Curhat Orangtua Bersiap Menghadapi New Normal: Enggak Yakin Anakku Bisa Physical Distancing

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 29 Mei 2020 00:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 28 612 2221205 curhat-orangtua-bersiap-menghadapi-new-normal-enggak-yakin-anakku-bisa-physical-distancing-cM7b2HDu2F.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

RENCANA pemerintah untuk membuka kembali sekolah di tengah pandemi Covid-19 menuai banyak kritikan tajam dari para orangtua murid. Sebagian orangtua menyisakan kekhawatiran tersendiri saat anaknya kembali bersekolah.

Salah seorang orangtua murid di Tangerang Selatan, Budiana, menghadapi kekhawatiran ketika anaknya nanti kembali masuk sekolah normal di tengah pandemi corona. "Anak-anak itu meski sudah SMP dan SMA, tidak dibiasakan hidup yang higienitas tinggi," kata Budiana saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Kamis 28 Mei 2020.

budiana

Lebih lanjut Budiana menjelaskan, meski di sekolah anaknya jumlah siswa relatif sedikit, 13 orang per kelas, dia mengaku belum percaya bila anak-anak sekolah mampu mengikuti protokol kesehatan yang tertera pada konsep new normal. Mulai dari menjaga jarak sosial (physical distancing), rutin mencuci tangan, dan selalu mengenakan masker.

"Anak saya sudah SMA, tapi mustahil sekali bagi dia untuk melakukan physical distancing. Saya enggak yakin dia bisa duduk berjarak 1 meter dari temannya. Apalagi setelah menjalani School From Home kurang lebih dua bulan, enggak mungkin waktu ketemu lagi enggak peluk-pelukan," tambahnya.

"Anak-anak itu terbiasa aktif. Terus main basket atau bola, kalau ngegolin tos-tosan. Itu keringat jadinya bercampur aduk. Sekarang saja, berangkat sekolah baju rapi bersih, pulang bisa kotor sekali," ungkapnya.

Kendati demikian, Budiana tidak keberatan bila pemerintah maupun Kementerian Pendidikan sudah mulai mengaktifikan kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun dia sangat berharap agar pemerintah benar-benar telah menyiapkan protokol kesehatan yang tepat untuk menjamin keselamatan, dan kenyamanan para siswa.

"Di sekolah anak saya itu, SD, SMP, dan SMA kan satu lingkungan. Kalaupun ada skenario bergantian per dua minggu sekali, saya masih belum yakin mereka mampu menjaga kebersihan dan jaga jarak," kata Budiana.

"Saya bayanginnya aja merinding disko. Banyak anak-anak kecil yang secara sanitasi belum beres. Mau cuci tangan pun harus dipandu. Tukar-menukar bekal, dan tukar-menukar alat makan, siapa yang bisa memonitor?" timpalnya.

Terkait new normal sendiri, Budiana mengaku tidak setuju dengan konsep tersebut. Dia mengatakan, seharusnya tidak istilah new normal dalam kehidupan manusia. "Saya kok sulit menerima yang namanya new normal, karena ini tidak normal. Jujur aku enggak bisa lihat ini sebagai new normal. Aku anggap ini cara kita berdamai dengan situasi, untuk bisa berjalan terus, dalam tanda kutip menyiasati. Normalnya manusia itu makhluk sosial, bisa gandengan bisa salaman,” kata Budiana.

“Menurut aku, kita hanya dipaksa untuk membuktikan, bahwa dunia sudah tidak berbatas. Contohnya bekerja bisa di mana saja, dari mana saja. Tapi, untuk itu perlu integritas tinggi, enggak semua orang terbiasa dengan hal itu. Apalagi bila fasilitas tidak mendukung," tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini