Fokus Covid-19, Jangan Lupa Waspada Ancaman Penyakit Metabolik

Jum'at 12 Juni 2020 17:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 12 481 2229045 fokus-covid-19-jangan-lupa-waspada-ancaman-penyakit-metabolik-NQCoPz4EPH.jpg Rebahan dan malas-malasan (Foto: Shutterstock)

Di tengah pandemi Covid-19, orang-orang harus melakukan physical distancing. Akibatnya masyarakat menjadi sering berada di rumah dan tidak aktif bergerak.

Rupanya gaya hidup tidak aktif ini juga berbahaya. Jika tidak berhati-hati, maka orang akan naik berat badannya, mengalami perut buncit. Bahkan terkena penyakit metabolik.

Spesialis Penyakit Dalam-Konsultan Endokrin Metabolik, dr. Roy Panusunan Sibarani Sp.PD-KEMD mengatakan, selain gelombang kedua Covid-19 yang diperkirakan akan muncul setelah Juni, pada saat yang bersamaan juga ada potensi gangguan kesehatan metabolik yang meningkat.

 nonton dan makan

"Pada saat terjadi pandemi, terjadi juga perubahan pola hidup, baik secara fisik, psikis, atau kehidupan sosial selama bekerja dari rumah (WFH). Semua hal itu sudah pasti akan berpengaruh terhadap kesehatan dan yang paling menonjol terhadap kesehatan metabolik," ujar dr. Roy.

Pada era Covid-19 sekarang, terang dr. Roy, semua orang terlalu fokus pada penyakit Covid-19. Artinya, penyakit-penyakit seperti serangan jantung, gula tinggi, dan hipertensi jadi seperti terlupakan.

"Hanya berfokus pada Covid-19 justru membuat orang jadi tidak awas terhadap penyakit metabolik. Padahal, penyakit metabolik itu adalah penyakit degeneratif. Di mana makin tua kita, maka makin banyak kemungkinannya untuk kena penyakit diabetes, darah tinggi, dan gangguan kolesterol," kata dr. Roy.

Gangguan metabolik sendiri adalah kelainan yang memengaruhi produksi energi di dalam sel tubuh manusia sehingga mengakibatkan gangguan pada metabolisme.

Baca Juga : Pandemi Covid-19, Dokter Reisa Ajak Masyarakat Sering Cuci Tangan

dr. Roy menjelaskan, di Indonesia diperlakukan analisa dan data, apakah setelah enam bulan pasca era Covid-19 selesai, penyakit metabolik akan bertambah? Misalnya, yang tadinya tidak diabetes jadi diabetes. Dan, dari yang sebelumnya hanya diabetes ringan, menjadi diabetes berat. Serta yang tadinya kolestrol rendah malah menjadi naik.

"Ini semua, karena pada saat WFH, mereka takut beli obat, tidak konsultasi ke dokter, dan banyak timbul kecemasan bahkan takut bertemu orang luar," imbuh dr. Roy.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini