Share

Perkawinan Anak Masih Marak Terjadi di Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 11 Juni 2020 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 11 196 2228453 perkawinan-anak-masih-marak-terjadi-di-indonesia-d4mxwuzsF1.jpg Pernikahan anak (Foto: Child Study)

Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Lenny N. Rosalin mengatakan, masalah perkawinan anak juga masih marak terjadi di Indonesia. Banyak orangtua yang membiarkan hak anak terlanggar dalam hal ini.

Diketahui 1 dari 9 atau 11% perempuan di Indonesia berusia 20-24 tahun menikah di usia anak (Data BPS, 2019). Selain itu, dalam hak kesehatan dasar, sebanyak 27,67% balita mengalami stunting, 16,29% dengan berat badan di bawah normal (underweight), dan 7,44% tergolong kurus (wasting) (Survei Status Gizi Balita, 2019). Di samping itu, 9,87% anak berusia 0-17 tahun mengkonsumsi kalori di bawah 1400 kkal (IPHA Kemen PPPA, BPS).

 anak harus diasuh dengan baik

“Jika melihat angka tersebut, bagaimana bisa kita menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul demi menuju Indonesia maju, apabila masih banyak anak-anak yang mengalami masalah gizi. Di sinilah pentingnya mengajak orangtua dan keluarga sebagai pengasuh untuk memenuhi gizi terbaik bagi anak-anaknya,” ujar Lenny belum lama ini.

Terkait hak pendidikan, angka buta huruf anak berusia 15 tahun ke atas di Indonesia mencapai 4,3%. Untuk rata-rata lama sekolah yaitu 8,6 tahun, padahal target yang ditetapkan adalah wajib belajar 12 tahun (Susenas BPS, Maret 2018).

 Baca Juga : Psikopat Cenderung Tak Peduli Penyebaran Covid-19

“Oleh karena itu, kita harus meningkatkan pemahaman dan kapasitas orangtua dan keluarga untuk melakukan aksi nyata dalam peran pengasuhan. Hal ini bertujuan untuk mendorong anak agar berpendidikan lebih tinggi, memiliki gizi lebih baik, menekan angka perkawinan anak, memenuhi kepemilikan akta kelahiran anak, serta memenuhi hak-hak anak lainnya,” terang Lenny.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini