Henky Solaiman Meninggal, Kenali Makanan Penyebab Kanker Usus

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 15 Mei 2020 19:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 15 612 2214768 henky-solaiman-meninggal-kenali-makanan-penyebab-kanker-usus-bhnGGv92hY.jpg Henky Solaiman. (Foto: MNC Picture)

PESINETRON Dunia Terbalik Henky Solaiman meninggal dunia. Ia menghembuskan napas terakhir pada Jumat (15/5/2020) pukul 16.40 WIB.

Informasi ini diterima Okezone dari pesan berantai yang menyebar di WhatsApp. Bunyi pesan tersebut ialah, "RIP: Henky Solaiman. Wafat: Jum'at 15 Mei 2020, Jam 16.40 di rumah," tulis pesan itu.

Meskipun belum diketahui apa penyebab meninggalnya Henky Solaiman, tapi beliau diketahui memiliki riwayat penyakit kanker usus. Penyakit ini yang kemudian membuat dirinya memutuskan untuk berhenti dari dunia hiburan tanah air.

Terlepas dari kabar duka cita ini, kanker usus menjadi salah satu penyakit yang banyak dialami masyarakat sekarang. Salah satu penyebabnya adalah gaya hidup yang tidak sehat dan mengonsumsi daging merah dan olahan secara berlebihan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Ari Fahrial Syam, SpPD, menerangkan, gaya hidup menjadi salah satu penyebab kenapa kanker usus besar tetap bertahan sebagai penyebab utama kematian dan angka kejadian terus meningkat di tengah masyarakat.

Baca Juga: Berita Duka, Henky Solaiman Meninggal Dunia


Dokter Ari menjelaskan, dalam prakteknya sehari-hari kasus kanker usus sudah umum ditemukan. Saat ini bahkan kasus-kasus baru ditemukan pada usia yang lebih muda. "Faktor genetik memang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker usus besar tetapi gaya hidup merupakan hal yang utama," singkatnya.

Beberapa faktor risiko yang telah teridentifikasi dan konsisten dalam berbagai penelitian termasuk penelitian di Indonesia, sambungnya, adalah tinggi asupan daging merah serta daging olahan. Masalah lain juga ialah kurang makan sayur dan buah.

"Anjuran untuk mengontrol berat badan dengan konsumsi daging merah yang berlebihan dan tidak mengonsumsi buah karena mengandung karbohidrat, merupakan anjuran yang menyesatkan," tegas dr Ari.

Selain karena diet tinggi daging merah, kebiasaan merokok pun sampai sekarang masih menjadi bagian dari faktor risiko kanker usus besar. Tidak hanya mereka yang perokok aktif, tetapi juga perokok pasif tergolong dalam faktor risiko.

"Beberapa kasus kanker usus yang saya temukan bukan pada perokok aktif saja, tapi orang terdekat dan sekitar perokok aktif juga mengalami masalah yang sama, sehingga mereka terkena kanker usus besar," terang dr Ari.

Menurut dr Ari, Indonesia masih surganya perokok. Hal ini karena para perokok bebas merokok di mana saja. Di beberapa kota besar di negara maju, dr Ari membandingkan, sudah sangat sulit untuk mencari tempat buat merokok.

Fakta ini sudah sejatinya diperhatikan dan dicari solusinya supaya jumlah perokok aktif mau pun pasif tidak semakin tinggi. Dengan begitu, salah satu faktor risiko kanker usus besar bisa diminimalisir.

Selanjutnya, dr Ari menjelaskan juga beberapa faktor risiko lain dari masalah kanker usus besar ini. Adalah kegemukan, kurang bergerak, dan peminum alkohol. Ada beberapa faktor risiko yang tidak bisa berubah yaitu umur. Ya, mereka yang berusia di atas 50 tahun, terang dr Ari, menjadi batasan umur untuk memulai skrining.

Faktor genetik berupa riwayat kanker atau polip usus pada keluarga, riwayat penyakit radang usus kronis (inflammatory bowel disease atau IBD) sebelumnya, riwayat penyakit kencing manis atau diabetes mellitus juga merupakan faktor risiko yang harus diantisipasi.

"Penyakit ini awalnya tanpa gejala. Oleh karena itu buat masyarakat yang mempunyai faktor risiko tinggi terjadinya kanker usus besar, disarankan untuk kontrol ke dokter," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini