Jangan Dianggap Sepele, Obesitas Bisa Turunkan Imunitas

Senin 15 Juni 2020 12:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 15 481 2230218 jangan-dianggap-sepele-obesitas-bisa-turunkan-imunitas-xRN8R0WLzS.jpg Perempuan obesitas (Foto: 123 RF)

Di tengah pandemi Covid-19, pemerintah berupaya memutus rantai penularan virus corona. Banyak perusahaan akhirnya memberlakukan work from hom (WFH).

Namun dengan adanya WFH dan pembatasan aktivitas, banyak orang mengalami kenaikan berat badan. Kalau berat badan sudah naik, ditambah kurang bergerak, sudah pasti yang terjadi adalah berat badan berlebih, bahkan obesitas.

Seperti dilansir dari Sindo News, obesitas jangan dianggap sepele karena merupakan penyakit. Obesitas menurunkan sistem imunitas, terlebih saat memasuki era new normal, diharapkan daya tahan tubuh tetap fit meski kasus Covid-19 masih tinggi. Imunitas yang rendah ini akhirnya berisiko meningkatkan penyakit kronis.

 obesitas

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa angka berat badan berlebih adalah 13,6%, sedangkan obesitas mencapai 21,8%. Totalnya sekitar 30%.

"Jadi, sepertiga dari penduduk Indonesia memiliki berat badan berlebih atau bahkan obesitas," kata Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Pondok Indah, Puri Indah, dr Raissa Edwina Djuanda MGizi SpGk dalam RSPI Live Webinar bertema Menjaga Berat Badan Ideal saat #dirumahaja belum lama ini.

Masih berdasarkan data tahun 2018, terdapat 31% penduduk dengan obesitas sentral. DKI Jakarta adalah urutan terbanyak provinsi dengan obesitas sentral (perut buncit).

“Satu dari lima pria berat badannya berlebih, dan satu dari tiga wanita berat badannya berlebih," terang dr Raissa.

Ini adalah akumulasi lemak di perut yang mengakibatkan peningkatan ukuran perut dan daerah di sekitar pinggang.

Lima tahun ke depan angka ini diprediksi meningkat. Obesitas sentral telah lama terbukti berkaitan dengan munculnya berbagai masalah kesehatan.

dr Raissa menekankan, obesitas termasuk penyakit kronis dan akibat yang ditimbulkan banyak, mulai otak hingga pembuluh darah, seperti diabetes tipe 2, hipertensi, kolesterol tinggi, fatty liver, kanker jenis tertentu, osteoarthritis, sleep apnea. Sleep apnea atau henti napas saat tidur, misalnya, bisa menyebabkan kematian mendadak.

Obesitas termasuk penyakit tidak menular (PTM), di mana secara global kematian akibat PTM mencapai 36 juta jiwa/tahun. Sepuluh tahun mendatang bahkan diprediksi meningkat 17%.

Lantas, bagaimana mencegahnya? Intervensi nutrisi adalah jawabannya, mencakup stop merokok, makan makanan sehat, olahraga, dan hindari alkohol berlebihan.

"Untuk mengetahui siapa yang berisiko terkena PTM bisa dilihat dari indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar pinggang. Lebih dari 80 cm (wanita) berisiko PTM, sedangkan pria lebih dari 90 cm," terangnya.

Baca juga: Jangan Lakukan Kebiasaan Ini di Kamar Mandi, Bahaya bagi Kesehatan!

Tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, fungsi hati dan ginjal, serta gejala klinis adalah parameter lain untuk menentukan apakah berisiko PTM.

Dr Raissa menambahkan, untuk sukses diet sebetulnya tidak sulit. Kuncinya terletak pada makanan, olahraga, gaya hidup sehat. Ketiganya tidaklah instan, tetapi harus diulang.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini