Awas, 3 Gejala Ini Bisa Pengaruhi Risiko Diabetes hingga Hipertensi

Sindonews, Jurnalis · Kamis 18 Juni 2020 21:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 18 481 2232581 awas-3-gejala-ini-bisa-pengaruhi-risiko-diabetes-hingga-hipertensi-XQmY9xY20N.jpg Ilustrasi (Foto : News Medical)

Seiring bertambahnya usia, risiko terhadap berbagai penyakit tentu bisa meningkat. Karenanya, penting bagi Anda menjalani pola hidup sehat sejak usia muda.

Beragam penyakit menular seperti diabetes, jantung, hipertensi hingga stroke memang mengintai seiring bertambah tuanya usia Anda. Penyakit-penyakit tersebut bisa diidap tanpa Anda sadari, meski hanya memiliki tiga gejala.

Adapun gejala yang disebut sebagai sindrom metabolik ini berupa high blood triglycerides, high normal or high blood presurre, big waist, borderline or high blood glucose atau gula darah dan low blood high density lipoprotein.

Dikutip dari Sindonews.com, sindrom metabolik sendiri bukan penyakit, melainkan sebuah serangkaian gejala atau serangkaian penanda menuju penyakit degeneratif.

Cek Gula Darah

"Banyak yang enggak tau sebetulnya sebelum penyakit kronis sebetulnya ada ibaratnya jembatan dulu atau kondisi perantara disebut sindrom metabolik. Minimal kita punya tiga penanda tersebut berati kita sudah termasuk kategori gangguan sindrom metabolik," kata Certified Nutrition and Wellness Consultant Nutrifood, Moch Aldis Ruslialdi SKM CNWC saat Nutriclass yang dikutip dari Sindonews.com.

"Kalau kita udah masuk gangguan sindrom metabolik dalam hitungan tahun, sangat bisa peluangnya kena penyakit kronis atau degeneratif, diabetes, jantung, stroke, darah tinggi. Jadi ini kondisi perantaranya. Semakin banyak penandanya, semakin cepet kita sampai ke penyakit kronis tadi. Sindrom metabolik itu lampu kuningnya," sambungnya

Gejala-gejala tersebut dijelaskan Aldis dapat menyerang siapa saja, termasuk mereka yang memasuki usia produktif. Biasanya, kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan secara perlahan. Seperti halnya, lingkar perut yang menandakan obesitas central atau buncit bukanlah hal positif. Perut buncit sendiri menunjukkan adanya gangguan metabolisme pada tubuh.

"Kondisi tadi itu real. Apalagi orang-orang usia produktif sangat mungkin kena. Kaya triglesida tinggi itu enggak tiba-tiba tinggi. Itu pasti akan ada prosesnya, tekanan darah juga, lingkar perut juga. Enggak mungkin bangun tidur tiba-tiba perut buncit, kecuali kembung. Kalo lingkar perutnya membesar itu pasti ada prosesnya," jelasnya.

Baca Juga : Gara-Gara Kentut, Pria Ini Didenda Rp8 Juta!

Sementara itu, di antara semua gangguan sindrom metabolik ini disebabkan oleh obesitas atau kegemukan yang menjadi benang merah. "Jadi ibaratnya dengan obesitas punya peluang yang besar untuk semua gangguan sindrom metabolik. Gula darah, tekanan darah, trigliserida yang tinggi hubungannya sangat erat dengan obesitas," imbuh dia.

Beruntungnya, gaya hidup sehat diungkapkan Aldis dapat membantu mencegah kondisi ini. Di sisi lain, mengingat gejala ini terjadi secara berproses, maka penting untuk melakukan pencegahan sedini mungkin. Selain itu, penting juga untuk mengontrol berat badan yang sudah terbukti manfaatnya dapat menurunkan risiko berbagai macam penyakit.

"Penelitian terbaru menunjukkan dengan kita mengontrol berat badan, istilahnya nurunin nih berat badannya dari lebih ke semakin normal, turun 5% aja bisa memperbaiki seluruh profil gangguan sindrom metabolik," tandasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini