Sekolah Akan Dimulai di New Normal, Orangtua: Memang Anak SD Paham Physical Distancing?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 28 Mei 2020 15:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 28 196 2220947 sekolah-akan-dimulai-di-new-normal-orangtua-memang-anak-sd-paham-physical-distancing-SQALreRk3y.jpg Ilustrasi. (Freepik)

NEW Normal menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orangtua yang harus membimbing anak mereka di rumah. Ya, buntut dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), banyak sekolah yang terpaksa menerapkan sistem belajar online.

Namun setelah memasuki era New Normal, kini pemerintah berencana mengaktifkan kembali aktivias belajar mengajar di sekolah. Lantas, bagaimana respons para orangtua dalam menyikapi hal tersebut?

Nah, belum lama ini, seorang ibu muda, Crista R Yuki, membagikan tanggapannya kepada Okezone secara eksklusif. Menurut ibu tiga anak ini, wacana kembali belajar di sekolah lambat laun memang harus segera dilakukan.

Namun untuk saat ini dia tidak setuju bila anak-anak masuk sekolah. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, Crista menginginkan agar pemerintah dapat memastikan terlebih dahulu protokol kesehatan, serta elemen penting lainnya.

crista

Bukan tanpa maksud, karena tujuannya untuk menjamin keamanan, kesehatan, juga kenyamanan para siswa, saat proses belajar mengajar berlangsung.

"Kalau untuk aku pribadi dan beberapa orangtua murid lain, belum setuju anak-anak masuk sekolah. Pemerintah memang sudah benar siap? Masalah ini bukan sekadar kesadaran masyarakat karena karakter setiap orang itu tidak bisa digeneralisasi," kata Crista saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Kamis (28/5/2020).

"Percuma kalau kita sudah patuh, tapi masih ada saja yang melanggar atau tidak peduli dengan protokol yang telah dikeluarkan," timpalnya.

Lebih lanjut Crista menjelaskan, tentang penerapan physical distancing (jaga jarak sosial) di kalangan anak sekolah, terutama Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, imbauan ini tidak akan 100% diikuti oleh anak-anak, mengingat mereka belum mampu berpikir secara rasional dan rasa tanggung jawab yang penuh.

"Bayangkan saja, anak SD mereka belum tentu paham physical distancing itu apa. Belum lagi yang sudah SMA negeri, mereka mungkin sudah mengerti isu ini, tapi gak ada jaminan semua anak SMA mau nurut, mungkin yang masih menurut sekitar 50% saja," kata Crista.

Ditambah lagi dengan fasilitas atau infrastruktur yang dimiliki setiap sekolah. Ambil contoh sekolah negeri, setiap kelas biasanya diisi oleh hampir 30-40 murid, yang mana posisi duduk mereka dibagi menjadi satu meja untuk dua murid.

crista

Dari gambaran kecil ini, sudah bisa dibayangkan seperti apa rumitnya pihak sekolah mengatur jarak sosial di antara murid-murid mereka. Sehingga harus disiapkan skenario atau skema khusus untuk menyiasatinya.

"Kalau mau physical distancing di sekolah, space kelasnya juga harus lebih besar. Kalau sekelas ada beberapa puluh anak berarti harus di-cut dong. Terus juga enggak mungkin anak seharian pakai masker. Kecuali kayak di Jepang dan China, perlengkapan dan fasilitasnya sudah gila-gilaan, jadi anak-anak tidak perlu pakai masker terus-terusan," papar Crista.

"Aku setuju anak-anak masuk sekolah bila pemerintah sudah siap melakukan disinfektasi di sekolah-sekolah. Lalu secara protokolnya bisa terpenuhi. Kalau enggak ngapain? Malah membahayakan anak-anak itu sendiri," tambahnya.

Singkat cerita, sampai detik ini Crista masih memilih agar anak-anaknya mengikuti kegiatan belajar online. Meski pada praktiknya terdapat sejumlah kendala dan tidak 100% maksimal, setidaknya cara tersebut dapat memastikan bahwa mereka aman dari paparan virus corona (Covid-19).

Dia pun menyarankan agar pemerintah melalui Kementerian Pendidikan meluncurkan program homeschooling massal, hingga situasi benar-benar aman terkendali. Crista juga meminta agar pihak sekolah untuk turut serta mendukung program tersebut.

Salah satunya memberikan materi yang telah disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas setiap orangtua, termasuk menurunkan sedikit standar, yang selama ini menjadi acuan.

"Yang terbayang di kepala aku mekanismenya si orangtua harus bikin laporan per minggu. Terus tugasnya juga perminggu tapi komprehensif. Kayak tematik yang mereka jalankan sekarang. kalau dibikin semacam itu lebih enak," ungkap Crista.

"Dengan cara ini kita tidak terlalu ketergantungan dengan gadget atau WiFi yang menguras kuota," tandasnya.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini