nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasien Sembuh Kembali Positif COVID-19, Peneliti Pertanyakan Efektivitas Antibodi

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 20 Mei 2020 17:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 20 481 2217124 pasien-sembuh-kembali-positif-covid-19-peneliti-pertanyakan-efektivitas-antibodi-srBY0UwT1q.jpg Ilustrasi (Foto : Huffingtonpost)

Sebanyak 14 orang pelaut dari kapal USS Theodore Roosevelt yang telah pulih dari virus corona COVID-19. Kondisi ini tentunya menimbulkan banyak pertanyaan tentang kekebalan (antibodi) terhadap COVID-19 setelah terinfeksi.

Para pelaut yang sebelumnya terinfeksi COVID-19 melakukan tes ulang dan dinyatakan positif terjangkit kembali. Hal ini diungkapkan oleh Juru Bicara Armada Pasifik AS dalam sebuah pernyataan.

Alhasil para pelaut itu diperintahkan turun dari kapal dan diminta untuk melakukan isolasi diri setidaknya selama 14 hari. Para ahli mengatakan bahwa hasil tes yang membingungkan tidak bisa memastikan bahwa seseorang dapat terinfeksi dua kali .

Hampir semua tes diagnostik untuk COVID-19 yang digunakan di AS mencari sampel RNA virus, atau kode genetik. Tetapi menurut panduan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, mengatakan deteksi viral load tidak berarti bahwa ada virus menular.

Tes mungkin mengambil sepotong RNA virus yang tertinggal, daripada partikel virus menular yang sepenuhnya utuh. Tes positif kedua setelah hasil negatif dapat berarti virus hanya mengambil waktu meninggalkan tubuh dan tidak lagi dapat menginfeksi orang lain.

"Mungkin saja orang dapat membuang sisa virus selama beberapa waktu. Itu tidak berarti ada yang salah dengan mereka atau bahwa mereka menular," tutur seorang Ahli Penyakit Menular di Vanderbilt University Medical Center di Nashville, dr. William Schaffner, melansir CNBC News, Rabu (20/5/2020).

Tes Corona

Studi dari Korea Selatan juga mendukung gagasan tersebut. Para peneliti di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea menganalisis data pada 285 pasien COVID-19 yang juga dites positif setelah terlihat pulih.

Para ilmuwan tidak dapat menemukan bukti bahwa pasien tetap bisa menularkan penyakit. Sementara sampel virus yang diambil dari pasien tidak dapat dipaksa untuk tumbuh dan berkembang. Bahkan dalam studi laboratorium, menunjukkan bahwa sampel virus tidak berguna.

"Apa yang kami temukan semakin banyak adalah fragmen virus yang diambil ini beberapa minggu kemudian tidak dapat ditiru. Mereka bukan virus hidup," kata Associate Director of Medicine di Icahn School of Medicine di Mount Sinai di Kota New York, dr. Ania Wajnberg.

Namun, dunia hanya mengetahui tentang COVID-19 hanya selama beberapa bulan. Kondisi ini membuat para ilmuwan belum memiliki indikasi tentang bagaimana virus itu bereaksi dalam jangka panjang.

"Kami hanya belum memiliki cukup detail untuk membuat pernyataan pasti tentang imunologi," kata Kepala Penyakit Menular di Wake Forest Baptist Health di Winston-Salem, North Carolina, dr. John Sanders.

Sanders mengatakan hasil diagnostik yang berbeda mungkin bisa dijelaskan sebagai negatif palsu.

"Saya pikir ada banyak yang harus dipelajari tentang pengujian dan tentang dampak perlindungan dari terinfeksi atau mengembangkan antibodi," sambungnya.

Sanders dan tim peneliti di Wake Forest telah memulai penelitian yang ambisius untuk mengetahui bagaimana virus itu berkerja pada manusia, berapa lama gejala berlangsung dan bagaimana COVID-19 dapat menyebabkan kekebalan dari infeksi sekunder.

Kelompok ini telah mendaftarkan 15.000 sukarelawan, beberapa di antaranya terinfeksi COVID-19 dan yang lainnya belum. Setiap hari, para sukarelawan diminta untuk mencatat setiap gejala yang mungkin mereka alami.

Apabila seseorang melaporkan gejala apa saja, seperti demam atau batuk, peneliti akan meminta informasi lebih lanjut.

"Kami akan mengirimkan mereka alat pengumpul tes rumah untuk dikirim kembali kepada kami. Kami akan mengujinya untuk melihat apakah mereka memiliki virus dan kemudian terus melacak untuk melihat antibodi setelah itu," kata Sanders.

Tes Corona

Tim peneliti akan mengunggah hasil temuannya ke dalam database dan melacak gejala secara real time. Idealnya, pejabat kesehatan masyarakat membandingkan informasi dengan catatan kesehatan elektronik.

Sanders mengatakan proyek ini bertujuan untuk mencari tahu apakah intensitas batuk, berkorelasi dengan meningkatnya COVID-19 yang sebenarnya ada atau hanya karena musim alergi.

Kelompok penelitian berencana untuk melakukan tes antibodi pada 10.000 sukarelawan sebanyak enam kali selama tahun depan. Sejauh ini, semua sukarelawan berasal dari sistem kesehatan di North Carolina, tetapi para peneliti bekerja untuk memperluas studi di sepanjang Pantai Timur.

"Kami memiliki lusinan pertanyaan penelitian yang belum terjawab tentang apakah antibodi melindungi Anda terhadap infeksi di masa depan, tentang apakah Anda mendapatkan komplikasi atau tidak setelah infeksi COVID. Ini juga memungkinkan kami untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lebih rinci,” tutup Sanders.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini