Hari Tanpa Tembakau, Yuk Kenali 4 Fakta Seputar Rokok

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 31 Mei 2020 15:24 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 31 481 2222421 hari-tanpa-tembakau-yuk-kenali-4-fakta-seputar-rokok-8dEyTj0IFS.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MESKIPUN kini ruang untuk para perokok sudah dipersempit, tapi pada kenyataannya masih banyak orang merokok sembarangan. Tak jarang, mereka juga merokok sambil mengendarai motor, meskipun jelas-jelas sudah ada larangannya.

Memang, kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya merokok menjadi salah satu faktor yang membuat kebiasaan tersebut sulit dihilangkan. Ditambah lagi mitos-mitos seputar tembakau atau rokok yang sudah berkembang luas di berbagai lapisan masyarakat.

Nah, dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Okezone merangkum 4 fakta dan mitos seputar tembakau yang wajib Anda ketahui, sebagaimana disarikan dari data resmi yang dikeluarkan oleh TCSC-IAKMI.

Lebih Bahaya Mana, Asap mobil atau Rokok?

Secara umum hal itu ada benarnya, namun perlu diingat bahwa asap knalpot mobil segera menyebar di udara terbuka sementara asap rokok sepenuhnya masuk ke paru-paru, baik paru-paru si perokok maupung orang di sekitarnya.

Selain itu, asap rokok juga diklaim mengandung 4.000 bahan kimia berbahaya yang tidak terdapat pada asap mobil, 69 di antaranya masuk dalam kategori karsinogenik. Ditambah lagi, asap rokok menganduk zat-zat racun lainnya yang tidak ada pada asap mobil seperti nikotin, arsen, ammonia, dan sebagainya.

Rokok tak meningkatkan konsentrasi

Menurut mitos, merokok menimbulkan ketenangan pikiran dan meningkatkan daya konsentrasi. Faktanya, bagi perokok pemula, merokok dapat memicu rasa mual, pusing, batuk-batuk, dan mulut terasa tidak enak. Pada saat yang sama, nikotin telah mulai menyerang otaknya dan secara berangsung akan mengulangi kegiatan tersebut dan berujung pada kecanduan.

Pada tahap kecanduan inilah seseorang akan merasa gelisah, berkeringat, dan mulut terasa tidak enak kalau belum merokok. Sebetulnya mirip dengan orang yang kecanduan narkoba.

Mereka akan merasa gelisah, mengeluarkan keringat dingin, perut merasa sakit, hingga ia mendapatkan narkoba. Jadi merokok memang bisa menenangkan pada orang yang sudah kecanduan, tetapi ketenangan itu adalah ketenangan yang semu.

Indonesia adalah negara pengekspor tembakau

Negara kita memang mengekspor tembakau terutama tembakau untuk cerutu, tetapi untuk kebutuhan pembuatan rokok dalam negeri, Indonesia juga mengimpor tembakau. Berdasarkan data Ditjen Pertanian tahun 2005, nilai impor tembakau kita lebih besar daripada ekspornya sehingga Indonesia merugi hingga USD35 juta per tahun.

Indonesia diketahui mengimpor tembakau dari berbagai negara seperti Amerika, China, dan bahkan Singapura yang notabennya tidak memiliki lahan pertanian tembakau.

Rokok adalah benda modern

Menurut mitos, rokok yang berupa gulungan daun atau kertas berisi tembakau yang dibakar dan iisap adalah karya manusia modern.

Namun faktanya, menghisap rokok yang dibuat dari tembakau lalu dibungkus kulit jagung atau daun tembakau itu sendiri (seperti cerutu) sudah menjadi kebiasaan penduduk asli Peru sejak 5000 tahun S.M. Mereka melakukan sebagian bagian dari ritual untuk berkomunikasi dengan dewa atau arwah nenek moyang.

Orang-orang Eropa yang datang ke Peru di abad ke-15 biasanya akan disambut dengan upacara mengisap cerutu atau pipa, kemudian ketagihan, lalu membawa tanaman tembakau sehingga kebiasaan merokok itu tersebut di negara mereka.

Nama tembakau sendiri diduga berasal dari bahasa penduduk asli Kuba yaitu, “dattukupa” yang berarti mengisap asap. Oleh orang Eropa, kebiasaan merokok kemudian disebar luaskan hingga kawasan Afrika dan Asia.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini