3 Cara Mengatasi Serangan Panik, Apa Saja?

Jum'at 19 Juni 2020 04:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 18 481 2232467 3-cara-mengatasi-serangan-panik-apa-saja-IaeSg95yRL.jpg Serangan panik (Foto: Health Essentials)

Saat menghadapi suatu masalah yang tiba-tiba datang, kadang-kadang seseorang bisa mengalami serangan panik atau panic attack. Namun sejatinya serangan panik bisa diatasi.

Serangan panik bisa diatasi misalnya dengan menerapkan teknik pernapasan tertentu, terapi, hingga obat.

panik

Seperti dilansir dari Sindo News, ini berbagai cara untuk mengatasi serangan panik. Simak ya!

1. Mengatur pernapasan

Saat tiba-tiba ada serangan panik, maka cobalah untuk rileks. Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan menarik napas yang dalam, kemudian keluarkan secara perlahan.

Cara ini dapat menstimulasi saraf vagus, yang kemudian mengaktivasi parasympathetic nervous system sehingga napas Anda akan kembali normal. Detak jantung yang tadinya cepat pun akan berangsur melambat.

Intinya, ketika serangan panik terjadi, stabilkan pernapasan maka Anda akan baik-baik saja. Cara ini juga efektif untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang kerap diasosiasikan dengan serangan panik.

2. Pakai terapi dan obat

Memakai terapi dan obat bisa membantu mengatasi panic attack. Cognitive behavioral therapy (CBT) dan mindfulness-based cognitive therapy dianggap efektif untuk mengatasi panic attack ataupun panic disorder.

Pada CBT, pasien secara perlahan bakal diperkenalkan pada hal-hal yang mungkin memicu kecemasan mereka. Obat juga demikian. Dengan bantuan ahli serta pengobatan yang tepat, penderita panic attack akan mampu mengontrol rasa cemas mereka.

3. Jangan merasa sendirian

Panic disorder sangat bisa diobati. Para ahli akan menyusun program perawatan buat si penderita panik, atau mengembangkan metode perawatan untuk menemukan cara yang paling cocok untuk penderita. Hal yang perlu diingat, penderita panic attack ataupun panic disorder ini tidaklah sendiri. Selalu ada orang yang mau membantu mereka.

Sebaliknya, penderita juga tak boleh menyimpan kegelisahannya sendiri. Mereka harus mau berbagi cerita dengan orang lain. Semakin sering berbagi, akan semakin banyak pula sumber yang bisa mereka temukan untuk memperoleh pertolongan.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini