Menyoal Gizi Buruk di Tengah Pandemi, Paket Sembako pun Minim Makanan Bergizi

Sindonews, Jurnalis · Rabu 24 Juni 2020 16:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 24 481 2235687 menyoal-gizi-buruk-di-tengah-pandemi-paket-sembako-pun-minim-makanan-bergizi-pIk0XRBbQ2.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) gizi buruk di Indonesia ditangani dengan serius. Oleh karena itu dia pun menargetkan prevelensi stunting di Indonesia mencapai angka 14 persen di 2024.

Pasalnya, angka stunting di Tanah pada 2019 masih sebesar 27,7%. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas sendiri menargetkan di angka 19 persen, lebih rendah dari standar WHO sebesar 20%.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Kondisi ini disebabkan oleh banyak hal, antara lain faktor gizi buruk, kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi, praktik pengasuhan yang tidak baik, serta minimnya akses air bersih dan sanitasi.

Namun, data WHO menyebut di masa pandemi COVID-19 terdapat tambahan 700.000 anak mengalami stunting karena pertumbuhan ekonomi turun 1%.

stunting

Baca Juga: Pentingnya Edukasi Gizi Anak untuk Cegah Stunting

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Dra. Chairunnisa, M.Kes, mengatakan banyak masyarakat yang masih rendah edukasi soal gizi. Contohnya kebiasaan memberikan anak susu kental manis.

Dari hasil survei yang dilakukan YAICI tahun 2019 di Aceh, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Utara dengan 2.700 responden ibu balita, terungkap bahwa 1 dari 3 ibu beranggapan kental manis adalah susu.

"Sebanyak 37% responden percaya susu kental manis/krimer kental manis (SKM/KKM) adalah produk minuman yang menyehatkan anak," bebernya seperti dilansir dari SINDOnews.

Sementara dari observasi lapangan pada 161 minimarket dan supermarket di Jabodetabek tahun 2020, terlihat bahwa 62,7% produk kental manis masih diletakkan di satu tempat dengan produk susu untuk bayi, dewasa, susu UHT, dan susu cair lain. Sedangkan 37,7% sudah meletakkan produk itu di satu tempat dengan produk kopi, teh, dan sereal.

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat, SE, MM menyebutkan, SKM adalah gula beraroma susu. "Dari survei yang dilakukan YAICI tahun 20l8, SKM bahkan memakan korban," kata Arif.

Survei yang dilakukan di Batam dan Kendari menunjukkan, ada anak yang menderita gizi buruk bahkan sampai meninggal dunia akibat hanya mengonsumsi SKM. Masalahnya edukasi bahwa SKM bukanlah susu belum sepenuhnya didukung pemerintah.

Terbukti dalam paket sembako yang diberikan, masih terselip SKM. "Di sembako yang diberikan di masa COVID-19 ini, ada SKM. Padahal SKM mengandung gula 50% lebih," imbuh Arif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini