Basmi Nyamuk Menggunakan Pestisida Tidak Efektif, Ini Alasannya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Minggu 24 Mei 2020 16:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 24 612 2218973 basmi-nyamuk-menggunakan-pestisida-tidak-efektif-ini-alasannya-KOWdW3M3qk.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI virus corona COVID-19 masih belum berakhir, namun Bali kembali dihadapkan dengan penyakit musiman yakni Demam Berdarah Dengue (DBD). Berdasarkan data yang dimiliki UPTD Puskesmas Kuta Selatan, peningkatan kasus DBD terlihat sejak Januari hingga pertengahan April 2020.

Camat Kuta Selatan, I Ketut Gede Artha mengatakan, pada Januari ada sebanyak 20 kasus. Sedangkan, pada Februari mulai meningkat hingga mencapai 149 kasus. Peningkatan kembali terlihat pada Maret sebanyak 297 kasus dan April 2020, terjadi 263 kasus.

Sebagaimana diketahui, masyarakat biasanya melakukan penyemprotan atau fogging dengan menggunakan pestisida untuk menangani wabah DBD. Ternyata, metode ini sebenarnya tidak begitu efektif untuk mengendalikan nyamuk aedes aegypti pembawa penyakit DBD.

Mosquito Lady Consulting, Trudy Rilling-Collins yang telah bekerja di Bali dan di seluruh negara tropis di dunia selama 10 tahun terakhir, mengaku mampu mengendalikan nyamuk secara intensif tanpa menggunakan pestisida. Ia pun menjelaskan tiga alasan utama mengapa pestisida gagal total dalam mengendalikan nyamuk.

1. Nyamuk menjadi kebal terhadap pestisida kimia dengan cepat dan tidak mampu lagi membunuh nyamuk dewasa yang telah memiliki sayap.

2. Semua penyemprotan pestisida (baik dengan fogging atau spray) tidak menimbulkan apa pun untuk menghilangkan perkembangbiakan nyamuk di dalam air. Sehingga kemunculan nyamuk dewasa bersayap akan tetap berlanjut selama 24 jam dalam sehari.

3. Menargetkan nyamuk dewasa yang sudah bersayap adalah strategi yang buruk karena mereka tersebar di ruang besar tiga dimensi.

Lebih lanjut Trudy menceritakan, beberapa pengalaman menariknya berkaitkan dengan nyamuk. Kala itu Trudy berada di salah satu resort di pulau kecil Maladewa, ia menemukan fakta bahwa fogging dan penyemprotan dilakukan tiga kali dalam sehari di resort tersebut.

Apalagi, fogging dan penyemprotan telah dilakukan Sembilan tahun sejak resort tersebut dibangun. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat bahaya dari zat kimia yang digunakan akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi lingkungan dan makhluk hidup.

“Semua pestisida yang digunakan telah gagal untuk mengendalikan nyamuk. Dengan mencari tempat nyamuk berkembang biak di air, saya berhasil mengendalikan nyamuk tanpa menggunakan pestisida apapun,” terang Trudy kepada Okezone, Sabtu (23/5/2020).

Terbukti lima hari setelah Trudy berada di resort tersebut, semua aktivitas penyemprotan baik fogging dan spray dihentikan. Penghentian penyemprotan tersebut dapat menghemat anggaran sekira USD25 ribu atau sekira Rp370 juta per tahunnya untuk biaya pestisida dan solar.

Hal inilah yang mendasari Trudy Rilling-Collins, pemrakarsa mosquitolady.com untuk menerapkan teknik yang sama dengan yang ia gunakan di Maladewa untuk diterapkan di pulau Bali. Saat ini, Trudy merupakan Direktur dari PT Kontrol Nyamuk Hijau, sebuah perusahaan pengontrol nyamuk yang ramah lingkungan.

“Kami fokus pada area Ubud ke pantai di Kuta, Seminyak dan Canggu. Kami bekerja hampir di semua wilayah Bali bahkan Pemuteran, maka kami harus tinggal lebih dari satu hari di daerah tersebut untuk menyelesaikan proyek,” sambungnya.

“Semua tim dari PT Kontrol Nyamuk Hijau adalah orang Indonesia. Jadi komunikasi dengan penduduk lokal bukan masalah,” tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini