Bali Contoh Penerapan New Normal di Pariwisata, Protokol Kesehatan Jadi Penting

Rabu 03 Juni 2020 09:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 03 406 2223687 bali-contoh-penerapan-new-normal-di-pariwisata-protokol-kesehatan-jadi-penting-tafmVDlMRR.jpg Ilustrasi. (Shutterstock)

SEKTOR pariwisata bersiap menghadapi era new normal dengan mematuhi protokol kesehatan. Hal ini juga membuat wisatawan harus ikut mengubah kebiasaan demi mencegah penularan corona (Covid-19).

Di era new normal, pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism dinilai sebagai aspek terpenting untuk memutus rantai penularan corona. Salah satu kebijakan yang harus dibuat adalah pentingnya protokol kesehatan di setiap daerah tujuan wisata.

bali

Plt Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Frans Teguh menjelaskan, pariwisata berkelanjutan akan menjadi pilihan dan konsekuensi dari bagian pengembangan pariwisata, setelah pandemi Covid-19. Maka ke depan, penguatan sektor pariwisata saat new normal berpusat kepada manusia.

"Basisnya pada people-centered tourism atau community based tourism yang mencakup peningkatan diversifikasi produk, pelayanan sesuai dengan kebutuhan perilaku masyarakat, pola pelayanan serta upaya meningkatkan kekuatan kearifan lokal yang akhirnya menjadi unique selling point," kata Frans Teguh saat Webinar dengan Asosiasi Profesor Indonesia (API) di Jakarta, dilansir Okezone dari Inews.id.

Dia menambahkan, tak hanya wisatawan, sumber daya manusia di bidang pariwisata juga harus diberdayakan dengan menerapkan sejumlah protokol kesehatan. Selain itu, perlu diterapkan nilai keberlanjutan domestik seperti resiliens dan kearifan lokal, serta pariwisata yang berkeseimbangan.

Lebih lanjut, Frans Teguh mengambil contoh Pulau Bali, yang diharapkan menjadi provinsi yang siap apabila dibuka sektor pariwisatanya secara bertahap. Karena relatif mulai lebih aman dan tren menunjukkan pengendalian dan penanganan krisis ini sesuai dengan protokol kesehatan dan keselamatan.

Selain itu, lantaran masyarakat Pulau Dewata memiliki kesadaran kolektif, kearifan lokal sejak lama dan tetap masih menjaga dan merawat modal sosial seperti tehadap nilai adat istiadat, tradisi, budaya, dan lingkungan. Tentu juga bagi daerah-daerah lain yang memenuhi kriteria penanganan pandemi yang masih produktif dan aman Covid-19.

“Bali menjadi model atau contoh untuk menjadi model nasional. Bagaimana masyarakatnya memiliki kesadaran kolektif yang relatif tinggi, dan selalu belajar dari krisis ke krisis, selalu masih berupaya mempertahankan keseimbangan. Bali berkembang dan bertransformasi dalam bidang pariwisata sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Jadi proses transformasi sosial dan budaya tersebut sudah menjadi kekuatan entitas social capital dan keberlangsungan kehidupan,” katanya.

Frans Teguh menjelaskan, untuk menerapkan pariwisata berkelanjutan lebih luas dibutuhkan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan pariwisata. Saat ini, para pihak pariwisata memiliki momentum untuk untuk membenahi, menata dan menyiapkan strategi dan langkah reopening atau rebound pemulihan pariwisata.

Pemerintah menawarkan konsep dan strategi untuk mengaplikasikan skema dan pola pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan parameter dan indikatornya secara komprehensif termasukan dalam upaya penanganan krisis dan aspek kebersihan, kesehatan dan keselamatan.

"Progran pariwisata berkelanjutan bukan hanya kerja sektoral, tapi harus menyeluruh baik masyarakat, pemerintah, akademisi, dan lainnya, atau yang biasa kita sebut pentahelix. Berbagai disiplin ilmu dan stakeholder harus bekerja bersama-sama dan memperbaiki asoek tata kelola, aspek ekonomi, sosial budaya dan lingkungan untuk meningkatkan daya saing, reputasi dan kepercayaan publik serta nilai keberlanjutan sumber daya kepariwisataan," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum API Prof Ari Purbayanto menjelaskan, sejak pandemi Covid-19, sektor pariwisata sangat terdampak. Oleh sebab itu API ikut memberikan sumbangsih pemikiran ide-ide dan aksi langsung. Maka, pemikiran itu bermanfaat bagi bangsa dan negara untuk masyarakat Indonesia.

“Pariwisata menjadi salah satu ujung tombak buat Indonesia. Banyak hal-hal yang perlu disiapkan di masa relaksasi sektor pariwisata ini. Masyarakat harus siap mengantisipasinya, sehingga bisa lulus menghadapi masalah yang berkelanjutan. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan sehingga Covid-19 bisa tertangani di Indonesia,” ujarnya.

Asosiasi yang berdiri pada 2007 ini merupakan organisasi profesi independen yang didukung oleh sumberdaya profesor yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Guru besar yang tergabung berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dari Aceh hingga Papua.

“Kami berharap, ide gagasan yang kami berikan bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat. Mari bersama-sama kita tuangkan ide-ide sehingga bisa menjadi rujukan dan relaksasi bagi sektor pariwisata di era kenormalan baru,” katanya.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini