IDAI Minta Imunisasi Anak Tak Terputus di Tengah Pandemi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 23 Mei 2020 10:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 23 481 2218412 idai-minta-imunisasi-anak-tak-terputus-di-tengah-pandemi-CU4WcFawor.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menemukan fakta bahwa kasus COVID-19 pada anak di Indonesia terbilang parah. Dilihat dari data yang mereka miliki, kematian akibat virus corona mencapai 14 anak.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina, negara-negara ini tak memiliki kasus kematian anak akibat COVID-19. Jadi, bisa dikatakan kasus COVID-19 pada anak di Indonesia terparah di Asia.

Per 18 Mei 2020, didapati fakta lengkap bahwa jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) anak sebanyak 3.324 kasus, 129 anak di antaranya meningal dunia. Lalu, konfirmasi positif COVID-19 sebanyak 584 anak, 14 anak dalam kelompok positif meninggal dunia.

Ini harus menjadi perhatian bersama. Angka kesakitan dan kematian anak akibat COVID-19 di Indonesia tinggi dan membuktikan bahwa tidak benar kelompok usia anak tidak rentan terhadap COVID-19 atau hanya menderita ringan.

Dengan temuan tersebut, IDAI mengimbau beberapa hal, salah satunya adalah melarang orangtua membawa anak ke tempat keramaian dalam situasi yang belum kondusif seperti sekarang ini.

Imunisasi untuk anak

Diterangkan Ketua IDAI Dr dr Aman Bhakti Pulungan, SpA(K), semua orangtua dilarang membawa anak ke tempat-tempat ramai. "Orangtua harus tahu, carrier atau orang tanpa gejala (OTG) itu berada dimana-mana tanpa kita tahu dan ini membahayakan si anak," katanya.

Ia menambahkan, orangtua hanya boleh membawa keluar anak dari rumah ketika si anak memang membutuhkan pertolongan dokter karena kondisi kesehatannya atau untuk melakukan imunisasi.

Ya, imunisasi menjadi hal penting yang tak boleh terputus karena alasan pandemi. Dr Aman menyarankan pada orangtua agar memilih tempat imunisasi yang hanya menerima anak sehat. Ini penting supaya risiko terpapar virus corona ke anak kecil kemungkinannya.

Dalam surat IDAI dengan judul 'Anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia Menjelang Akhir Masa Tanggap Darurat COVID-19' dijelaskan juga terkait situasi new normal pada anak.

Jadi, tatanan kehidupan normal baru (new normal) disusun sesuai dengan kebutuhan dasar tumbuh kembang dan kesehatan anak, bukan sebaliknya. Sebab, tumbuh kembang optimal anak akan menentukan kualitas generasi bangsa Indonesia di masa depan.

Hal ini berkaitan dengan pemberian imunisasi yang tetap harus berjalan. Selain imunisasi, asuhan neonatal esensial, pemenuhan nutrisi lengkap seimbang, suplementasi sesuai kebutuhan, stimulasi, deteksi, dan intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK), serta berbagai program terkait kesehatan anak yang sempat terganggu pada awal pandemu harus kembali berjalan optimal.

Menjadi catatan penting untuk pemerintah, IDAI mengimbau agar pemantauan pertumbuhan dan perkembangan tetap dilakukan sesuai jadwal SDIDTK yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan. Semua ini menjadi penting agar kesehatan anak bisa diraih dalam situasi kehidupan new normal yang tampaknya sudah dimulai tanpa disadari masyarakat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini