pasalnya masyarakat awam cenderung lebih memperhatikan hidung, dan mulut, karena itu adalah bagian yang paling umum.

“Tapi Anda tahu, tetesan (Droplet) yang mendarat di mata sama menularnya,” lanjut Fair.

Fair mengatakan maskapai penerbangan yang dinaikinya telah menyuruh semua penumpang untuk duduk berhimpitan seperti di dalam kaleng sarden. Secara naluri Fair memang merasa harus turun dari pesawat tersebut. Sayangnya ia tidak turun dan melanjutkan perjalanannya.

Fair yang telah menggunakan masker untuk menutup mulut dan hidungnya, mengaku tidak bepergian ke mana pun. Ia hanya berada di rumah sebelum mulai merasa sakit beberapa hari kemudian. Dari situ ia menyimpulkan bahwa penularan yang dialaminya kemungkinan besar masuk melalui mata.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), virus corona menyebar dari manusia ke manusia melalui tetesan pernapasan yang dihasilkan ketika seseorang batuk atau bersin.

“Tetesan ini dapat mendarat pada mulut dan hidung orang-orang yang berada di dekatnya dan mungkin terhirup ke dalam paru-paru. Virus ini tidak menyebar dengan mudah melalui cara lain. Tapi mungkin saja seseorang terinfeksi COVID-19 dengan menyentuh permukaan atau objek yang memiliki virus di atasnya, kemudian menyentuh bagian mulut, hidung atau mata mereka sendiri,” tulis CDC.

Fair mengatakan ada banyak masyarakat yang masih belum tahu mengenai hal tersebut. Fair awalnya hanya memiliki gejala penyakit seperti flu yang dimulai dengan kehilangan nafsu makan sehingga ia tidak segera pergi menuju ke rumah sakit untuk menghindari potensi penyebaran infeksi.

Lama-kelamaan Fair hanya mampu mengambil 25 persen oksigen saat bernapas dan memutuskan untuk segera memanggil ambulans untuk mendapatkan pertolongan. Fair meminta untuk tidak diintubasi (Memasukan tabung dalam saluran pernapasan) dan hanya menggunakan oksigen untuk membantunya bernapas. Dalam beberapa hari, ia mulai merespon oksigen dan mengonsumsi obat infeksi paru-paru untuk melawan virus.

Fair mengaku mendapatkan hasil negatif ketika melakuakn tes COVID-19 sebanyak empat kali. Tapi ia tidak terkejut dengan hal tersebut, pasalnya kemungkinan besar virus tidak bisa dideteksi. Bahkan hasil tes pun tidak bisa memberikan tingkat akurasi sebesar 100 persen.

Ia memperingatkan masyarakat golongan usia muda yang sehat dan merasa memiliki imunitas yang kuat untuk selalu waspada terhadap COVID-19. Pasalnya virus ini bisa menyerang siapa saja.

“Anda tidak mau memilikinya (COVID-19), itu saja yang harus saya katakan kepada Anda. Anda tidak ingin menyebarkannya (COVID-19) kepada siapa pun yang berisiko tinggi, karena Anda bisa melihat saya, sehat dan berolahraga. Saya tidak bisa membayangkan hal ini terjadi pada seseorang dengan tingkat risiko yang tinggi,” tuntasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini