3 Penyebab Kasus Positif Covid-19 di Indonesia Melonjak Drastis

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 12 Juni 2020 09:54 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 12 481 2228710 3-penyebab-kasus-positif-covid-19-di-indonesia-melonjak-drastis-gat3dlrrFn.jpg Warga mengikuti rapid tes (Foto : Arif Julianto/Okezone)

Kasus positif Covid-19 belum memperlihatkan kestabilan. Bahkan, minggu ini terjadi rekor penambahan kasus dalam 4 bulan masa pandemi.

Ya, pada Rabu 10 Juni 2020 penambahan kasus positif Covid-19 capai angka 1.241 kasus dalam 24 jam. Di hari sebelumnya, Selasa (9/6), penambahan kasus pun terbilang tinggi yaitu 1.043.

Secara akumulatif, sampai saat ini total kasus positif sebanyak 35.295 kasus, dengan 12.636 kasus sembuh, dan 2.000 pasien positif Covid-19 meninggal dunia. Jumlah kasus ODP sebanyak 43.414 kasus dan pasien PDP sebanyak 14.052 kasus.

Fakta ini membuktikan masih adanya penyebaran virus corona Covid-19 di tengah masyarakat. Karena itu, pemerintah tak henti-hentinya terus mendorong masyarakat agar menjalankan hidup bersih dan sehat sesuai protokol kesehatan. Terlebih, New Normal sudah diberlakukan di beberapa wilayah.

Terlepas dari itu semua, kenaikan kasus yang cenderung drastis seperti ini harus dicari tahu penyebabnya. Dengan begitu, pemutusan rantai penyebaran bisa dilakukan dengan tepat.

Nah, Okezone coba merangkum beberapa alasan mengapa penambahan kasus positif Covid-19 masih cukup tinggi di Indonesia. Berikut ulasannya:

1. Tes swab belum masif

Dijelaskan Pakar Epidemologi Universitas Indonesia Syahrizal Syarif, peningkatan kasus terjadi karena kemampuan tes pada masyarakat masih rendah. Karena itu, masih banyak masyarakat yang tak tahu status Covid-19 dalam tubuhnya.

"Situasi ini sebenarnya berawal dari ketidakmampuan kita melakukan tes swab yang masif. Sehingga di masyarakat banyak kasus 'asymptomatic' yang tidak diketahui," jelasnya.

Baca Juga : Sarwendah Merias Wajah Jadi Hantu, Seram Tapi Tetap Cantik

2. Pelonggaran PSBB

Syahrizal Syarif juga menyinggung kenaikan kasus yang melonjak dikarenakan pelonggaran PSBB di tengah kondisi kasus yang belum stabil. Kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan.

"Pelonggaran PSBB mengkhawatirkan terutama provinsi-provinsi dengan kasus harian di atas 100 kasus, seperti di Jawa, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Papua," tandasnya.

3. Ketidaksiapan menjalani New Normal

Penumpang KRL

Ya, alasan lain kenapa kasus positif Covid-19 masih tinggi adalah ketidaksiapan beberapa sektor jalani tatanan hidup baru atau New Normal. Bukti jelasnya bisa dilihat dari kasus penumpukan penumpang KRL.

"Judulnya New Normal, tapi kenyataannya gagal. Kita tidak siap menyambut kehidupan baru tersebut," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Indah Fitriani, Sp.PD.

Karena ketidaksiapan New Normal ini, akhirnya jaga jarak tak dijalankan dengan sebaik-baiknya. Padahal, jaga jarak menjadi salah satu kunci memutus rantai penyebaran Covid-19 antarorang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini