Ngigau hingga Teriak Bisa Jadi Tanda Awal Parkinson?

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 31 Mei 2020 03:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 30 481 2222190 ngigau-hingga-teriak-bisa-jadi-tanda-awal-parkinson-R32Fb8qDlP.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PERNAH mendengar orang berbicara saat mereka tidur? Ya biasanya kejadian ini biasa disebut dengan mengigau.

Tapi di beberapa kasus, mengigau bisa sampai melakukan gerakan memukul, menendang, atau bahkan berteriak. Ternyata, hal itu bisa menjadi pertanda adanya kelainan yang terkait dengan penyakit .

Menurut sebuah penelitian, Sleep Behavior Disorder atau RBD sangat mungkin diderita oleh para pria. Gangguan perilaku tidur ini paling sering menyerang orang berusia 50-70 tahun dan lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Neurology menunjukkan bahwa pria dengan kondisi RBD karena kekurangan dopamin. Dopamin adalah zat kimia di otak yang berguna untuk memengaruhi emosi, gerakan, dan sensasi kenikmatan serta rasa sakit. Akibatnya, penderita akan memiliki risiko terkena penyakit Parkinson atau saat berusia lebih tua.

Tidur nyenyak

Penyakit Parkinson terjadi karena kelompok sel saraf di otak yang memproduksi dopamin berhenti bekerja. “Pasien-pasien ini memiliki peradangan otak di daerah dimana sel-sel saraf penghasil dopamin ditemukan.” tutur Morten Gersel Stokholm dari Universitas Aarhus di Denmark.

Seperti dilansir dari Indianexpress, periset sebelumnya tidak sadar bahwa ada bentuk radang otak pada pasien sehingga berisiko terkena penyakit Parkinson.

Dalam penelitian ini, pasien dengan RBD yang tidak memiliki bukti klinis kerusakan akibat Parkinson, otak mereka akan dianalisis dengan menggunakan Positron Emission Tomography (PET) di Spalnyol dan Denmark.

“Temuan ini akan digunakan untuk menentukan pasien dengan gangguan tidur yang nantinya akan mengembangkan penyakit Parkinson. Pada saat bersamaan, hal ini juga bisa membantu mengembangkan obat yang bisa menghentikan atau memperlambat perkembangan penyakit.” jelas Stokholm.

(mrt)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini